Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 356


__ADS_3

3 orang bayi di dalam baby stroller itu terlihat begitu sangat menikmati pagi yang cerah seperti ini. 2 orang bayi laki-laki memakai baby stroller berwarna biru dan 1 bayi perempuan lagi berwarna pink. Ke tiga bayi yang begitu sangat menggemaskan itu hanya memakai pampers dan juga pelindung mata. Ketiga bayi itu terlihat begitu sangat santai menikmati panas matahari pagi.


“Si kembar Zainab dan juga Zidan tampak tertidur lelap tanpa menghiraukan panas pagi yang memanaskan kulitnya.” Arumi yang tersenyum memandang bayinya.


Arum tersenyum ketika memandang ketiga bayi yang hanya selisih usia 1 bulan tersebut. “Gak enak ya Al jemuran di rumah sendiri makanya lari ke sini biar banyak teman," ucap Arum yang tersenyum memandang Al Gazali.


“Iya, Al lagi cari tempat yang rame," ucap Ara.


“Boleh gak bila Vira sama Vino, Al dan Zainab?" ucap Arum yang memandang wajah bayi yang ganteng tersebut.


Ara tertawa saat mendengar ucapan sahabatnya. “Dilihat dari sudut pandang Adik laki-laki yang akan menjadi calon suami, maka calon isterinya itu tidak termasuk dalam daftar mahramnya sama sekali. Itu artinya, mereka boleh saling menikah, walau kakak mereka masing-masing sudah menikah dan menjadi saudara ipar," jelas Naura yang memandang sahabatnya.


"Al, kalau suka dengan Zainab boleh kok Al," ucap Arum yang tersenyum dan sedikit mencubit pipi Al Gazali yang berisi dan bulat.


“Anaknya mami Ara dapatnya tetangga depan rumah semua kalau jadi," ucap Ara yang memandang si imut Zainab.


Ara tersenyum memandang tiga bayi di dalam stroller baby. "Lucu-lucu," ucapnya yang sibuk dengan ponsel di tangannya. Ara sibuk merekam kegiatan pagi Al Gazali dan si kembar Zainab dan Zidan.


“Dulu sewaktu bayi, Vira dan Vino yang seperti ini. Sekarang ada si kembar Zainab dan Zidan serta Al Gazali. Ara sudah gak sabar pengen lihat ketiga bayi ini bisa berjalan bersama," ucap Ara dengan senyum mengembang di bibirnya.


“Pasti nambah repotnya. Kalau dulu kita kejar hanya 2 bayi sekarang tiga bayi," ucap Arum yang tersenyum.


“Waktu berjemur sudah habis,” ucap Arum setelah 30 menit bayinya berjemur di bawah sinar matahari.


Ara memandang putranya, “kita pulang nanti kalau mau main ke sini datang Lagi,” ucapnya.


“Dada Al nanti datang kesininya jangan pakai pampes lagi ya,” ucap Arum yang tersenyum memandang bayi tampan tersebut.


“Ara pulang dulu,” ucap Ara yang mendorong troli bayinya bersama dengan seorang baby sister yang mengikutinya.


“Udah sekarang kita mandi,” ucap Arumi ketika baby sisternya mendorong troli bayinya. Arumi berjalan dengan sangat berhati-hati.


***

__ADS_1


“Mi, ini susu adek kembar," ucap Vira yang datang ke kamar Arum dengan membawa dua botol susu di tangannya.


Arum tersenyum dan mengambil botol susu tersebut.


"Terima kasih ya kak Vira," ucapnya yang memasukkan kepala dot kompeng ke mulut zidan dan kemudian ke mulut Zainab.


Vira naik ke atas tempat tidur dan menegangkan kompeng Zainab.


“Apa kak Vira gak belajar?" tanya Arum yang tersenyum memandang putrinya.


“Sudah mi, PRnya juga sudah dikerjakan,," ucap gadis kecil yang begitu sangat disiplin dengan waktu tersebut.


Arum tersenyum ketika mendengar jawaban putrinya. Putrinya begitu sangat menyayangi kedua adik kembarnya. “Apa sudah selesai ngajarin Rangga?" ucap Arum.


“Bentar lagi Vira akan ajarkan Rangga bila adek kembar sudah tidur," ucapnya.


Arum tidak pernah menyangka bahwa putrinya yang begitu sangat manja dan juga cerewet sekarang sudah terlihat begitu sangat besar. Bahkan Vira tidak pernah berhenti mengajarkan Rangga layaknya seorang kakak terhadap adiknya.


Arum juga sering melihat Vira yang berada di dalam kamarnya di saat malam ketika si kembar menangis. Anak gadisnya itu sudah pandai membantu mendiamkan Adik bayinya.


“Iya Mi, sekarang Vira sudah jadi Kakak beneran,” ucapnya.


Habibi masuk ke dalam kamarnya, Habibi memandang putrinya yang sedang memegang botol kompeng adiknya. “Kak Vira lagi ngapain?" tanya Habibi.


"Lagi kasi adik 0kembar susu Pi,” jawabnya.


Habibi tersenyum dan duduk di samping putrinya. Ia mencium pipi putrinya kiri dan juga kanan. Habibi mengusap rambut putrinya yang panjang. “Untung aja ada Kak Vira yang pandai jagain adik,” pujinya.


“Mimi susah Jaga adek kembar bila sendiri. Makanya Vira bantu,” ucap Vira yang mengetahui bahwa adik kembarnya Selalu nangis secara bersamaan.


“Anak pipi benar-benar pintar,” ucap Habibi yang begitu kagum melihat putrinya.


"Mimi, Vira mau ajari Rangga belajar dulu. Vira ngajarinnya di bawah, soalnya kalau ngajarin di sini nanti Adek kembar bangun." Vira meletakkan botol susu yang sudah kosong Itu di atas nakas.

__ADS_1


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “kak vira nanti tidurnya jangan kemalaman ya,” Arumi tersenyum memandang wajah putrinya.


“Ya mi selesai ajarin Rangga, Vira langsung tidur,” ucap Vira.


Vira mencium pipi adik kembarnya satu persatu dan kemudian mencium pipi Mimi dan juga pipinya. Ia kemudian turun dari tempat tidur. “Vira ajarin Rangga dulu ya Mi,” ucapnya yang sedikit berlari meninggalkan kamar tersebut.


Habibi tersenyum menatap istrinya. “Mas gak nyangka Vira bakalan bisa sedewasa ini,” ucapnya yang mengingat usia putrinya yang baru akan menginjak 7 tahun.


Arum menganggukkan kepalanya.


“Mas mau lihat Rangga sama Vira belajar dulu ya,” ucapnya yang selalu mengawasi putrinya saat mengajari Rangga. Habibi juga selalu menemani putrinya tidur terlebih dahulu sebelum ia masuk kedalam kamarnya.


“Iya Mas,” jawab Arumi.


Habibi tersenyum dan mencium kening istrinya. “Udah nggak sakit bekas Cesar nya?"ucapnya.


“Masih sering sakit Mas kadang perih,” keluh Arumi..


Habibi mencium bibir istrinya. “Cepat sembuh ya perut,” ucapnya yang mengusap perut istrinya.


“Iya Mas,” jawab Arum yang mencium bibir suaminya. "Mas masih puasa jadi ciumnya enggak boleh banyak-banyak nanti minta,” ucap Arum yang tersenyum.


“Bentar lagi Mas buka puasa dek,” ucapan Habibi.


“Iya nunggu lepas hari,” jawab Arumi.


“Mas lihat anak-anak belajar dulu," ucapnya yang beranjak dari duduknya.


Habibi mencium bayi kembarnya sebelum pergi meninggalkan kamarnya.


Arumi tersenyum melihat suaminya. Kebahagiaan keluarganya terasa semakin lengkap dengan kehadiran bayi kembarnya. Sikap putrinya yang semakin hari semakin terlihat lebih dewasa, dan juga Rangga yang selalu menjadi pelindung bagi Vira.


“Mimi berharap dan selalu berdo’a agar anak-anak mimi akan menjadi anak yang baik pintar soleh dan soleha. Saling melindungi dan menjaga satu sama lain,” ucap Arumi yang memandang bayi kembarnya. Arum mencium pipi bayi kembarnya secara berganti-gantian, Ia kemudian berbaring di tengah-tengah bayi kembarnya tersebut.

__ADS_1


****


__ADS_2