
Habibi membawa istri dan anak-anaknya ke sebuah restoran. Mereka akan makan di restoran yang menjadi pilihan kedua anak-anak itu. Sebelumnya Habibi sudah memerintahkan agar Rio menjemput istri serta anaknya, mengingat pengawal pribadinya itu sudah lebih 2 minggu ikut dengannya.
Senyum kecil di wajah Rangga tidak pernah hilang saat Rangga bercerita bersama dengan Vira. Rangga begitu sangat bersemangat saat mendengarkan Vira bercerita.
"Selama di sana apa saja yang Shavira lakukan?" tanya Rangga.
Vira tersenyum memandangnya.
"Di sana itu masih Desa udaranya enak sejuk. Vira sering jalan sama Om Ardi. Kami pergi masuk rumah hantu. Sewaktu di dalam rumah hantu aunty Aisah menendang hantu-hantu gadungan. Rangga tahu nggak ternyata yang jadi hantu itu siapa?' ucap Vira yang begitu bersemangat.
"Siapa?" tanya Rangga.
"Ternyata yang jadi hantu-hantu gadungan itu namanya Om Dodi. Om dodi itu salah satu pekerja di rumah opa Handoko. Om Dodi itu juga ternyata temannya aunty Aisah," ucapnya Sambil tertawa. Vira tidak tahan menahan rasa sakit di perutnya saat mengingat peristiwa yang terjadi tersebut.
Rangga ikut tertawa bersama dengannya.
"Apa alasannya aunty nAisah menendang itu hantu," ucap Rangga.
Vira tersenyum kemudian ia menutup mulutnya. Waktu itu hantunya muncul tiba-tiba dan hantu itu ingin mendekati Vira dan Vira menjerit ketakutan. Dengan kemampuan yang aunty Aisah miliki, tidak sulit bagi aunty Aisah menendang hantu-hantu gadungan itu untuk melindungi Vira. Aunty menendang hantu tersebut hingga terpelanting. Waktu itu Vira dengar kuntilanak dan juga pocong merintih kesakitan," ucapnya Sambil tertawa. Ia begitu sangat bangga memberi tau kehebatan aunty nya.
Rangga tertawa mendengar cerita Vira. "Saya bisa membayangkan nya. Bila saya ada di sana, sudah pasti saya akan melakukan hal yang sama," ucapnya yang memegang tangan Vira.
" Iya, tapi Vira jadi kasihan lihat hantunya.
Pada akhirnya om Ardi bawa Vira sama aunty keluar dari rumah hantu karena takut hantu nya masuk rumah sakit," ucap Vira.
Kedua anak itu tidak ada henti-hentinya bercerita panjang lebar.
Arum dan Habibi hanya tersenyum saat mendengar kedua anak itu bercerita.
"Terus apa lagi?" tanya Rangga yang masih tampak begitu sangat penasaran.
"Kami main lempar gelang peraturannya kalau gelang-gelang itu masuk ke nomor yang memiliki hadiah, maka hadiahnya akan kami bawa pulang," ucap Vira.
"Apa dapat?" tanya Rangga penasaran.
Vira menganggukkan kepalanya. "Aunty Aisah bikin yang jual marah," ucapnya.
"Kenapa?" tanya Rangga.
"Setiap nomor yang memiliki hadiah besar selalu dapat sama aunty Aisyah. Aunty Aisah membidik nomor tersebut dan kemudian melempar gelang itu dan dapat. Sebenarnya Vira yang minta aunty yang ambil nomor yang memiliki Hadia besar. Aunty nurutin Vira," ucapnya.
"Terus?" tanya Rangga
"Yang tersisa hanya hadiah-hadiah kecil seperti ember-ember plastik gitu," ucap Vira
Rangga tertawa saat mendengar ucapannya.
"Aunty hebat dan keren," ucapnya.
"Bukan cuman aunty yang menghabiskan hadiah mereka Mimi juga," ucap Vira.
__ADS_1
Rangga memandang Arum yang sejak tadi tersenyum memandangnya.
"Bagaimana ceritanya?" Ucapnya yang begitu sangat antusias saat mendengar cerita tentang wanita yang sangat disayanginya.
"Waktu kami ke pasar malam Vira minta main gelang. Mimi dengan mudah nya memasukkan gelang-gelang itu ke nomor yang memiliki Hadia yang besar. hadiah-hadiah yang terpajang di sana semuanya di bawah Mimi pulang. Mobil pipi sampai nggak muat sama hadiah," ucapnya Vira sambil tertawa.
"Dokter Arumi sangat hebat," ucap Rangga yang memandang Arum.
Arum tersenyum saat mendengar ucapan Rangga tersebut.
"Jadi Mana hadiahnya?" tanya Rangga Yang penasaran ingin melihat hadiah yang mereka dapatkan.
"Hadiah-hadiahnya diberi mimi dan juga pipi untuk door prize acara pesta aunty. Warga di sana begitu sangat senang saat mendapat hadiah-hadiah yang banyak itu," ucap Vira yang menyebutkan hadiah-hadiah apa saja yang mereka dapatkan.
Rangga tersenyum saat mendengar Vira bercerita, namun terselip rasa sedih dalam hatinya. Setiap apa yang diceritakan Vira bisa tergambar di dalam pikirannya. Setiap mendengar cerita satu persatu yang disampaikan oleh Vira. Ingin rasanya ia ikut serta pada saat itu. Sebagai seorang anak yang berusia 5 tahun, rasa ingin di sayangi dan di cintai begitu sangat dibutuhkan nya. Ia ingin merasakan kasih sayang dari sebuah keluarga yang utuh.
Habibi dan Arum hanya tersenyum ketika melihat kedua anak itu sangat asyik bercerita.
mobil yang dikemudikan Rio sudah sampai di sebuah restoran yang menjadi tempat tujuan mereka.
"Sudah ayo turun, kita sudah sampai. ceritanya nanti disambung," ucap Arum.
Rangga dan Vira tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.
Habibi menurunkan kedua anak itu dari dalam mobil. kedua anak itu begitu sangat senang saat keluar dari dalam mobil.
"Selama di sana Vira nggak pernah masuk restoran. Terkecuali kalau pas keluar ke Semarang," ucap Vira sambil tersenyum memandang Rangga yang memegang tangannya.
Habibi memandang istrinya. Matanya kembali tertuju kearah anak-anaknya.
"Mereka sangat dekat," ucapnya.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tapi Rangga nggak mau jadi Adek," ucapnya.
Habibi menggelengkan kepalanya. "Bukan Rangga namanya kalau nggak sok besar," ucapnya.
Mereka masuk ke dalam restoran, Maya dan juga Aqila sudah duduk di kursi yang mereka pesan.
"Kak Vira," suara Akilah yang memanggilnya.
Vira tersenyum dan kemudian mengembangkan tangannya saat melihat Akila yang melompat dari tempat duduknya.
"Kila rindu Kak Vira,"ucapnya yang memeluk Vira.
"Kak Vira juga," ucap Vira sambil tersenyum.
Rangga yang berdiri di samping Vira hanya diam memandang Akila.
Arum dan Habibi sudah duduk di kursi yang mereka pesan. Mereka membiarkan anak-anak itu saling melepas rindu setelah beberapa minggu tidak bertemu.
"Adek Akila Apa kabar?" ucap Rangga yang memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Rangga terlihat seperti orang besar saat berbicara. Gaya nya yang cool Dan juga sombong sudah menjadi ciri khasnya.
__ADS_1
Akila tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "kabar Kila baik, bagaimana kabar Rangga," Ucapnya.
"Baguslah kalau kabar adek Akila baik. Kabar aku seperti yang adek Akila lihat," ucap nya yang mengembangkan tangannya yang menunjukkan bahwa dirinya begitu sangat baik.
Akila diam saat mendengar ucapan Rangga.
"Ayo Savira kita duduk," ucapnya yang mengajak Vira.
Akila masih berdiri di tempatnya. Awalnya Ia sudah senang ketika Rangga menanyakan kabarnya. Namun ternyata anak laki-laki yang selalu bergaya sok ganteng itu tidak ada berubahnya. Sikapnya begitu sangat menyebalkan.
Akila menghentak-hentakkan kakinya dan kemudian mengikuti rangga dan Vira dari belakang dengan bibir kecil yang runcing ke depan.
Vira berhenti dan kemudian menjulurkan tangannya ke arah Akila.
Mereka berjalan sambil berpegangan tangan.
menunjukkan kursi meja makan tersebut. Rio mengangkat anak-anak itu satu persatu untuk duduk di atas kursi.
"Kak Maya bentar lagi," ucap Arum ketika melihat perutnya yang sudah besar.
Maya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sudah berapa bulan kak?" tanya Arum.
"Masuk bulan ke 8," jawab Maya yang mengusap perutnya.
"Ara lagi hamil, Kak Eka juga lagi hamil. Cuma Arum yang belum. Kapan Arum ikutan nular nya," ucapnya yang memajukan bibirnya.
"Maya tersenyum memandangnya. "Arum sabar banyak-banyak usaha," ucapnya sambil tersenyum.
"Sudah kebanyakan Kak ," ucap Arum yang berbisik di telinga Maya.
Maya tertawa saat mendengar ucapan Arum tersebut. "Sekarang pinggang kakak sakit. Sakitnya minta ampun," ucap Maya yang memegang pinggangnya.
"Iya sih, yang namanya hamil pasti gitu," ucap Arum.
Habibi bercerita bersama dengan Rio mereka hanya tersenyum sambil mengamati tingkah tingkah dari anak-anak mereka.
Adek akila mau apa?" ucap Rangga yang begitu sangat manis.
Akila memandangnya. "Kila mau puding" ucapnya yang memandang puding rasa buah tersebut.
Rangga naik ke atas kursi dan mengambilkan puding tersebut. Ia meletakkan puding tersebut di depan Akila dan kembali duduk.
Aqila memandangnya dengan tatapan tidak suka. Aqila tahu sikapnya akan berubah begitu sangat baik bila berada dekat pipi dan miminya. "Dasar bunglon," ucap nya dalam hati sambil memasukkan puding yang ada di sendok ke dalam mulutnya.
****
Jangan lupa like, komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungannya.
😊😊🙏🙏
__ADS_1