Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 99


__ADS_3

Saat makan malam bersama Ardi, Siti tak henti-hentinya bertanya tentang kondisi kampung mereka. Para tetangganya dulu, orang-orang yang dikenalnya. Saat ia tau Ardi baru pulang kampung.


Arum tertawa melihat sang ibu, yang bertanya tidak ada habis-habisnya.


“Ibu, Ardi mana mungkin tau tentang warga di sana.” Kata Arumi.


Ardi hanya senyum. “Waktu saya pulang, gak banyak dapat berita baru buk. Kalau ada berita baru, tentang warga desa, pasti mama bakalan cerita gak putus-putus,” balas Ardi.


Siti sangat rindu akan desa yang sudah di huni nya sejak ia lahir. Namun dia tidak memiliki apa-apa di sana, ayahnya seorang pemabuk. Ayahnya menjual seluruh harta benda milik kakeknya. Menjual rumah peninggalan kakek disebabkan meminjam uang kepada bandar judi di desanya sehingga rumah di rampas paksa bandar judi. Setelah tidak memiliki apa-apa lagi, Ayahnya yang bernama Burhan masih tetap berjudi dan meminjam uang kepada bandar judi dan mengatakan bahwa ia masih memiliki kebun. Namun saat di tagih hutang, dan akan mengambil kebun tersebut ternyata kebun itu sudah di jual. Untuk membayar hutang kepada lentenir. Membuat bandar judi tersebut marah, dan menyuruh anak buahnya untuk menghayar ayah Siti. Efek mendapatkan pukulan keras di kepala, tulang rusuk yang patah, kaki, tulang paha patah dan tangan juga patah. Membuat nyawa burhan tidak dapat di tolong.


Siti dan ibunya, berjuang untuk hidup dan bekerja di perkebunan. Karena susahnya kehidupan Siti dan ibunya, Siti hanya menamatkan sekolah dasar. Saat berusia 17 tahun ibunya meninggal karena sakit. Sejak saat itu Siti hidup sebatang kara. Sampai ia berjumpa dengan Mardi dan menikah.


Pada akhirnya mereka hanya cerita-cerita ringan saja. Setelah makan selesai, Ardi permisi untuk pulang.


“Terimakasih ya buk. Saya sudah kenyang dan mau pamit pulang.” Kata Ardi sambil tersenyum.


“Iya nak Ardi. Terimakasih ya sudah mau bantu Arum. Sering-sering ke sini ya nak.”


“Iya buk. Kalau gak banyak tugas, saya ke sini.”


“Ibuk titip salam ya sama papa dan mama kamu. Kalau mereka ke sini. Ajak ke rumah ibuk.”


“Iya buk. Papa sama mama, kalau ke sini cuma sebentar. Untuk urusan dinas atau ke perusahaan yang mengambil hasil kebun.”


“Iya ibuk ngerti, kamu hati-hati ya.”


“Iya buk. Assalamu’alaikum.” Kata Ardi sambil menyalami tangan Siti.


“Wa’alaikumsalam.” Balas Siti


Arum berjalan mengantarkan Ardi ke luar.


“Di.”


“Iya.”


“Jadi lihat jadwal itu pagi atau siang?” Tanya Arum.


“Biasanya sore baru di tempel. Jam 7 malam baru kita lihat ruangnya.”


“Kamu beneran ngantar aku kan di?”


“Iya. Pulang dari kampus aku bakal langsung ke sini. Dah kamu lanjut belajarnya. Aku pulang dulu.” Kata Ardi.

__ADS_1


Arum menganggukkan kepalanya. “Di makasih ya.”


“Iya. Jangan kurang istirahat ya. Ntar kamu sakit.”


“Oke.” Dengan membulatkan jari nya.


Ardi masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.


*********


Hari ini sangat lelah rasanya. Mereka yang melakukan rapat dengan karyawan yang memakan waktu 4 jam untuk mencapai kesepakatan. Dilanjut jumpa klan. Rasanya benar-benar lelah. Arum duduk di samping Habibi. Habibi tampak fokus mengemudi.


“Mas, nanti Arum pergi sama Ardi. Untuk lihat ruangan ujian.”


“Kenapa sama Ardi? Sama mas aja.”


“Mas kan capek. Lagi pula Ardi kuliah di UI. Dia tahu ruang-ruanganya. Ardi sudah janji sama Arum. Dia bakalan ke rumah, sepulang dari kampus.”


Sebenarnya Habibi sangat cemburu dengan Ardi. Namun ia tidak boleh egois. Karena memang, Ardi teman Arum dari kecil. Ia juga tahu kalau Ardi bukan cowok yang kurang aja.


Pria tersebut sangat sopan dan tidak nakal. Selain itu juga, Ardi memiliki pemahaman agama yang sangat tinggi. Kalau di lihat, Arum bersahabat dengan Ardi, sama dengan maminya yang bersahabat dengan ayah Arum sejak mereka masih kecil. Jadi karena itu. Habibi, harus menepikan kecemburuannya.


“Yakin mau pergi sama Ardi dek. Gak sama mas?”


“Tapi hati-hati ya dan jangan ngapa-ngapain.”


“Iya Arum tahu.” Sambil memanjangkan bibirnya.


Habibi memarkirkan mobilnya di depan rumah Arum. Arum yang mau membuka pengunci pintu dengan cepat ditarik Habibi tangannya. Arum terdiam. Biasanya pria ini tidak pernah lagi memegang dan menciumnya. Setelah beberapa bulan yang lalu saat ia pindah ke rumah ini. Habibi benar-benar menepati janjinya. Untuk tidak melakukan hal tersebut lagi. Namun kali ini kenapa Habibi memegang tangannya. Jantung Arum mulai berdetak dengan kuatnya seperti sedang di pukul oleh genderang. Arum mengangkat kepalanya. Melihat Habibi. Tatapan mata Habibi saat sulit untuk di baca. Habibi memegang belakang leher Arumi dan menariknya. Ia mulai mencium bibir mungil tersebut dengan sangat buasnya. Arum tidak bisa menarik kepalanya. Habibi memegang belakang lehernya sangat kuat. Membuat Arum tidak bisa bergerak. Ciuman tersebut serasa semakin panas. Habibi mulai memasukkan lidahnya kedalam mulut Arum. Ia mulai mengaitkan lidahnya dengan lidah Arum. Setelah puas ia ******* bibir mungil tersebut. Habibi melepaskannya. Arum mulai menarik nafas dalam-dalam setelah tadi ia merasa kehabisan nafas.


Arum melihat Habibi. Tatapan matanya masih sama seperti yang tadi. Arum sungguh tidak paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Habibi membuka kunci mobilnya secara otomatis.


“Turun lah. Setelah selesai langsung pulang.” Terdengar suara dingin dari Habibi.


Arum turun dari mobil sambil menganggukkan kepalanya.


Habibi langsung menginjak gas mobilnya menuju ke gerbang. Security dengan cepat membuka pagar tersebut. Arum yang melihat Habibi pergi. Masih memegang dadanya. Detak jantung nya yang rasanya belum stabil. Sudah 3 kali Habibi mencuri menciumnya. Ini merupakan ciuman ke 4 nya. Tapi tidak pernah Habibi seperti ini. Ciumannya, seperti orang yang sedang emosi. Arum masih berdiri di teras mata nya masih terarah ke pagar tinggi tersebut.


“Kak Arum. Ica dan abang Azzam ke mesjid dulu.” Suara cempreng yang melengking tersebut membuyarkan lamunan Arum .


“Hati-hati ya dek di mesjidnya. Ingat ke mesjid cari pahala bukan cari pacar.”


“Bang Azzam kak, yang dekat-dekat sama cewek.”

__ADS_1


“Kamu ya dek. Yang dekat-dekat sama cowok.” Kata Azzam tak mau kalah.


“Udah-udah jangan berantem. Kalian kecil-kecil udah mau pacaran. Pokoknya gak ada yang cari pacar.”


“Iya kak kami pergi dulu,” kata Azzam sampai menyalami tangan kakaknya.


Azzam menstater motor metik Arumi dan membonceng Aisah.


“Dek, bawa motor hati-hati.”


“Iya kak.”


Arum masuk ke dalam.


“Assalamu’alaikum bu.” Sambil menyalami tangan ibunya.


“Wa’alaikumsalam.”


“Bu Arum langsung siap-siap ya. Nanti Ardi datang.”


“Iya nak.”


*******


visual Anita, Jhoni, habibi, dan Arumi










__ADS_1


__ADS_2