Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 130


__ADS_3

Arum melihat rumahnya yang sedang di hias. Ia akan berangkat kekampus. Ia melihat sang ibu yang sedang duduk di meja makan. Mbak Keke dan juga mbak Ratih art barunya nampak sibuk menyiapkan minuman serta cemilan untuk para pekerja yang mendekor rumah tersebut. Arum duduk di depan ibunya.


“Orang yang di kirim mami ya Bu?”


“Iya nak. Sebenarnya ibu mau masak tapi kata ibuk Anita gak usah masak. Semuanya sudah dipesan ketering. Tapi masak sih, kita gak siapin apa-apa.”


“Iya sih Bu. Tapi kalau kata mami sudah di siapkan semua. Kita mau masak apa lagi.”


“Kak Arum mau nikah ya?” Tanya Aisah.


“Anak kecil diam.”


“Sombong amat.”


“Nanti Azzam yang jadi walinya kak.”


“Udah kalian diam.” Balas Arum.


Setelah selesai sarapan, Arum bersiap untuk ke kampus.


“Cie...cie... Wajah non Arum tampak beda.”


“Beda gimana sih mbak Keke.” Sambil memegang wajah nya.


“Tampaknya bahagia banget non. Kelihatan lagi senangnya.”


“Mbak Keke kapan,” Arum balek menyerang.


“Belum tau non. Masih abu-abu tapi kalau non punya rekomendasi, bisa saya pertimbangkan non. Tapi orangnya yang seganteng mas Ardi ya.”


Mata arum terbuka lebar. “Ganteng amat mbak.”


“Biar bisa merubah keturunan gitu.”


Arum ketawa. “Sama mas Anton aja mau gak mbak.”


Keke diam. Melihat ekspresi keke Arum tersenyum dan kemudian pergi.


**********


Arum duduk di sebelah Naura, gadis tersebut melihat sahabatnya tersebut. Tampak wajah Arum berseri-seri.


“Lagi jatuh cinta?” Tembakan yang langsung mengenai jantung.


Arum diam melihat wajah sahabatnya.


“Senang banget kelihatannya.”


Arum memegang kedua pipinya. “Apa kelihatan?”


“Iya dong kelihatan banget.”


“Apa iya,” masih tangan menpel dipipinya. “Arum mau cerita. Tapi jangan ketawain ya,”


pinta gadis tersebut.


Naura menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya. Petanda ia siap mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh sahabatnya itu. “Ara bakalan dengerin dan gak akan ketawa. Janji.” Sambil mengangkat 2 jarinya.


Arum cukup lama diam mempersiapkan apa yang akan di katakannya.

__ADS_1


“Arum di lamar Sabtu besok.”


Mata naura terbuka lebar dengan mulut yang terbuka. “Sama siapa?”


“Mas Habibi.”


Kembali gadis tersebut melebarkan matanya.


“Pak Habibi sudah gak tahan.” Kata Arumi.


“Gak tahan apa nya?”


“Gak tahan nunggu Arum. Arum udah bilang ke mas Bibi, untuk nungguin Arum tamat. Tapi katanya dia nanti ketuaan.”


“Emangnya umur pak Habibi berapa?” tanya Naura.


“29.”


Naura menganggukkan Kepalanya. “Iya wajar juga ya. Lagian kalau yang lamar pak Habibi, sepertinya gak ada alasan untuk nolak. Kaya, ganteng, mapan, pintar, keluarga berada, terpandang dan berpendidikan. Keluarganya baik banget. Pokoknya sempurna. Kalau Ara selaku cewek nih berani ngasih pak Habibi nilai 100. Lagian, pak Habibi tu kelihatan kali sayang sama Arum. Apa pak Habibi takut di tikung bang Ardi?”


Arum membesar kan matanya. “Kenapa ke ardi sih?”


“Iya.”


“Aku sama Ardi tu sahabat sejak kecil.”


“Gak ada larangan untuk teman boleh cintakan? Bang Ardi itu, kelihatan kali sayang Arum.” Jelas Naura tak mau kalah.


“Jangan sembarangan ngomong deh. Dia sayang sama Arum, hanya sebatas sahabat. Sabtu Ara datang ya. Arum cuman kasih tahu ke Ara.”


“Oke.”


“Ara dari sore atau siang aja di rumah Arum. Entar Arum make up kan.”


Obrolan mereka terhenti saat dosen masuk dan memberikan materi. Setelah habis jam kuliah, dosen pun meninggalkan ruangan. Ara dan Arum sedang menyimpan buku serta penanya. Mereka keluar dari kelas, Ardi sudah berdiri di depan pintu.


“Ardi?”


“Kantin yuk. Doni Ari, dan Sarah udah nungguin di sana.”


Arum dan Naura mengikuti Ardi. Mereka duduk di satu meja.


“Ada apa, tanya Arum.”


“Gak tau. Kita di suruh duduk dan makan.” Jawab Doni.


“Oh iya bang, gimana sama produser filem kemarin?” Tanya arum


“Udah Abang tolak. Gitu buka berita tentang prosedur tersebut, ternyata sudah banyak artis yang terjerat kasus dengannya.”


“Ada apa Di.” Tanya Ari.


“Iya nih bikin penasaran,” Sarah tampak tak kuasa menahan rasa ingin tahunya


“Kemarin yang mau beli mobil aku sudah nelpon dan aku sudah jumpa dengan orang suruhannya atau bisa di bilang, asisten pribadinya. Soalnya jadwal pulang ke Indonesianya di tunda.” Jelas Ardi.


“Terus?” Tanya Doni


“Ya kita udah lakukan transaksi.”

__ADS_1


Mata mereka tampak motot saat mendengarnya.


“Di, apa yang kemarin itu masih berlaku?” Tanya Ari.


“Masih,” jawab Ardi. “Mumpung belum aku depositkan.”


“Uang sebanyak itu untuk apa?” Tanya Ari.


“Mau di tabung untuk buka rumah sakit kalau udah tamat,” jawab Ardi. “Oh iya, aku mau transfer. Mana no rekening kalian.”


Mereka memberikan no rekening nya masing-masing.


“Di untuk Arum kirim ke rekening Ara aja.”


Ardi menganggukkan Kepalanya. Iya mentransfer 10 juta perorang. Mereka melihat SMS banking yang masuk kerekeningnya.


“Di ini gak salah,” melihat nominal di SMS tersebut. “Katanya 5 juta. Ini kenapa 10 juta.” Tanya Ari.


Ardi tertawa. “Sengaja di lebihkan. Ya Reski kalian.”


Teman-temannya tampak sangat senang. Mimpi apa mereka dapat reski nomplok gini. Mereka tak ada hentinya mengucapkan terimakasih.


“Eh kita belum pesan Don,” Ari mengingatkannya.


“Kalian pesan aja. Aku yang bayar.”


Ponsel Arum berdering di lihatnya Habibi memanggil.


“Misi ya. Arum angkat telepon dulu.” Arum langsung pergi dari meja tersebut.


“Hallo Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam. Adek dah pulang kuliah?”


“Sudah mas.”


“Langsung ke kantor ya.”


“Iya mas. Ini Arum langsung berangkat.”


“Ya udah, Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Arum kembali ke meja tersebut. “Maaf ya Arum gak ikut makan. Lagi ada kerjaan.”


Ardi mengerutkan keningnya. “Kenapa buru-buru.” Tanya pria tersebut.


Arum melihat jus jeruk pesan Ardi sedang di antara ibuk kantin. Pemuda tersebut memegang gelas tersebut. Dengan cepat arun menyambarnya dan meminum air jus tersebut. Setelah jus tersebut hampir habis, ia melepaskan sedotan Pipet tersebut dari mutnya kemudian ia berdiri.


“Dah ya Arum duluan. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam,” jawab Doni dan Ari yang suaranya lebih mendominasi.


Ardi hanya diam memandang Arum yang semakin jauh. Kemudian ia menjawab. “Wa’alaikumsalam.”


********


Arum menembus kemacetan. Berhubung hari Jum’at para pegawai biasanya akan mengejar sholat di mesjid di luar areal kantoer mereka. Arum naik lift dan menekan tombol 27. Pintu lift terbuka saat sampai di lantai 27. Arum yang baru datang, nampak Sasa sedang duduk di mejanya.

__ADS_1


“Mbak Sasa.”


“Iya Rum. Duh yang mau di lamar.”


__ADS_2