
Saat menuju ke rumah sakit pikiran Jhoni sangat tidak tenang. “Bagaimana bisa Arum kritis?
Apa yang terjadi?” Jhoni bertanya dalam hatinya. Jhoni tidak sanggup untuk membayangkan apa-apa.
Jhoni sampai di rumah sakit. Ia melihat Habibi yang terlihat sangat kacau dan kusut. Ia juga melihat Rasid yang hanya duduk terdiam Dan satu orang pemuda yang tampak duduk dengan menundukkan kepalanya.
Jhoni berlari mendekati Habibi.
“Pi.” Habibi memeluk tubuh sang papi dengan suara begetar. Ia menagis di pundak sang papi. Habibi yang tidak mau terlihat rapuh dan lemah Tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat melihat sang papi.
Jhoni menepuk pundak anak kesayangannya dengan sangat pelan. “Kamu harus sabar, banyak berdo’a semoga Arum baik-baik saja.”
“Udah hampir satu jam Pi. Dokter belum ada yang keluar.” Habibi masih menagis di pundak papinya.
“Ada apa? Kenapa bisa Arum kritis.” Jhoni mulai bertanya saat dilihatnya putranya sudah mulai tenang.
Rasid mendekati Jhoni. Melihat Habibi yang tidak mampu untuk berbicara, Rasid mencoba untuk menjelaskan. “Kami sudah ditunggu di restoran tempat kami membuat janji ketemu sama klien pak.”
“Bagaimana bisa?”
“Kami sampai di restoran tersebut dan ternyata Arum dan teman-temannya sedang di restoran ingin makan. Arum melihat kami masuk ke dalam restoran Langsung menghampiri kami pak. Saat kami mau menuju ruang VIP yang sudah kami pesan, Arum mengatakan bahwa kami sudah diintai. Jumlah mereka sangat banyak. Kami duduk bergabung di meja Arum dan teman-temannya.” Rasid menceritakan semuanya kepada Jhoni dan Herman berada di samping Jhoni ikut fokus mendengarkan cerita yang di sampaikan Rasid. Jhoni sangat marah dan merinding membayangkannya. Bagaimana kalau sempat Arum tidak ada di sana. Sudah pasti mereka akan langsung dibunuh di ruang VIP yang tertutup. Membayangkannya saja Jhoni sudah ngeri.
“Kami bisa keluar dari restoran tersebut, karena teman Arum yang datang menyelamatkan kami. Kami naik ke mobil teman Arum tersebut. Entah bagaimana, teman Arum kembali ke restoran tersebut.” Rasid melanjutkan penjelasannya.
Jhoni melihat anak muda yang duduk sendiri dengan menundukkan kepalanya.
“Apa pemuda itu,” tanya Jhoni.
“Iya Pi.” Jawab Habibi.
“Siapa dia?”
“Ardi Pi. Teman Arum dari kecil. Sekarang menjadi senior Arum dikampusnya.”
__ADS_1
Habibi melihat Ardi, Ardi Tampak sangat tenang di tengah kecemasan serta ketakutannya. Jhoni mendekati Ardi.
“Gimana kabar nak Ardi,” tanya Jhoni.
“Saya baik pak.”
Jhoni memberikan tangannya Ardi menyambut tangan Jhoni.
“Saya Jhoni, papi Habibi.”
Ardi mengangguk kan kepala.
“Terima kasih nak.”
“Iya pak.”
“Bagaimana kamu bisa kembali lagi kerestoran tersebut,” tanya Jhoni. “Padahal kamu sudah meninggalkan restoran itu.”
“Saat saya mau keluar saya dengar salah satu dari mereka menelepon. Saya sengaja mendekati tempat meja kasir tersebut untuk mendengarkan dengan jelas. Saya mengatakan bahwa saya minta pesanan saya dibungkus dan membayar langsung. Saya mendengar bahwa orang itu akan mastikan bahwa mereka akan mati dan tidak akan keluar dari restoran tersebut.” Jelas Ardi.
“Gak pak.”
Terlihat Sasa berjalan mendekati mereka. Sasa langsung mendekati Habibi dan Rasid. “Gimana kabar Arum pak?”
“Belum tau Sa. Dokter belum keluar.”
Sasa diam ia masih shock dengan peristiwa tersebut. Namun kemudian apa yang di sampaikan Sasa membuat Habibi dan Rasid jadi bengong.
“Saya sudah telpon pak Hendra membatalkan pertemuan kita. Dia berjanji akan mengatur ulang pertemuan.”
Rasid sampai bengong. Dalam kondisi seperti ini Sasa masih ingat perannya sebagai sekretaris. Padahal mereka sudah tidak ada yang mengingat tentang pertemuan yang tertunda tersebut.
Anita datang bersama dengan Siti. Anita tampak panik. Pertanyaan yang ada dikepalanya, sama dengan yang ada di kepala Jhoni. Bagaimana bisa Arum kritis. Apa yang terjadi. Bukankah Arum kuliah. Air mata Siti tak henti-hentinya mengalir di pipinya. Ardi yang melihat Anita dan Siti kemudian mendekat.
__ADS_1
“Ibuk,” Ardi langsung menyalami Anita.
“Ardi,” jawab Anita. “Ada apa sebenarnya ini,” tanya Anita.
“Saya kurang tahu pastinya buk. Mungkin pak Habibi dan mas Rasid bisa menjelaskan.”
Ardi memeluk Siti. Ia menagis di pelukan wanita tersebut. Ardi membawa Siti duduk di kursi tunggu tersebut dengan tangan yang masih di pundak Siti.
Polisi yang masih menjaga di rumah sakit mendekati Habibi. Polisi berusaha untuk menanyakan tentang kejadian tersebut. Mendengar penuturan dari Rasid, Polisi tersebut seperti mendengar film laga. Namun polisi tersebut masih mempertanyakan bagaimana gadis yang masih berusia 19 tahun bisa mengetahui bahwa mereka sudah di intai. Mendengar yang disampaikan Rasid bahwa Arum mengatakan pelayanan restoran tersebut bukan pelayan yang asli melainkan bagian dari penjahat tersebut, membuat polisi muda itu mengirim anggotanya untuk mengecek restoran tersebut. Laporan dari anggotanya membuat ia terkejut. Anggotanya mengatakan bahwa seluruh karyawan dan pemilik restoran diikat dan dikurung di lantai 3 restoran. Sosok Arum yang saat ini dalam kondisi kritis, benar-benar menarik perhatian polisi muda tersebut. Rumah sakit dijaga ketat polisi.
Anita duduk di sebelah Habibi dan juga Jhoni. Setelah mendengar bagaimana peristiwa tersebut Anita seakan shock. Benar-benar tidak tahu bagaimana kalau tidak ada Arumi di sana. Melihat kondisi Arum yang sampai saat ini belum di ketahui membuat Anita merasa sangat cemas. Air matanya menetes dan kemudian Anita menghapusnya.
“Mami kenal Ardi,” tanya Habibi.
“Iya kenal. Mahasiswa mami. Kamu baru kenal?”
“Iya mi. Bibi baru jumpa tadi.”
“Saingan berat kamu tuh. Orangnya ganteng, pintar, baik dan...”
“Udah mi gak usah di teruskan.”
Anita hanya senyum.
Habibi hanya diam. Baru semalam ia memasangkan cincin dijari gadis yang dicintainya. Sekarang gadisnya sedang berjuang untuk hidup. Bayangan bagaimana gadis itu melindunginya hingga tangannya terlalu. Bagaimana gadis itu sudah bersikap manja di depannya. Mengingat semua itu membuat hati Habibi semakin sakit.
Lamunan Habibi langsung buyar saat melihat perawat yang keluar dari ruangan operasi tersebut. Habibi langsung mengejar perawat tersebut.
“Bagaimana kondisinya sus?” Habibi bertanya kepada perawat tersebut.
“Maaf pak pasien masih di tangani. Saat ini pasien membutuhkan banyak darah.”
Habibi lemas seketika. Perawat tersebut langsung berlari.
__ADS_1
Ia duduk kembali setelah merasakan kakinya yang lemas.