Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 32


__ADS_3

“Emangnya kantin masih buka ak?” tanya Arumi kepada Yuda.


“Masih Rum, tutup jam 12. Kamu lihat aja. Di sana masih ramai.” Jawab Yuda sambil menunjuk ke kantin yang mereka tuju.


Begitu sampai di kantin. Ternyata masih ramai yang duduk, makan dan minum kopi.


“Hai .. sini gabung,” Rio melambaikan tangannya.


“Gak usah kami duduk di sini aja,” sambung Yuda.


Mereka hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Yuda yang tak ingin di ganggu.


Sementara, Prima datang dan duduk bergabung dengan yang lain. .


“Kamu mau pesan apa Rum?”


“Nasi goreng aja ak.”


“Nasi goreng dua mbak. Sepesial.” Teriak Yuda.


“Iya mas Yuda,” jawab pelayan kantin.


Tak lama nasi goreng datang. Yang menggugah selera campuran nasi goreng tersebut adalah telor mata sapi, sepotong ayam dan kerupuk, di tambah 2 buah irisan mentimun dan 1 buah irisan tomat. Arum dan Yuda sangat menikmati nasi goreng mereka.


“Ak,” sapa Arumi.


“Iya Rum.”


“Itu telor kuning kenapa gak di makan?” tanya Arumi.


“Aak cuman suka putihnya.”


“Arum suka kuning dan kurang mau yang putih ak. Kuning telur aak untuk arum aja. Ini putih telur Arum untuk aak. Sayang di buang ak. Mubazir.” Pinta Arumi sambil memberikan putih telornya.

__ADS_1


“Boleh rum.” Mereka pun saling bater telur.


Setelah selesai makan.


“Ak. Arum capek. Arum mau langsung ke kamar ya.”


“Iya aak antarkan.”


“Eh gak usah ak. Arum bisa sendiri.”


“Tapi aak juga mau tidur Rum.”


“Tapi jangan ke kamar Arum,” kata Arumi.


“Kamar aak dekat kamar kamu,” jawab Yuda.


“Ooo gitu. Ya udah deh.”


Setelah membayar. Mereka pergi ke kamarnya masih-masing. Saat arum membuka pintu kamar. Di lihat nya lampu kamar sudah padam. Tiar sudah tidur dengan nyenyaknya di bawah selimut yang tebal. Arum masuk ke kamar mandi dan berwudhu. Setelah itu sholat Isya. Arum naik ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuh di atas tempat tidur.


Gedung Center Abadi.


Acara akan di mulai jam 8 pagi sampai jam 1 siang untuk acara resmi. Jam 2 acara hiburan sampai jam 5 sore. Jam 7 malam acara di hotel. Papan bunga sudah berjejer di depan gedung yang luas tersebut. Bahkan papan bunga sudah menyambut mobil-mobil tamu undangan dari jarak 1 km. Tamu undangan terdiri wapres, para pejabat, anggota dewan pengusaha, toko masyarakat dan para klien, dan berbagai kerabat dan tamu -tamu penting lainnya.


Habibi tegak berdiri dengan wibawanya. Dengan senyum yang selalu menyapa para tamu undangannya. Mami dan papi selalu mendampinginya. Karyawan yang terlibat sebagai panitia tampak sibuk mondar-mandir dengan membawa berbagai macam keperluan dalam acara. Para celana servis tampak sangat sibuk ditambah dengan tenang kerja dari perusahaan jasa cleaning servis yang di perbantukukan. Habibi masih mencari-cari sosok gadis yang di membuat jiwa dan raganya tidak tenang. Berharap dia ada di sini.


“Mi,” sapa Habibi.


“Iya sayang,” jawab maminya.


“Mami tau gak, Arum di mana?”


“Gak sayang. Emangnya Arum di mana?” mami malah balik bertanya.

__ADS_1


“Gak tau Bibi mi. Tapi setelah insiden itu Arum menghilang mi.” Kata Habibi.


“Yang benar kamu sayang?”


“Iya mi.”


“Apa kamu sudah cek kosnya?” tanya mami.


“Sudah mi. Terus, kata penghuni kosnya, kalau Arum sudah 3 hari gak pernah pulang. Bibi cek di pecel lele juga sama mi.” Jelas Habibi.


“Kok bisa ya?” kata mami Habibi.


“Gak tau mi.”


“Apa dia lari dari kamu?”


“Maksud mami?” tanya Habibi.


“Jangan-jangan dia takut sama kamu.” Jelas maminya.


“Maksud mami?”


“Dia takut kamu mau nikah dengan dia. Dia kan masih kecil. Bahkan kalau menikah dan hamil. Itu lebih beresiko.” Kata maminya.


“Mi, bibi gak akan maksa Arum mi. Bibi akan tunggu sampai dia siap.”


Anita memandang anaknya dengan tatapan serius. “Jadi kamu suka Arum?”


“Iya mi. Ya tapi sekarang mau gimana.”


“Kamu coba aja cari.” Kata mami.


“Iya mi, bibi akan cari arumi sampai ketemu.” Sahut Habibi dengan wajah serius dan penuh keyakinan.

__ADS_1


“Udah kamu semangat. Jangan sampai saat dia kembali. Dia mendengar cerita kamu yang frustasi saat ditinggalnya.” Jawab mami.


“Iya mi. Makasih ya mi.”


__ADS_2