
Rio merebahkan tubuhnya di lantai keramik rumah nya. matanya masih memandang maya dengan kening yang masih berkerut. Ia melihat Maya yang tampak biasa saja. tidak tampak gadis itu kelelahan setelah berkeliling di pasar tanah Abang yang begitu luasnya. gadis itu terlihat begitu santai dan masih tetap bugar. Maya sibuk mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam mobil.
"Mas pasangin kompor gas." ucap Maya yang memegang regulator gas di tangannya.
" Bentar yang masih capek banget kaki mas pegel sekali ini pijitin yang, " pinta pria itu.
" Pasangin kompor gas nya dulu, Maya mau buat kopi. ucap nya yang masih berdiri di tempat yang sama.
Rio mengangkat kedua tangannya. " tarik yang, berat sekali ini mau duduk," ucap nya.
Maya mendekati pria tersebut. ia kemudian menarik tangan Rio. namun pria itu malah menarik nya hingga tubuhnya terjatuh di atas tubuh Rio.
"Mas mau apa,? tanya Maya saat hidung mancung pria itu sangat dekat dengan
Dengan wajah nya. Maya merasa hembusan nafas pria tersebut menyapu wajahnya. jantungnya berdetak begitu kuat. Rio hanya menatap nya.
" Enak nya di apain?" ucapnya dengan senyum tipis di bibirnya.
" Lepasin Mas," ucap Maya tanpa melihat pria yang sedang mendekap tubuhnya.
" Cium dulu banyak-banyak baru di lepasin," ucap Rio yang masih terus mengoda gadis tersebut.
" Gak mau," ucap Maya.
" Mau mas yang nyium?" ucapnya memberikan pilihan membuat gadis itu semakin salah tingkah.
Rio menarik tengkuk leher Maya. Ia kemudian menempelkan bibirnya dengan bibir Maya.
bukan hanya sekedar menempel kan bibir mereka, ia semakin ******* bibir gadis tersebut. Ia mengingat bibir bawah Maya yang tipis sehingga bibir gadis itu sedikit terbuka. Ia menyelipkan lidah nya ke dalam bibir Tersebut. mata Maya terbuka saat ia merasa lidah pria itu mengisi ruang mulutnya. Ia ingin Manarik wajah nya namun Rio semakin menekan tekuk lehernya sehingga ia tidak bisa melepaskan ciuman tersebut.
cukup lama Rio menikmati bibir kecil gadis itu, dan kemudian ia melepaskan nya saat di lihatnya Maya yang sudah sulit bernafas.
setelah melepaskan bibir mereka, Ia membiarkan Maya untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin, Ia membiarkan gadis itu mengatur nafasnya.
matanya masih terus menatap maya.
" Ini ciuman pertama kamu?" ucapnya sambil mengerutkan keningnya,"
Maya hanya diam saat mendengar kan Ucapan Rio.
" Kenapa gak di jawab?" tanya pria itu kembali.
selama ini Ia belum pernah mencium gadis tersebut.
Dengan sedikit ragu Maya mengangukan kepalanya. Rio tampak begitu senang. ia kemudian meluk tubuh gadis tersebut.
" Pantas kaku , " ucapnya.
__ADS_1
Maya memukul dadanya. " Maya belum pernah dekat sama siapapun," ucapnya kemudian
Rio tersenyum. " Gak apa nanti di ajarin, " ucap Rio sambil menatap wajah gadis tersebut. Ia tidak menyangka, gadis secantik Maya tidak pernah pacaran.
wajah gadis itu merona saat mendengar ucapan Rio.
" Mas udah bisa di lepasin gak." ucap Maya saat Rio masih memeluk nya
Pria itu tertawa, kemudian melepaskan pelukannya. Maya merapikan rambutnya yang kusut.
" Pasangin mas," ucapnya sambil menunjukkan reguler gas yang masih di tangan nya. dengan wajah tertunduk tanpa berani melihat Rio.
"Kenapa?" tanya Rio saat gadis itu tampak begitu malu.
Maya hanya diam tanpa menjawab nya.
Rio kemudian duduk. Ia mendekatkan bibirnya ke telinganya Maya. " nanti kalau sudah Syah, akan lebih dari itu," membuat Maya mihat nya. Ia tertawa dan kemudian mengambil regulator gas yang di pegang Maya.
Rio berjalan ke dapur, berencana untuk memasang gas namun ternyata gas dan kompor nya tidak ada tempat kompor.
" Yang, tabung gas dan kompornya mana?" tanya pria itu sambil membesarkan suaranya agar terdegar oleh maya yang masih di ruang tamu.
" Di mobil belum diturunkan, berat soalnya mas," ucap Maya yang sudah berdiri di dekat Rio.
" Kenapa gak ngomong sih dek," ucap pria tersebut sambil mencubit hidung mungil gadis tersebut.
Rio hanya tersenyum dan kemudian melihat gadis tersebut. ia berjalan menuju mobilnya.
******
" Mau ikut ke kantor gak?" ucap habibi ketika ia menemani istrinya jalan pagi setelah sholat subuh.
Arum tampak begitu senang saat Ia mendengar ucapan suaminya. " Apa boleh mas? " tanya nya kemudian. Ia begitu bosan selalu di rumah semenjak Ia cuti dari kampus, Ia lebih sering di rumah. Ia akan ke rumah sakit nya bila ada hal penting. suaminya sudah mulai membatasi kegiatan nya mengingit usia kehamilan nya yang sudah memasuki bulan ke depan.
Habibi tersenyum melihat istrinya, pria itu mengangukan kepalanya.
mereka berjalan di depan halaman rumahnya.
" Apa sudah capek? " tanyanya setelah kurang lebih 20 menit mereka berjalan-jalan di taman rumah nya.
Arum mengangukan kepalanya." sudah," jawab Arum.
Mereka duduk di atas rumput, Arum meluruskan kakinya. pria tersebut menjatuhkan kepalanya di atas paha istrinya, ia mengarahkan kepalanya di depan perut istrinya. Ia kemudian mencium perut istrinya.
" Mas udah gak sabar nungguin suara tangisnya," ucap pria tersebut.
Tangan Arum memainkan rambut suaminya.
__ADS_1
" sayang pipi sudah capek?" ucap habibi sambil mengusap perut istrinya.
Arum hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya.
" Mas lari sebentar ya," ucap Habibi sambil duduk.
Arum mengangukan kepalanya.
Habibi mulai berlari mengelilingi taman tersebut. Ia berhenti setelah beberapa kali mengelilingi taman.keringnya sudah mulai membasahi tubuhnya. ia membuka jaket yang di pakai nya. ia duduk di depan istrinya. Arum mulai memeluk suaminya ia membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya. pria itu memeluk istrinya.
" Setiap pagi mas harus keluar kan keringat gini untuk di peluk," ucapnya yang tidak di jawab istrinya. kalau sudah seperti ini, istrinya tidak akan melepaskan nya, sampai benar-benar puas memeluk nya dan mencium aroma tubuh suaminya.
" manja sekali sayang, ini yang manja miminya apa bayinya?" ucap pria itu sambil mengusap punggung istri nya. dua-duanya Jawab Arum sambil mengangkat wajahnya dan memandang suaminya dan tersenyum dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
sudah hampir satu Minggu ini istrinya begitu suka mencium aroma tubuh nya yang berkeringat. setiap kali Ia pulang dari kantor, istrinya tidak langsung membuatkan nya kopi atau teh seperti biasa. istrinya akan memeluknya tanpa membiarkan Ia membuka baju, apa lagi mandi. setelah puas mencium aroma tubuhnya barulah Ia bisa mandi.
Pria itu akan memanfaatkan kesempatan tersebut. untuk mencium istrinya.
" Sudah sayang," ucapnya kemudian.
Arum mengangukan kepalanya. Ia membawa jaket suaminya. mereka masuk ke dalam rumah. Arum mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar. Habibi ke kamar mandi setelah melepaskan baju nya dan menaruhnya ke dalam keranjang.
Arum memilih baju yang akan di pakai suaminya. setelah memilih baju kemeja jas dan dasi yang senada dengan kemeja yang di ambil nya. Ia juga meletakkan pakaian dalam suaminya. Ia kemudian membuka bajunya dan memakai handuk. menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.
Arum melihat habibi yang sudah selesai mandi dengan rambut yang basah ia mendekati istri nya yang hanya memakai handuk.
" Mas mau apa?" tanyanya saat suaminya sudah menjatuhkan handuk nya.
Habibi mengendong istrinya yang sudah tidak ringan, " Hari ini mas gak ada pertemuan penting, mas akan ke kantor jam 9. ucapnya sambil meletakkan istrinya dengan sangat pelan di atas tempat tidur.
" Tapi mas."
" Sesuai saran dokter dek, harus lebih sering agar lebih mempermudah proses persalinan secara normal. mas akan berusaha membantu agar persalinan nanti lebih muda. ucapnya yang selalu membuat istrinya tidak mampu untuk menolak nya. dan pagi hari ini pria itu menjalani dua olahraga sekaligus.
mereka mandi berdua. dan kemudian bersiap-siap untuk ke kantor.
mereka menghabiskan sarapannya bersama.
******
Maaf ya reader baru up.
author minta like komen dan vote nya ya.
author udah berulang kali ingin memastikan visual Maya dan Rio. tapi gagal terus.
yang penasaran author akan kirim ke chat author aja ya.
__ADS_1