
Rasid meninggalkan ruangan tersebut dan matanya melihat sosok cantik yang tertidur berselimutkan jas.
Saat azan Maghrib, Habibi sholat di dalam ruangannya. Ia beberapa kali memanggil arum. Namun gadis itu sedikit pun tidak bergerak. Tampaknya tidur gadis itu sangat nyenyak.
Jam 9 malam, Habibi baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Rasid yang berada di ruangan Habibi masih sibuk dengan monitor laptopnya.
“Kamu lanjutkan di rumah.”
“Baik pak.” Kata Rasid sambil menyimpan file dokumen di laptopnya.
“Besok kita rapat direksi dan juga jumpa dengan klien. Kamu atur tempat untuk jumpa klien.”
“Baik pak. Klien kita ini pencinta masakan padang pak.”
“Jam berapa kita jumpa dengan klien?”
“Jam makan siang pak.”
“Cari restoran Padang yang terenak.” Kata Habibi.
“Baik pak. Saya permisi.”
“Iya.”
Rasid keluar dari ruangan tersebut. Setelah membereskan barang-barangnya Habibi mendekati Arumi. Habibi tersenyum, saat melihat gadis itu tampak tidur dengan nyenyaknya.
“Bangun sayang.” Namun tidak ada terlihat bahwa gadis itu akan bangun. Sudah berulang kali ia mencoba membangunkan namun gadis itu terlihat senyum-senyum seperti sedang bermimpi.
“Hai bagun,” kata Habibi sambil mencubit hidung yang berbatang namun kecil tersebut.
Arum Tampak bergerak, dan mulai membuka matanya. “Udah selesai kerjaannya mas?”
“Sudah. Ayo pulang.”
Arum melihat jam di tangannya. Ia terkejut saat melihat sudah jam 9 lewat. “Mas kok gak bangunkan Arum sih. Arum jadi gak sholat Maghrib nih.” Dengan bibirnya yang maju ke depan.
“Siapa bilang gak mas bangunin. Udah berulang-ulang kali mas panggil. Kamunya aja yang gak mau bangun.”
Arum senyum. “He....he..... Sambil melepaskan headset yang ada di telinganya.”
__ADS_1
Habibi menggeleng-geleng kan kepalanya. Ia mencubit hidung gadis itu kembali.
“Tadi Arum bosan lihat hp. Terus Arum hidupkan music. Eh malah ketiduran.” Dengan senyum yang memamerkan gigi putihnya.
“Kamu nih.” Sambil mengusap kepala gadis tersebut. “Gimana tadi kuliah nya? Capek?” tanya Habibi kemudian.
“Gak juga.”
“Tapi kelihatannya kamu capak banget dek.”
“Lumayan sih mas.”
Dilihatnya mata gadis tersebut. “Mas rindu dek. Udah seharian gak lihat kamu.”
Jantung Arum berdetak dengan cepat. “Mas. Hem.... Ayo pulang.”
“Dek, mas boleh minta sekali aja. Kangen.”
Arum diam. Wajahnya memerah,. Ia tak sanggup melihat pria tampan di depannya. “Ih mas apaan sih.”
“Udah yuk dek. Kalau lebih lama lagi, mas bisa hilaf.”
Habibi kembali mencubit hidungnya.
“Makasih ya sayang.
“Untuk apa?” Arum memukul dada bidang pria tersebut dan tangannya di pegang Habibi.
“Jangan mancing dek.”
Habibi mengeluarkan kotak kecil berwarna merah di dalam saku celananya. Ia membuka kotak tersebut, yang tampak sepasang cincin,. Yang satu polos tanpa permata dan yang satu lagi terdapat bermata berlian. Cincin yang terlihat simpel namun elegan. Ia memegang tangan Arum dan memasukkan cincin tersebut ke jari manis gadis tersebut. Arum melihat jarinya, cincin yang sangat pas di jarinya.
“Ingat ya dek. Kamu sudah punya calon suami. Pasangkan,| sambil menyodorkan cincin yang berada di dalam kota.
Dengan tangan yang tampak gemetar, Arum memasukan cincin tersebut ke jari Habibi. Habibi mencium kening gadis tersebut.
“Dah yuk dek. Mas takut hilaf.”
Arum menganggukkan kepala. Habibi memegang tangannya saat keluar dari ruangan. Arum tidak menolaknya.
__ADS_1
*******
Di dalam mobil.
“Dek, kita makan dulu ya.”
“Mas, Arum takut ibu cemas. Arum belum pulang-pulang.”
“Mas udah kasih tau ibu kalau kita lembur. Jadi lambat pulang. Kita makan dulu ya dek. Mas dah lapar kali.”
“Iya.”
Habibi masih memegang tangan Arumi dan tangan satunya lagi memegang kemudi. “Udah dapat teman?”
“Udah mas.”
“Cewek atau cowok?”
“Cewek. Namanya Naura. Terus juga teman-teman Ardi.”
“Ardi?” tanya Habibi.
“Iya Ardi jadi senior Arum,” sambil tersenyum. “Tadi kami makan siang juga rame-rame. Banyak sih mahasiswa baru yang heran lihat Arum bisa langsung dekat dengan senior. Kami tadi makan siang juga sama-sama.”
Mereka sampai di restoran Sunda. Habibi memarkirkan mobilnya dan mereka masuk ke dalam mengambil ruang VIP. Setelah selesai makan mereka langsung pulang. Mobil berhenti di depan rumah Arumi.
“Mas, besok jam 7 kurang Arum sudah sampai di kampus dan selesainya jam 5.”
“Besok mas antar.” Kata Habibi.
“Gak usah, Arum pakai taksi aja, mas jadi buru-buru kalau ngantar Arum.”
“Gak apa. Besok tunggu mas ya.”
“Iya mas.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
__ADS_1
*******