Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 95


__ADS_3

Suasana makan malam ini laksana dengan sangat haru dan hangat. Rona bahagia tampak jelas terlihat di wajah Anita, Jhoni dan Siti.


“Siti, Arum dan Habibi sudah sangat dekat. Bagaimana kalau kita langsungkan saja.” Kata Jhoni memulai pembicaraan.


Mendengar apa yang di sampaikan Jhoni. Langsung membuat Arum dan Habibi kesedak. Dengan cepat Siti memberikan putrinya air putih. Anita memberikan putranya air putih.


“Saya gak masalah. Tergantung sama anak-anak saja. Arum umurnya baru 18 tahun.”


Anita tertawa. “Kalau saya gak masalah.”


Arum yang tadi nikmati makannya namun kini sudah ambar tanpa rasa.


Habibi tampak mulai berkeringat. Iya sudah berulang kali meminta Arum untuk menikah dengannya. Namun Arum meminta waktu.


Jhoni tertawa “Iya kami tahu dan rencana tersebut akan kita langsung 3 tahun lagi paling cepat. Kami juga gak mau nanti berurusan dengan polisi. Belum lagi rekan bisnis pasti banyak yang menyorot.”


Terlihat rona bahagia di wajah Arum. Habibi yang harus menahan hasrat, “nasib... cinta sama anak kecil.” Gumannya dalam hati. “Pi, kalau mau 3, 4, atau 5 tahun lagi. Kenapa di omonginnya sekarang.” Habibi tampak mulai kesal.


“Biar kamu senang.” Balas Jhoni sambil ketawa.


“Senang apanya sih pi.”


“Ingat ya Arum. Tante udah kasih tahu tentang hubungan kamu dengan Bibi. Jadi bagaimana Siti. Apa kamu mau jumpa dengan pamannya Mardi?”


“Iya mbak saya mau.”


“Besok kita ke sana ya. Kalau kamu melihat kondisi om Hendro saat ini. Sangat memprihatikan.”


“Iya mbak.”


Setelah mendengarkan semua cerita dari orang tua mereka. Arum dan kedua adiknya jadi lebih tahu tentang ayah mereka yang tidak banyak mereka tahu. Mereka memutuskan untuk bertemu dengan adek dari kakek mereka di pantai jompo. Bagaimana pun mereka tidak ingin dendam. Mereka berharap dengan mereka ikhlas memaafkan, akan meringankan dosa dan memberikan pahala bagi ayah mereka.


Makan malam mereka jadi terasa lebih hangat. Anita dan Jhoni tidak ada henti-hentinya bercerita tentang Mardi ayah Arumi. Seakan mereka sedang bernostalgia.


Sebelum pulang, Anita memberikan uang untuk Azzam dan Aisah dan 2 buah hp yang masih di dalam kotaknya. Azzam melihat hp tersebut.


“Ya Allah dek. Ini hp mahal.” Dengan sangat antusiasnya kedua anak itu melompat-lompat kegirangan.


Arum yang berdiri di samping Habibi nampak memanjangkan bibirnya ke depan. Hp yang di pakainya hanya hp android biasa.

__ADS_1


“Kamu mau juga dek.” Tanya Habibi.


“Gak ah.” Jawab Arum


“Beneran gak mau?” Habibi menyodorkan hp apple iphone terbaru.


Arum tampak sangat senang. “Ini untuk Arum?”


“Iya dong.”


“Makasih ya mas.”


“Iya.”


Mereka pulang ke rumah Arum di antar pak Diman. Saat sudah sampai di rumah.


“Nak. Tante Anita dan om Jhoni itu baik sekali ya. Ngasi adek-adek kamu langsung 2 juta. Hp juga.”


“Kalau om Jhoni dan tante Anita gak heran bu. Waktu car free day aja mereka ngabiskan uang 35 juta untuk ngasi ke para pedagang yang ada di monas.”


Ibu Arum tampak sangat terkejut dengan mata yang melebar dan mulut terbuka bulat. Arum tertawa melihat ibunya kemudian memukul pundak ibunya dengan sangat pelan.


*******


Setibanya di panti jompo, Kepala pantai tersebut langsung menemui Jhoni dan keluarga. Hampir satu bulan sekali mereka mengunjungi om Hendro. Memberikan uang sumbangan di panti jompo tersebut. Keluarga Jhoni merupakan donatur tetap di pantai tersebut. Anita juga memberikan perawat khusus untuk merawat Hendro. Selama Hendro di panti jompo Anita dan Jhonilah yang menanggung biaya di sana sedangkan anak-anaknya tidak pernah mengunjungi.


Seorang perawat mendorong kursi roda Hendro. Ia tersenyum saat melihat yang datang Jhoni dan keluarga. Mereka menyalami Hendro.


“Om apa kabar?” Anita mulai bertanya kepada Hendro.


“Om baik Nita. Apa kamu sehat?”


“Sehat om.”


“Terimakasih kamu masih mau mengunjungi om. Apa kamu sudah dapat kabar Mardi?”


“Sudah om.”


“Di mana dia.” Tampak air mata hendro mulai menetes.

__ADS_1


“Om, Mardi sudah meninggal 7 tahun yang lalu.”


Hendro langsung menangis. Mardi, maafin om Mardi. Bahkan om tidak di berikan kesempatan untuk meminta maaf kepada mu nak.”


“Om, di sini ada istri Mardi dan juga anak-anak Mardi. Cucu om.” Jelas Anita.


Mata hendro melihat ke arah Siti. Kemudian berpindah ke arah tiga orang anak yang sedang berpelukan. Siti mendekat ke kursi roda Hendro. “Saya Siti. Istri Mardi.”


Hendro kembali menangis saat menatap wajah Siti. Hanya penyesalan yang menyelimuti hatinya saat ini. Bahkan dia selalu meminta di berikan umur panjang agar dapat berjumpa Mardi.


Saya tidak sanggup berjumpa dengan kalian. Saya orang yang pantas kalian benci. Saya yang sudah menghancurkan masa depan kaponaan saya sendiri.


“Om. Kami mengikhlaskan semua. Kita mulai semua dari awal.” Pinta Siti.


Air mata tak henti-hentinya mengalir di mata Hendro. Sudah tidak ada lagi tubuh tegap, tinggi nan kokoh. Saat ini ia hanyalah orang tua renta yang telah di buang oleh anak-anaknya. Setelah berhasil meredam kesedihannya mereka berjalan-jalan di sekitar panti. Hendro menanyakan begaimana kehidupan Mardi.


Air mata penyesalan tidak pernah ada putusnya mengalir dari pelupuk matanya. Dia benar-benar menyesal. Siti menceritakan kepada Hendro, kehidupan Mardi. Bagaimana mereka berjuang hidup setelan Mardi meninggal. Namun senyum terukir indah di mata Siti saat iya mengatakan bahwa Mardi imannya yang sangat sempurna. Mampu memimpin keluarganya menjadi muslim yang taat dan memiliki anak yang soleh dan solehah.


Mata hendro melihat ke depan. Air mata nya terus menetes.


“Mas Hendra, mbak Widi, Mardi. Kalian sudah berkumpul di sana. Kalian pasti membenci aku. Aku mohon maafkan aku.” Kata Hendro.


Mata mereka terfokus ke arah pandang hendro.


“Mbak Widi, mas Hendra, Mardi, apa kalian menjemput aku. Aku sudah siap untuk pergi sekarang. Setidaknya aku sudah bisa tenang. Keluarga mu sangat baik Mardi. Mereka dengan ikhlas memaafkan om mu ini.” Terlihat senyuman di wajah keriput Hendro. Namun tiba-tiba saja hendro memegang jantungnya. Nafasnya mulai terdengar sesak.


“Om,” Anita memegang tangannya.


“Terimakasih Nita. Terimakasih kasih Jhoni. Kalianlah yang tulus kepada manusia hina ini. Kalian juga menjadi sahabat terbaik kaponaan om. Dia sangat bangga memiliki kalian dalam hidupnya.”


“Om, ikuti Nita om. asyhadu an laa ilaaha illallah, waasyhaduanna muhammadar rasuulullah". Yang di ikuti Hendro.


Siti memegang tangan Hendro. “Om, Kami sudah memaafkan semuanya.”


Hendro menutup matanya dengan senyum dibibirnya.


Hari itu juga, jenazah Hendro di bawa ke rumah Arumi. Mereka memakamkannya jam 4 sore. Setelah 2 jam ia meninggal.


 

__ADS_1


 


__ADS_2