Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 63


__ADS_3

Pagi ini jhon sudah datang ke kantor Habibi. Duduk di sofa besar yang berada di ruang Habibi. Raut wajah Jhoni tampak menahan marah serta kecewa. Saat Habibi memberikan dia bukti korupsi yang di lakukan Roni. Yang lebih membuat Jhoni tidak percaya, bahwa Roni telah melakukan korupsi tersebut 5 tahun terakhir. Itu bisa di lihat data 5 tahun terakhir. Sedangkan data di atas 5 tahun sudah tidak bisa di akses. Roni yang merupakan salah satu orang kepercayaan Jhoni sekaligus sahabatnya. Bagaimana mungkin bisa menipunya, mencurangi dan berkianat kepadanya. Gaji yang besar, kedudukan yang tinggi. Roni juga orang yang bersama-sama dengannya untuk mendirikan perusahaan itu. Semula Jhoni mengira bahwa data tersebut terjadi kesalahan dan dia benar-benar tidak menduga kalau itu memang benar-benar di sengaja. Rasa kecewa benar-benar menyelimuti seluruh hati Jhoni. Jhoni memang sangat kurang teliti terhadap data keuangan perusahaannya karena dia memang mengurus beberapa perusahaan besar, perusahaan cabang serta bisnis-bisnis lainya. Kepercayaannya terhadap Roni sehingga Roni diposisikan sebagai kepala keuangan di perusahaannya. Korupsi yang di lakukan Roni bertahun-tahun walaupun tidak membuat perusahaan bangkrut. Namun kerugian yang di timbulkan mencapai milyaran.


“Pi,” suara Habibi membuyarkan lamunan papinya seketika.


“Ya.”


“Jadi bagaimana keputusan papi?”


“Papi akan memasukannya ke penjara. Papi pastikan dia akan meringkuk di penjara dan semua hartanya akan papi sita. Uang yang di rekening akan papi bekukan. Perusahaan di rugikan milyaran rupiah.” Jelas papinya.


“Om Roni saat ini ada di ruangannya pi. Om Candra dan om Arman sudah kabur melarikan diri tadi malam. Sepertinya mereka sudah mengetahui situasi saat ini pi. Semua uang mereka di rekening sudah di kosongkan. Om Arman sudah melakukan akta jual beli rumahnya beberapa bulan yang lalu sedangkan om Candra rumah masih atas hak milik beliau pi.”


“Amankan rumah itu.”


“Iya pi, satu jam lagi kita mulai miting.”

__ADS_1


“Awasi terus Roni. Jangan sampai dia meninggal kantor.” Perintah papinya.


Iya pi, Bibi sudah perintahkan scurity dan beberapa pengawal. Tanpa terlihat jelas kalau dia sedang di awasi.”


“Pak, Arum ke ruangan ya.” Karena memang merasa tidak ada yang dikerjakannya. Di sini. Arumi yang duduk di depan meja Habibi. Melihat kondisi Jhoni sedang tidak baik maka dia minta untuk permisi keruangannya.


“Iya Rum. Nanti kalau ada keperluan aku telpon kamu.”


“Iya pak. Pak Jhoni Arum permisi.”


*************


Roni berjalan menuju ruang Arman namun ruangan itu kosong. Pergi lagi menuju ruang Candra, ruangan itu juga kosong. “Apa mereka belum datang.” Roni masuk kembali ke ruangnya. Setelah berfikir keras mengenai laporan keuangan yang dimanipulasinya. Akhirnya Roni memutuskan untuk mengakui kesalahannya di bulan ini saja dan akan mengembalikan uang perusahaan. Dengan begitu maka urusan selesai.


Roni yang menjadi orang kepercayaan Jhoni bertahan-tahun. Bahkan puluhan tahun sejak Roni baru tamat kuliah dan masuk ke perusahaan Jhoni yang waktu itu selaku pewaris tunggal dari perusahaan papanya. Kemudian mendirikan perusahaan central abadi. Dengan menrekrut Roni yang sudah sangat dekat dengannya, di tambah Roni sangat rajin, pintar dan bertanggung jawab. Selama Roni berada di perusahaan yang di pimpinnya tidak pernah Roni sekalipun membuat masalah. Roni yakin permasalahan di data keuangan yang di lakukankannya, pasti akan mudah di maafkan Jhoni. Karena dia memang sudah tau betul seperti apa watak Jhoni.

__ADS_1


Roni mencoba menghubungi Candra namun nomornya tidak aktif. Dia mencoba lagi menghubungi Arman, nomornya juga tidak aktif. Panggil whatsapp juga tidak aktif. Roni terdiam, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya menegang gemetar, tanganya berkeringat. Rasa emosi seakan memuncak di kepalanya. Dia baru menyadari ternyata dua sahabatnya sudah melarikan diri. Sekarang dia harus mempertanggung jawabkan semuanya sendirian. Kalau bukan karena rayuan dan dorongan terus menerus yang diberikan oleh Arman dan Candra, Roni tidak akan pernah melakukan tindakan korupsi tersebut. Mereka menikmati hasil korupsi itu bersama-sama namun di saat seperti ini mereka meninggalkan Roni sendiri.


******


Seluruh jajaran karyawan sudah menunggu di ruang miting. Habibi dan Jhoni masuk dari pintu besar yang berada di ruang itu. Ayah dan anak itu selalu menarik perhatian semua orang. Mereka melihat tubuh yang tinggi, wajah yang terlihat sedikit mirip dengan postur tubuh yang sama. Kalau berjalan, mereka seperti abang dan adek.


Jhoni duduk di depan dan di sebelah kanannya Habibi, di sebelah kiri Roni. Rapat di mulai, awalnya Roni memaparkan data-data tersebut dan menjelaskan. Dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Namun Habibi mengeluarkan semua bukti-bukti korupsi yang dilakukannya 5 tahun terakhir. Roni tampak sangat marah bercampur ketakutan. Saat dia mengetahui ternyata korupsi yang di lakukannya sudah di ketahui Jhoni. Dia tidak mau masuk penjara dan Sudah pasti seluruh hartanya yang di dapat dari hasil korupsi akan di sita.


Dengan cepat Roni mengeluarkan pistol yang berada di dalam tasnya dan langsung menodongkan pistol tersebut ke kepala Jhoni yang ada di sebelahnya. Suasana di ruangan tersebut langsung ricuh dengan suara teriakan. Arumi yang sejak tadi berdiri di belakang Habibi tidak menyangka kalau Roni memiliki senjata api dan nekat.


“Mundur,” suara perintah terdengar keras dari Roni.


Arum memberi isyarat kepada karyawan yang lain untuk tiarap. Roni melangkahkan kakinya kearah pintu keluar dengan emosi dan ketakutan yang membuat wajahnya pucat dan tangannya tampak gemetaran. Arum yang berdiri mengamati kondisi. Secara teori dan beberapa kali praktek saat masih dalam masa pendidikan, secara teknis Arum mengetahui caranya untuk melepaskan sandera pada saat seperti ini. Tapi tetap ada resiko yang kemudian bisa terjadi.


Roni yang terlalu sibuk ingin kabur dengan menyandra Jhoni. Habibi tampak sangat pucat melihat papinya menjadi sandra Roni. Habibi tidak aka menyangka kalau Roni bisa segila ini. Habibi melupakan Arumi yang sedari tadi memperhatikannya dari belakang. Diambilnya pistol yang terletak di betisnya yang langsing secara diam-diam. Pada saat Roni berjalan menuju pintu keluar dengan tidak melihat kebelakang, Arumi menembak tangan Roni dari belakang.

__ADS_1


Pistol yang di tangannya langsung terjatuh. Jhoni mendorong tubuh Roni ke belakang, dengan gerakan cepat Arumi langsung membekuk tangan Roni kebelakang tanpa ada perlawanan. Polisi yang berjumlah 3 orang yang memang sudah di hubungi Habibi sebelum rapat sudah datang ke kantor Habibi dan langsung membawa Roni ke kantor polisi.


__ADS_2