
author tuh nurut banget orang nya.
di saat reader pada minta, habibi dan Arumi.
oke author kasih.
cepat di nikahin aja habibi dan Arum.
oke author kasih.
dan di minta undang Ardi walaupun author gak tega tapi tetap author kasih. dan di saat reader minta di up lagi.
author up lagi deh.
😃 yang penting komen, like dan vole nya ya. biar author semangat ini .
kira-kira jodoh Ardi yang mana ya???
sabar dan terus ikutin ya karya author.
insyaallah reader senang deh dengan ending nya. soalnya author juga orang nya gak tega-tega amat lihat penderitaan orang.
ingat ya reader, sebelum reader menangis.
author lah yang lebih dulu menangis saat menulis. duh maaf 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
author kepanjangan mukadimah.
tapi mukadimah author boleh di next kok.
😂😂😂😂 gak mesti harus di baca ya.
************
Ardi memandang Doni dengan tatapan tajam membuat Doni menghentikan kalimatnya. Doni masih memandang wajah gadis kecil tersebut. Diambilnya ponsel dari saku celananya, dilihatnya status Ardi yang terakhir di Ig Ardi. Foto Arumi saat masih kecil. Doni senyum. “Kalau lo gak mau untuk gue ya? Gue mah iklas dan ridho nungguin nih bocah gedek.”
Ardi menendang kaki Doni.
“Aduh.... Sakit bro.”
Gadis kecil tersebut masih bergayut di tangan Ardi. Gadis kecil tersebut mengangkat kepalanya ke atas. Melihat wajah Ardi. “Abang Ardi sudah jumpa kak Arum?”
“Sudah.”
“Bang Ardi jangan sedih ya. Ada Ica di sini.” Hibur gadis kecil tersebut.
Ardi mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat gadis kecil yang polos tersebut.
“Kenapa bang ardi sedih?” Tanya Ardi.
“Iya karena kak arum sudah dilamar sama mas Habibi. Abang Ardi tenang aja, Ica gak akan pacaran sama siapapun. Ica akan tunggu Abang Ardi. Abang Ardi maukan nungguin Ica?”
__ADS_1
Ardi mengerutkan keningnya sambil tersenyum mendengar kalimat gadis kecil tersebut.
“Nanti kalau Ais sudah besar, bang Ardi udah tua. Apa Ais masih mau?”
“Umur bang Ardi sekarang berapa?”
“20 tahun.”
“Ica 11 tahun. Kalau 10 tahun lagi, umur Ica 21 tahun dan bang Ardi 30 tahun. Menurut Ica gak tua kok.”
“Emangnya ais banyak yang naksir?” Tanya Ardi
“Ya banyak lah bang. Ica cantik gini. Tapi tetap aja gak ada yang berani dekati Ica.”
“Kenapa?”
“Ica kan atlet taekwondo.”
Ardi senyum dan kemudian ia mengusap kepala gadis tersebut. “Ais gak boleh nempel-nempel sama bang Ardi.”
“Kenapa?”
“Ais itu perempuan, bang Ardi laki-laki.”
“Gak muhrim ya bang?”
Ardi mengangguk kan kepalanya.
“Boleh.” Jawab Ardi.
Gadis kecil tersebut tersenyum sambil melepaskan tangannya yang memeluk lengan Ardi.
“Ingat ya, Ais gak boleh pegangan sama semua laki-laki yang bukan muhrim.”
Ais menganggukkan kepalanya. “Ica ngerti pasti bang Ardi cemburu kalau Ica di pegang-pegang sama cowok lain.”
Doni dan Ari udah gak tahan dengar gadis kecil tersebut. Rasanya mereka ingin mengeluarkan ketawanya dan ngakak.
“Iya Abang Ardi cemburu.” Jawab Ardi.
“Bang, Ica ke dalam dulu ya. Ngecek kak Arum.”
Ardi menganggukkan Kepalanya.
“Besok Abang jangan ninju kaca lagi.” Sambil memegang tangan Ardi yang diperban dan mentiupnya. Namun sebelum pergi, gadis kecil tersebut mencium pipi Ardi terlebih dahulu dan pergi sambil tersenyum.
“Gila, tuh adeknya lebih agresif dari kakaknya. Lebih cantik, cantik banget. Kalau udah gedek gimana cantiknya itu.” Kata Doni.
“Bener tuh,” Jawab Ari.
Ardi kembali diam tidak mau ambil pusing ocehan teman-temannya. Mereka duduk dengan mendengar kan musik band yang membawakan lagu-lagu melow.
__ADS_1
********
Rombongan Habibi datang. Beberapa mobil mewah berjejer di halaman rumah tersebut. Siti memerintahkan Keke untuk menjemput Arum. Mendengar Habibi yang sudah datang jantung Arum berdetak semakin kuat. Ia memperhatikan wajahnya di depan cermin. Wajahnya tampak sangat gugup. Naura menggenggam tangannya begitu juga Sarah. Sarah menggenggam tangan Arum yang terasa dingin. Aisah memandang kakaknya.
“Kak arum gak usah malu. kak Arum sangat cantik.” Puji gadis kecil tersebut.
“Makasih ya dek.”
Aisah tersenyum.
Arum turun ke bawah, dilihat ya ruang tamu yang penuh dengan rombongan Habibi dan hantaran yang sudah memenuhi lantai rumah tersebut yang masih banyak ditinggalkan di luar. Dalam acara tersebut keluarga Habibi menyampaikan tujuan kedatangan mereka, untuk melamar Arumi Nanadia. Mereka membawa hantaran yang berupa pakaian sepaket, sepatu sepaket, alat kosmetik sepaket, perhiasan sepaket, dan juga uang hantaran 5 meliyar yang membuat jantung Siti seakan berhenti berdetak. Ia menghirup udara dengan sangat keras agar jantungnya tidak kumat di saat seperti ini karena mendengar 5 milyar.
Ardi, Doni dan Ari yang memang sengaja tidak mau masuk ke dalam hanya mendengarkan dari suara mikrofon. Mulut mereka terbuka lebar begitu juga dengan para tamu yang hadir yang pada umumnya adalah tetangga Arum.
Ari dengan reflek berkata. ”Bisa buat rumah sakit.” yang mendapat tendangan dikaki dari Doni.
Ardi tampak diam menundukkan kepalanya. Sarah, Naura serta kedua orang tua Naura tampak membesarkan mata mereka, uang antaran 5 milyar.
“Kami akan menentukan tanggal pernikahan mereka.” Pria yang berstatus sebagai moderator dari keluarga Habibi tersebut langsung menyampaikan tanggai pernikahan mereka yang sudah dipilih oleh keluarga Habibi. “Bagaimana acara pernikahan putra putri kita, kita selenggarakan tiga Minggu lagi. Bagaimana ibuk Siti.”
Siti yang masih shock dengan cepat menjawab iya. Mata Arum Tampak motot saat mendengar tiga Minggu lagi. Arum memandang Habibi yang dari tadi memandang ke arah Arumi. Wajah pria tersebut tampak tersenyum. Arum kembali menundukkan kepalanya.
Masuk keacara pemasangan cincin. Habibi menatap Arum yang sudah berdiridi depannya dengan jantung yang berdetak dengan sangat kuatnya. Habibi membuka kotak cincin yang di pegangnya. Ia mengambil cincin tersebut dan memasukkan kejari manis Arum. Arum membuka kotak cincin dan kemudian mengeluarkan cincin tersebut dari dalam kotaknya. Ia memasukkan cincin tersebut ke jari manis Habibi. “Terimakasih kasih sayang, udah mau nerima lamaran mas.” Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan tersebut. Mereka memasuki acara hiburan serta menikmati hidangan yang disediakan. Habibi masih memegang tangan tersebut. Ia ingin sekali mencium kening Arum. Tangan mereka sama-sama terasa dingin.
********
Arum dan Habibi duduk di meja yang dikhususkan untuknya.
“Adek cantik.” Puji Habibi.
Arum senyum. “Mas, kenapa cepat kali?”
“Apanya sayang?”
“Nikahnya. Masak 3 minggu lagi.”
“Sebenarnya mas minta 1 Minggu lagi. Tapi mami gak mau. Katanya malu. Makanya tiga Minggu lagi.”
“Mas, itu uang antara sebanyak itu untuk dihabiskan kemana?”
Habibi senyum. “Kita pikirkan besok.”
“Kalau rumah ini di jual. Berapa harganya?” tanya Arumi.
“3 m.”
“Kalau gitu, Arum ambil rumah ini ya.”
Habibi ketawa sambil mengusap kepala Arumi. “Ini rumah emang punya adek. Sertifikatnya juga langsung nama adek.” Yang membuat mata Arum membulat sempurna.
__ADS_1