Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 206


__ADS_3

Rasid masuk ke dalam ruangan Habibi. matanya melihat sosok cantik yang sedang duduk sofa, Ia cukup terkejut saat di lihat nya Arum duduk di kursi sofa tersebut


" Pagi buk," sapa Rasid ramah.


" Pagi juga " jawabnya.


"Bapak di mana buk?" tanya Rasid saat di lihatnya di Habibi tidak ada di dalam ruangan tersebut.


" ke dalam kamar," jawab Arum sambil menunjuk ke arah kamar.


Rasid duduk di kursi di depan meja Habibi.


sudah beberapa bulan ini ia tidak pernah melihat Arum datang ke kantor suaminya. dan hari ini ia bisa melihat wanita tersebut. hatinya terasa amat senang, apa lagi Ia melihat Arum yang terlihat sehat. diam-diam ia memperhatikan istri bosnya tersebut. Ia memperhatikan Arum secara curi-curi.


selama ini, hanya Sasa yang mengetahui bahwa Ia mencintai istri bos nya secara diam-diam. awalnya Rasid hanya merasa perasaan nya itu hanya lah rasa kagum melihat wanita tersebut, sosok yang begitu sulit untuk di cari. Wanita yang begitu cantik, pintar, sangat baik, sopan, soleha, mandiri, tegar, bertanggung jawab dan memiliki kelebihan yang sangat sulit di miliki wanita pada umumnya. kalau boleh Ia inggin mengatakan, bahwa Arumi itu sosok langkah. Ha..ha...ha... begitu banyak kelebihan wanita itu yang tertangkap oleh matanya. apa lagi kegigihan Arumi rasanya wajar kalau dia begitu mengagumi Arumi.


Namun ternyata sosok wanita itu begitu sulit untuk di lupakan nya. Arum selalu muncul dalam bayangan nya. bahkan Ia berfantasi membayangkan wanita tersebut ada di dalam pelukannya, Ia mencumbu wanita tersebut. ya pikiran kotor yang tak mampu di tepisnya. kalau boleh jujur, Ia begitu bergairah bila melihat Arumi.


Rasid sangat tau diri, Ia hanya mencintai tanpa berniat memiliki. kehadiran Arum saat ini, mampu mengobati kerinduan nya yang sudah begitu besar.


Rasid memperhatikan Arum yang terlihat mencari posisi yang nyaman untuk nya.


Habibi Keluar dari dalam kamar, pria itu membawa bantal di tangan nya.


Habibi meletakkan bantal tersebut ke tangan sofa. agar istrinya bisa berselonjor kaki saat duduk.


" Beneran gak mau di kamar?" tanya Habibi saat Ia membantu menaikkan kaki istrinya ke sofa. Arum menarik kakinya


" Mas Arum bisa naikkan kaki sendiri. ucapnya ketika ia melihat Rasid yang memperhatikan nya.


" Gak apa buk, saya maklum kok. dulu sewaktu mama saya hamil adik saya yang paling kecil, saya sering membantu mengangkat kan kaki mama saya ke atas kursi. soalnya kasihan lihat kakinya bengkak ucap Rasid sambil tersenyum.


" Oh begitu ya," ucap Arum kemudian.


" Iya mas, nanti Arum ke kamar bila capek. jawab nya.


" Kakinya jangan di gantung-gantung. Nanti kakinya bengkak lagi," ucapnya kemudian.


Arum mengangukan kepalanya.


Habibi kembali ke meja nya.

__ADS_1


" mana laporan nya ?" tanya Habibi saat ia sudah duduk di kursinya.


" Ini pak laporan pembangunan hotel di Bali.


dan sebaiknya kita melakukan pengecekan. ucap Rasid saat ia memberikan laporan tersebut.


"Bila melakukan peninjauan ke lokasi. berapa lama kita di sana?" ucap Habibi sambil memandang istrinya yang duduk santai di sofa sambil bermain ponsel.


" Tiga hari hingga satu Minggu pak," jawab Rasid.


Habibi diam mendengarkan ucapan Rasid.


" Mas Arum mau makan di kantin boleh gak?"


ucap Arum ketika ia sudah berdiri di samping Habibi.


Pria itu cukup terkejut saat melihat istrinya sudah ada di samping nya.


" Mas pesanin aja dek," ucap pria itu memberikan penawaran. semenjak insiden yang terjadi di kampus, Habibi sangat membatasi gerak istrinya. apa bila membawa istrinya keluar, Ia akan benar-benar mastikan bahwa tempat tersebut aman.


Arum mengangukan kepalanya. "Boleh mas, Arum mau soto ayam di tambah pergedel tapi gak pakai nasi dan juga sate Padang" ucap nya sambil tersenyum.


" Anak pipi dah lapar lagi ya. ucap nya sambil mengusap perut istrinya.


Ia tampak berfikir mendengar ucapan Rasid.


" Saya akan pesankan yang di minta ibu tadi pak. ucap Rasid menawarkan.


Habibi mengangukan kepalanya.


Rasid pergi meninggalkan ruangan tersebut, ekor matanya selalu mencuri-curi pandang untuk melihat wanita yang mengenakan fasminah berwarna maron tersebut.


Rasid keluar dari ruangan Habibi, Ia tidak menghubungi pihak kantin. Namun Ia langsung datang ke kantin untuk memesan makanan yang di pesan Arum. Ia memastikan, bahwa Ia yang akan langsung membawa makanan itu untuk Arumi.


Ada rasa perih saat Ia melihat bagaimana cara bos nya begitu mencintai istrinya, bagaimana tatapan mata bosnya melihat Arum, bagaimana perhatian bos nya kepada Arum. Ada rasa cemburu saat ia melihat semua itu. Ia juga tidak tau, mengapa rasa cinta itu semakin lama semakin besar. anggaplah saat ini Ia manusia bodoh, pikirnya.


pelayan kantin tersebut sudah meletakkan pesan tersebut di dalam baki lengket dengan jusnya. ia cukup tau bahwa Arum sangat menyukai jus sersak. sehingga Ia mesankan jus sersak.


Ia kembali dari Kanti dengan membawa baki berisi pesanan dari Arum, Ia masuk ke dalam ruangan tersebut Ia melihat Habibi yang masih duduk di meja nya yang tampak begitu sibuk mengecek laporan yang sudah di serahkan nya.


" Loh kok mas Rasid yang bawain, Arum jadi gak enak udah ngerepotin." Ucap Arum saat melihat Rasid membawakan nya makanan yang di inginkan nya.

__ADS_1


" Gak apa tadi saya sekalian minum," ucap Rasid.


Rasid kembali duduk di kursi semula.


" Mas-mas ada yang mau gak," tanya Arum sebelum Ia memakan makanan yang di meja nya.


" Gak dek, mas masih kenyang." ucap Habibi sambil memandang istrinya.


" Saya juga sudah sarapan," ucap Rasid.


Arum mulai menikmati soto sayam yang ada di dalam mangkok putih tersebut.


Habibi masih membicarakan masah proyek tersebut bersama dengan Rasid.


Ia melihat jam yang melingkar di tangannya. yang sudah pukul 10 pagi.


" Jam 11 kita rapat." ucap nya kepada Rasid


" Baik pak , saya permisi." Ucap Rasid. yang di jawab Habibi dengan angukan kepalanya.


saat ia keluar dari ruangan tersebut, ekor matanya memperhatikan Arum. rasanya Ia tidak ingin keluar dari ruangan tersebut. Ia masih ingin melihat wanita itu sepuasnya.


Ia memijat pelipis kening nya. Ia tidak mungkin pergi keluar kota dan meninggalkan Arum dalam kondisi hamil besar. Ia pasti tidak akan tenang pasti nya.


Ia kemudian jalan mendekati meja istrinya.


" udah siap makan nya?" tanyanya saat ia melihat piring yang sudah kosong.


Arum mengangukan kepanya, dan Ia mulai menguap.


" udah tidur di kamar ya." ucap Habibi sambil mengusap pipi istrinya.


" Iya Arum tidur ya mas," ucapnya yang merasa amat ngantuk.


" Mas ada rapat jam 10," ucap habibi.


" Ya gak apa Arum tidur di kamar," ucapnya lagi.


******


author minta like, komen dan votenya ya.

__ADS_1


terimakasih atas dukungan nya. 😊😊🙏🙏


__ADS_2