
Setelah selesai acara, Bibi langsung menuju kamar hotel, begitu juga Anita dan Jhoni. Mereka sangat lelah dan memilih untuk istirahat. Di dalam kamar,
“Mi,” sapa Jhoni kepada istrinya.
“Iya pi.”
“Papi kasihan lihat bibi selama 2 hari ini mi. Anak itu tampak sangat frustasi.” Kata papinya.
“Iya pi. Mami juga tau. Tapi kalau dia tau keberadaan Arumi. Bisa rusak semua rencana kita pi. Lagi pula ini hanya sebentar kok pi.” Jawab maminya.
“Mami yakin?”
“Sangat yakin sayang.” Anita mulai mencium bibir suaminya.
“Apa kita masih bisa memberi adek untuk Bibi sayang.” Senyum genit anita sudah mulai terlihat .
Jhoni langsung ketawa mendengar ucapan istrinya.
“Apa kamu masih mau sayang.” Tanya papinya.
“Aku belum monopos sayang.”
“Tapi kalau mau nambah adeknya Bibi. Sudah ada sejak dari dulu sayang.” Kata papi.
Anita tersenyum. “Iya pi. Sepertinya kita tunggu kehadiran cucu saja.”
Anita masih terus melanjutkan aksinya. Mencium bibir suaminya dengan ciuman yang terasa sangat panas. Jari-jarinya mulai membuka kancing baju Jhoni satu persatu satu. Dan membuka resleting celana yang di pakai Jhoni. Jhoni berusaha mengimbangi istrinya. Dengan mengangkat gaun yang di pakai Anita. Kamu sangat cantik malam ini sayang. Mereka melaksanakan kewajiban mereka masing-masing. Hingga beberapa ronde Anita sangat menguasai permainan. Jhoni membiarkan istrinya untuk lebih dominan di malam ini. Akhirnya Anita dan Jhoni tertidur dengan pulasnya.
Mungkin karena lelah. Bibi tertidur dengan nyenyaknya. Dengan cara inilah ia bisa tenang dan mengumpulkan tenaganya. Pagi ini Bibi sudah bersiap berangkat ke kantor. Mami dan papi nampaknya belum bangun. Ia langsung turun dari kamar hotel. Di lobby bodyguard sudah menunggu. Bodyguard yang sekaligus merangkap sebagai supir pribadi Bibi.
“Pagi pak.” Herman menyambut bosnya dengan sapaan sopan dan penuh hormat. .
“Pagi man.”
“Apa kita langsung berangkat pak? Apa bapak mau sarapan dulu?”
Sebenarnya Bibi tidak lapar. Namun karena mengingat mungkin bodyguardnya lapar belum sarapan. Akhirnya Bibi memutuskan mereka sarapan terlebih dahulu. Mereka sarapan di restoran hotel. Setelah selesai sarapan Bibi berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor semua karyawan menyapa dengan hormat. Bibi masuk lif khusus untuk direktur. Ia langsung menuju ke ruangannya. Setelah sampai di ruangannya, ia duduk di kursi kebesarannya.
“Man,” sapa Habibi kepada bodyguardnya.
“Iya pak.”
“Kamu boleh meninggalkan saya. Mau jalan-jalan atau duduk-duduk terserah. Saya akan panggil kamu kalau saya ada keperluan keluar.”
“Baik pak.”
Bibi menelpon Sasa sekretarisnya.
“Halo, selamat pagi. Saya Sasa sekretaris pak Habibi.” Terdengar suara Sasa di telpon.
“Halo Sa, keruangan saya sekarang.” Kata Habibi.
“Baik pak.”
Tak lama kemudian Sasa sampai ke ruangan Habibi, “Permisi pak.”
__ADS_1
“Iya masuk. “Sa, tolong buatkan saya kopi.” Bibi tampak berfikir. Dia rindu dengan kopi yang biasa dibuat Arumi, terasa pas manisnya dan kopinya.
“Iya pak.” Hanya itu pak.
Bibi terkejut dengan suara sasa. Sepertinya dia mulai melamun. “Sa, tolong panggil Riri yang ada di bagian cleaning servis.”
“Baik pak.”
Tak lama Sasa datang dengan membawa secangkir kopi dan bersama dengan Riri.
“Ini pak kopinya.” Sambil meletakkan kopi di atas meja.
“Terimakasih kasih sa. Kamu boleh kembali ke meja kamu.”
“Baik pak.” Sasa keluar dengan menutup pintu.
“Silahkan duduk.” Habibi mempersilakan Riri duduk.
“Baik pak. Maaf pak, ada apa bapak memanggil saya.” Tanya Riri.
“Saya ingin tanya tentang arumi.” Kata Habibi.
Sudah ku duga, batin Riri. “Iya pak. Bapak mau tanya apa pak?”
“Kapan terakhir kali arumi masuk?” Habibi mulai bertanya.
“Sewaktu insiden bersama bapak. Dan waktu itu kami memintanya istirahat saja di pentri gak usah ikut kerja. Saat kami tinggalkan dia sedang membaca buku. Arum selalu membaca apa bila tidak ada kerjaan pak. Sepertinya dia sangat pintar sekali.”
Bibi mendengar kan dengan penuh semangat.
“Waktu itu kami sangat sibuk mempersiapkan acara pelantikan bapak. Saat jam makan siang kami kembali arum sudah tidak ada. Dan kemudian karyawan kantin datang mengantarkan makan siang arum.”
Back to back
“Siang neng,” kata pelayan kantin.
“Eh mang Udin,” jawab Riri.
“Ini neng makan siang neng Arum.”
“Iya mang.”
“Neng Arum mana neng?” tanya Udin.
“Mungkin sholat di mushola mang.” Jawab Riri.
“Ini saya letak di meja aja ya neng.”
“Iya mang.”
“Dan kemudian kami makan bersama dengan cleaning servis yang lain. Setelah makan. Kami kembali bekerja. Namun saat kami kembali,. Kurang lebih,15 menit sebelum jam pulang. Kami melihat makan siang yang di antara mang Udin tidak bergeser sedikit pun. Mungkin Arum pulang karena sakit. Kami mengambil kesimpulan seperti itu. Dan makan siang Arum, karena takut basi, salah seorang dari kami membawanya pulang. Namun besoknya Arum gak masuk-masuk. Sampai sekarang. Dan kami sudah berulang kali menghubunginya. Namun nomornya tidak aktif.”
Habibi menarik nafas panjang dan kemudian menghempaskannya.
“Baiklah kamu boleh kembali. Kalau ada informasi tentang Arum, kabari saya.”
__ADS_1
“Baik pak.”
Riri pergi meninggalkan ruangan Habibi.
“Hu... Lega.” Tapi dia juga tidak tau keberadaan Arum. Gadis itu seperti hilang di telan bumi.
Bibi pergi ke ruang operator.
“Pagi pak Habibi,” tanya operator kantor.
Hendra menyapa Habibi dan terlihat sangat pucat. Apa aku ada berbuat salah sehingga pak Habibi langsung datang ke sini.
“Iya pagi. Hen, saya mau lihat CCTV 4 dan 5 hari terakhir.”
“Baik pak.”
CCTV mulai di mundurkan untuk melihat tanggal yang di minta Bibi. Dia melihat Arum sedang membaca buku. Namun tiba-tiba layar video hitam.
“Maaf pak. Ada terjadi masalah. CCTV mati sekitar 45 menit.” Kata Hendra.
Dan setelah di lewatkan bagian gelap tersebut. Kembali muncul CCTV. Namun Arum sudah tidak ada di pantry. Di cek ketempat lain. Tapi tetap tidak ada.
Back to back
“Hendra”
“Ibuk, dan bapak.” Hendra terkejur melihat pimpinannya. Ada apa datang ke mari batinnya.
“Tolong kami matikan cctv seleruhnya. Sekitar 45 menit. Dan ingat jangan ada yang tau. Apa bila ada yang tau tentang hal ini. Kamu saya pecat.” Kata Anita.
“Baik buk. Rahasia sangat saya jaga.”
Habibi hanya terdiam dan kecewa. “Semua video yang menangkap Arumi. Kirim ke saya.”
“Baik pak.”
Bibi kembali keruangannya. Setelah duduk di kursinya. Bibi kembali menelepon sasa.
“Halo.” Sasa mengangkat telpon.
“Halo Sa, keruangan saya.”
“Baik pak.”
“Ada apa pak?” tanya Sasa setelah sampai keruangan Habibi.
“Panggil pak Abdul hrd ke ruang saya.”
“Baik pak.”
Tak lama pak Abdul datang.
“Ada apa bapak memanggil saya?” tanya Abdul.
“Saya mau minta nomor lain yang bisa di hubungi selain nomor pribadi Arumi Nanadia.”
__ADS_1
“Baik pak, akan saya cari,” jawab Abdul.