Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 78


__ADS_3

Arum berjalan ke ruang pantry. Dia akan membuat susu hangat. Dengan harapan susu bisa membuat tubuh nya lebih segar.


“Arum, kamu mau buat apa?” tanya Yuli.


“Susu hangat bak Yuli,” jawab Arumi.


“Kamu sakit? Kelihatan kamu pucat.”


“Gak cuman kurang vit aja.” Jawab Arumi.


Arum menyedu susu yang di tuang ke dalam gelas. Dia duduk di kursi dan meletakkan susu hangatnya di meja yang ada di ruangan pantry.


Yuli tampak memperhatikan Arumi.


“Kamu makin cantik aja sekarang Rum.” Kata Yuli.


“Masak sih mbak. Yang lain pada kemana mbak?” ucap Arum .


“Ya seperti biasa. Keliling, sambil bawa kain lap, sapu, skop sampah dan kain pel,” jawab Yuli sambil tertawa. “Iya mbak serius. Kamu tambah cantik aja. Pantas pak Habibi ..”


Arum langsung menutup mulut Yuli.


“Arum, meminum susunya dan setelah susu itu habis Arum mau pamitan dengan Yuli, “mbak Arum balek ke ruangan dulu ya. Sebenarnya kepada Arum agak puyeng ini.” Sambil memegang kepalanya.


“Ya udah kamu istirahat. Jangan sampai sakit.”


“Iya mbak. Makasih ya. Mbak, Arum lupa mau buat susu untuk pak Habibi” kata Arumi.


“Susu, bukannya pak Habibi suka kopi?”


“Kopi itu gak bagus untuk lambung. Jadi ganti susu lebih baik.” Jelas Arumi.


“Wa...wa..... Belum jadi istri aja udah perhatian sekali.”


“Ussss... mbak jangan sembarang ngomong. Nanti jadi gosip.” Protes Arumi.


“Siapa yang sembarangan ngomong. Pak Habibi sendiri yang ngasi tahu keseluruh karyawan khususnya yang laki-laki agar jaga jarak sama kamu. Karena kamu calon istrinya.”


“Masak sih mbak?”


“Emang kamu gak merasa kalau karyawan laki-laki di sini gak ada yang pernah negur kamu.”


“Iya sih mbak. Mbak, tolong buatin susu untuk pak Habibi.”


“Baik ibuk direktur.” Jawab Yuli sambil tersenyum.


“Mbak, jangan gitu. Entar di dengar orang.”

__ADS_1


“Tentang aja Rum, kaum hawa sudah pada mundur. Karena, gak akan ada yang menang saat bertarung sama kamu. kaum adam juga mundur karena sudah pasti gak akan menang lawan pak Habibi.”


“Mbak udah ah, mbak cepatan susunya.” Sebenarnya Arum sudah merasa hal yang aneh terhadap karyawan laki-laki. Tapi karena dia memang gak pernah dekat sama laki-laki. Ya dia santai aja. Bahkan membuat dirinya makin yaman.


“Iya rum. Mbak juga udah gak tahan lihat pipi kamu yang semakin merah.”


Arum langsung memegang kedua pipinya. Setelah selesai susu di buat Yuli, Arum kembali keruang Habibi. Arum melakan gelas cangkir yang berisi susu.


“Makasih. Kamu udah sarapan?” kata Habibi sambil tersenyum.


“Udah mas. Mas, kalau gak ada kerjaan Arum kembali ke ruang Arum ya.”


“iya,” jawab Habibi sambil tersenyum.


*****


Arum meletakkan kepalanya di atas meja dan meletakkan tangannya menjadi bantal. Rasanya kepala, badannya sangat tidak enak, lemas dan tenggorokan yang pedih saat menelan. Namun Arum masih bisa menyelesaikan semua pekerjaan di hari ini. Termasuk mengikuti miting di luar kantor, jumpa klan dan sebagainya.


******


Sesampainya di kos, Arum langsung mandi berharap agar tubuhnya lebih segar. Namun setelah selesai mandi. Rasanya jadi menggigil bahkan menggigil sangat kuat. Dengan cepat, ia memakai baju tidur dan menggulungkan selimut ke tubuhnya kemudian ia tertidur.


Jam 10 malam, Arum terbangun dengan tubuh yang sangat panas. Matanya juga terasa panas sehingga membuat matanya berair-air seperti sedang nangis, tenggorokan terasa sangat sakit, kepal pusing dan tengkuk terasa sangat berat. Arum Mencoba menghubungi Ardi.


Ardi calling...


“Hallo, Assalamu’alaikum.” Sapa Ardi.


“Waalaikum salam.”


“Kamu sakit rum?” Begitu mendengar suara Arum, Ardi tahu bahwa gadis itu sedang sakit.


“Iya Di”


“Kamu sama siapa di sana?”


“Sendiri.” Jawab Arumi.


“Keluhan kamu apa aja?”


“Badan Arum panas, tenggorokan sakit dan kepala pusing.”


“Ya udah aku langsung ke sana.” Jawab Ardi.


Ardi menyimpan file tugas yang dikerjakannya kedalam flashdisk dan menyimpan file ke laptopnya dan mematikan layar laptop yang masih menyala. Dia memasukkan laptopnya ke dalam tas, dan semua tugasnya untuk besok. Buku kuliahnya, serta baju yang besok untuk kekampus juga dimasukkannya. Diambilnya sepatu yang tersusun di rak sepatu dan memasukkan ke dalam mobil. Tak lupa membawa peralatan medis dan kasur busa lipat yang biasanya dibawanya ketika naik gunung. Ardi langsung mengendarai mobilnya dan singgah ke apotek untuk membeli obat, dan kemudian membeli sup karena yakin Arumi pasti belum makan.


Ardi mengetuk kamar Arum. Dia sampai sudah hampir jam 11 malam. Arum mengambil jilbab sorongnya dan membuka pintu.

__ADS_1


“Udah baring aja. Aku mau cek kondisi kamu.”


Arumi berbaring di atas tempat tidur. Ardi mulai memeriksa Arumi. Ardi meletakkan stetoskop ke dada dan juga perut, untuk mengecek detak jantung dan pencernaan, dan kemudian menyenter bagian mulut dengan senter medis. Ardi mengecek suhu tubuhnya dengan menggunakan termometer digital. Ditempelkan kekening Arumi tertera angka 39,8.


Kemudian cek tensi dengan menggunakan tansimeter digitaltertera angka 90/90.


“Kamu panas tinggi, 39,8, tensi juga rendah 90/90 kemudian radang tenggorokan, Asam lambung juga naik. Udah ada minum obat?” tanya Ardi.


Arum menggelengkan kepalanya.


“Ya udah makan dulu. Tadi aku udah beliin kamu.” Ardi mengambil piring, sendok dan gelas berisi air putih. Dimasukkannya nasi ke dalam piring dan memasukkan sub ke dalam mangkok.


“Di, Arum makan sendiri aja.”


“Aku suapin.” Kata Ardi. Kemudian mulai memasukkan nasi ke dalam mulut Arumi. Setelah beberapa sendok, Arum menutup mulutnya.


“Udah Di.”


“Dikit lagi.”


“Arum udah kenyang.”


“4 sendok lagi ya.” Desak Ardi.


Arumi menggelengkan kepalanya.


“3 sendok lagi. Kamu makannya masih sedikit sekali.”


“2 sendok lagi,” tawar Arumi.


“Oke.” Sambil menyuapkan 1 sendok penuh ke mulut Arumi.


“Itu banyak sekali.”


“Udah cepat buka mulutnya, biar bisa minum obat dan tidur.” Mau gak mau, Arum kembali membuka mulutnya dan sampai suapan terakhir.


Ardi memberikan beberapa obat, Parasetamol, Cimitiden, obat radang tenggorokan dan vitamin. Karena baru 1 hari, jadi belum perlu antibiotik.


“Ternyata kamu manusia biasa juga ya.” Canda Ardi. Arum hanya memajukan bibirnya.


Kemudian Ardi membuka lemari baju Arum untuk mengambil baju yang tipis dan tidak panas. Lemari kain Arum tersusun dengan rapi, sehingga tidak susah bagi Ardi untuk mencari baju. Setelah mengambil satu stelan baju tidur, Ardi memberikannya sama Arumi.


“Ini ganti baju kamu. Kalau lagi panas tinggi gak boleh pakai baju yang panas dan tebal. Harus memakai baju yang berbahan dingin dan tipis,” kata Ardi sambil menjelaskan biar panasnya keluar. Arum, menganggukkan kepalanya. Arum mengambil baju yang diberikan Ardi.


“Aku tunggu di luar. Kalau sudah siap panggil.” Kata Ardi.


“Iya.”

__ADS_1


Ardi mengambil anduk kecil di dalam mobilnya dan mengeluarkan kasur busa lipat lajang dari mobilnya. Ardi biasa membawa kasur ini untuk mendaki gunung. Dia tersenyum lalu lihat mobilnya yang sudah seperti kantong doraemon. 😂


__ADS_2