
“Kami berdiri dari tempat duduk kami untuk keluar. Namun sebelum kami keluar mereka sudah menghadang kami. Jumlah mereka sangat banyak. Mereka juga tampak sangat terlatih. Kami melakukan perlawanan dan kami berhasil melumpuhkan para penjahat tersebut. Namun saat kami sudah sampai di luar restoran, mereka sudah menghadang kami dengan jumlah yang banyak. Saat itu kami sudah cukup kehabisan tenaga,” Arum menceritakan keseluruhannya. Terjadi tembak menembak di dalam mobil mengakibatkan dadanya tertembak.
Polisi tersebut mendengar kan cerita Arum dengan sangat serius. Ia mengangguk-angukkan kepalanya. Kemudian bertanya sama Ardi bagaimana Ardi bisa kembali lagi ke restoran.
Ardi mulai menceritakannya. “Saat Arum meminta saya membawa teman-teman saya kembali ke kampus saya mendengar mereka menelepon. Saya sering ke restoran tersebut dan saya cukup kenal dengan pelayan serta kasir restoran. Saat saya perhatikan wajah mereka, tidak ada satu pun karyawan restoran. Saya pura-pura mengatakan bahwa kami wajib pulang ke kampus dan meminta pesanan kami di bungkus dengan membayar kepada kasir. Saya mengambil uang 50 ribu, tujuan saya agar lebih dekat dengan si penelepon dan saya bisa mendengar mereka menelepon. Mereka mengatakan akan memastikan mereka semua akan mati dan tidak akan ada yang bisa keluar dari restoran. Setelah saya mengantar teman-teman saya, saya kembali ke restoran tersebut.”
Anggota Firman merekam semua yang disampaikan Arum dan Ardi untuk pelengkap laporan serta sebagai petunjuk penyelidikan pelakunya. Sampai sekarang para pelaku yang tertangkap belum ada yang mau buka suara. Walaupun sudah dilakukan interogasi secara lisan dan tindakan pemaksaan. Mereka semua bungkam.
“Kamu sangat cocok sekali untuk menjadi polwan. Kalau kamu mau jadi polisi saya akan menjamin kelulusan kamu. Kamu sudah memiliki bakat analisis yang tajam, yang orang lain tidak memilikinya. Apa bila kamu jadi polwan kamu akan masuk ke dalam tim sidik kasus.”
Arum senyum. “Makasih pak. Tapi Arum pengen jadi dokter.” Ia menjawab dengan sangat polos. Membuat polisi tersebut tertawa.
Firman mengusap kepala Arumi. “Kamu gadis yang pintar, hebat dan kuat. Kamu sangat cocok untuk jadi apa saja. Bahkan kalau mau jadi artis juga kamu cocok.” Sambil tersenyum.
Arum hanya senyum.
“Baiklah kami permisi. Polisi masih menjaga di luar.”
Setelah berpamitan, ketiga polisi tersebut pergi meninggalkan ruangan tersebut. Wajah Arumi begitu terbayang-bayang oleh firman. Mendengar cerita gadis remaja tersebut ia benar-benar tidak menyangka bahwa analisis dan kejelian mata gadis tersebut luar biasa. Saat Arum menceritakan terjadi tembak menembak. Mengetahui gadis tersebut penembakan jitu. Ia menebak pas di kepala pelaku dan menembak ban. Bahkan ia melakukan hal tersebut saat tangannya terluka parah. Firman senyum-senyum sendiri sama menggeleng-gelengkan Kepalanya.
Setelah mereka melihat kondisi Arum dan bercanda serta bercerita ringan. Sasa dan Wahyudi berpamitan untuk pulang begitu juga Rasid. Anita dan Jhoni juga pulang. Habibi menyuruh mami dan papi nya untuk istirahat.
Ardi masih ada di sana.
“Di.”
“Iya rum.”
“Aku jadi gak enak sama teman-teman. Karena Arum mereka gak jadi makan.”
“Apa nya kamu yang salah. Mereka justru terima kasih sama kamu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu mereka masih bisa makan. Kalau kamu gak nyuruh aku bawa mereka pergi. Sudah pasti kita akan di bunuh semua.”
__ADS_1
“Iya juga,” balas Arum.
“Besok mereka mau ke sini. Jenguk kamu.”
“Kamu kasih tahu mereka?”
“Iya, mereka udah tahu tentang masalah di restoran tadi siang bahkan udah masuk berita. Sepertinya bentar lagi kamu bakalan di kejar-kejar wartawan. Video CCTV yang terekam di restoran tersebut sudah viral.”
Mereka yang ada di sana langsung melotot dengar apa yang di sampaikan Ardi.
“Di kampus sekarang heboh.”
“Ya Allah, beneran ini Di.”
Ardi menganggukkan Kepalanya.
“Di, besok kalau ke sini. Bawak Naura ya.”
“Iya. Besok aku kesini juga bawa rektor.”
“Kenapa rektor? Dekan kok gak?”
“Mana?”
“Prof. An.”
“Prof. An?” Arum membeo.
“Iya dekan kita Profesor Anita Sasmita.”
“Maksud kamu?” Mata Arum tampak motot. Arum kembali diam.
“Apa Di nama judul youtube nya?”
“Lihat aja heroid mahasiswi cantik UI.”
__ADS_1
“Yang benar Di?”
Ardi mengangguk.
Habibi menyimak percakapan mereka dan juga sangat penasaran dengan video tersebut.
“Video itu memperlihatkan keseluruhannya. Mulai dari kita masuk, mobil pak Habibi datang sampai kita pergi dari restoran. Kamu baca aja ntar komen-komennya banyak di sana dari para netizen. Para netizen juga puji-puji kamu.”
Arum benar-benar gak sabar mau membuka video tersebut.
“Tapi dari kita semua, kamu yang paling tenang ya. Apa kamu gak takut. Dari video tersebut. Nampak kamu sangat tenang.”
Arum mengangkat keningnya. “Tenang gimana?”
“Udah aku pulang dulu.”
“Iya hati-hati ya.”
“Iya.” Ardi pamit sama Siti dan Habibi.
Kamar tersebut mulai sunyi.
“Ibuk apa mau pulang.” Tanya Habibi.
“Gak usah nak ibuk di sini saja.”
“Apa ibuk gak capek?”
“Gak nak.”
*************
Videonya viral. Rektor mereka sampai datang ke rumah sakit untuk menjenguk Arum secara langsung. Begitu juga dengan teman-temannya. Sudah beberapa hari di rumah sakit akhirnya Arum pulang ke rumah. Arum pulang dengan hati yang senang.
Habibi sudah memakai pengawal pribadi sebanyak 5 orang. Selain ahli bela diri mereka juga penembakan jitu. Ia masih h mengerahan intelejen swasta yang di bayarnya untuk memecahkan kasus dan mengetahui siapa pelaku dari pembunuhan berencana tersebut. Mendengar penjelasan Arum seakan memberi petunjuk untuk nya.
__ADS_1
“Di dalam kantor mas, ada yang berkhiyanat.” Kalimat tersebut keluar dari mulut gadis cantik tersebut.
**********