
Gak terasa sudah 1 bulan Arumi menjadi asisten pribadi Habibi. Suara sms bankingnya berbunyi. Tanda uang gaji nya sudah masuk. Arum membuka sms banking tersebut dan dilihatnya nominasi uang yang masuk ke rekeningnya. Sesaat Arum terdiam tampa suara. Kembali melihat lagi dan menghitung jumlah digit angka yang masuk ke rekeningnya. Ini benar Arum gak salah. Arum serasa sedang bermimpi sedang menang undian. Di carinya nomor hp Anita dan langsung menghubunginya. Arum takut kalau perusahaan salah transfer
Tak lama terdengar suara Anita dari seberang. Suara yang halus dan lembut. Terdengar sangat sopan dalam setiap tutur katanya.
“Hallo Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam ibuk.” Balas Arum.
“Ada apa Rum?”
“Buk, gaji Arum sudah masuk ke rekening. Tapi kenapa nominalnya sangat besar buk. Apa ada kesalahan?”
“Itu ya sayang, gak ada. Sesuai jumlah gaji bulanan kamu sayang.” Balas Anita.
“Tapi buk, apa itu tidak terlalu besar.”
“Gak sayang. Itu sangat pas dengan hasil berja kamu.”
“Ya allah. Terimakasih ya buk.”
“Iya sayang. Assalamu’alaikum.” Kata Anita mengakhiri pembicaraan.
“Wa’alaikum salam.”
Arum serasa ingin melompat kegirangan. Arum berkeinginan kredit motor kalau dia sudah gajian. Karena dirasanya bahwa dia sangat membantukan motor. Naik gojek dan taksi online setiap hari terasa sangat boros. Arum akan naik gojek online saat pergi ke rumah Habibi dan dia akan pulang dengan taksi online. Apa bila dia pulang pakai ojol bisa-bisa ibu Anita dan Habibi akan ribut. Ah, Arum teringat akan menelepon ibunya. Tak lama telpon tersambung.
“Hallo Assalamu’alkum.”
“Wa”alaikum salam ibu. Ibu apa kabar? Ibu sehat? Ibu sedang apa? Ibu sudah makan?” Pertanyaan bertubi-tubi yang di lakukan Arumi saat menelepon ibunya. .
“Alhamdulillah, ibu sehat nak. Ibu juga sudah makan. Saat ini ibu sedang nonton TV aja. Ada apa nak. Apa kamu sehat.”
“Alhamdulillah sehat bu. Adek-adek apa kabar bu?”
“Adek-adek sehat semua.”
__ADS_1
“Bu,” kata Arum.
“Ya nak.”
“Arum sudah gajian bu, gaji Arum ternyata sangat besar bu. Bahkan Arum bisa membeli satu buah motor metik dan masih ada uang untuk keperluan satu bulan terakhir.” Jelas Arum kepada ibunya. “Tapi...”
“Ibu benar-benar senang dengarnya nak. Bos kamu benar-benar baik dan sayang sama kamu.”
“Iya bu. Alhamdulillah.”
“Kamu beli saja motor nya, uang kiriman ibu gak usah kamu pikirkan. Yang di kirim bulan kemarin, masih banyak. Lagi pula kamu memang membutuhkan kendaraan.”
“Iya bu. Ibu yakin kalau ibu masih ada uang?”
“Yakin sayang.”
“Bu,. Kalau ibu butuh uang kabari Arum ya.”
“Iya sayang.” Balas ibu .
“Bu udah dulu ya. Arum mau telpon Ardi. Siapa tau dia gak sibuk. Jadi bisa temani Arum beli motor.”
“Iya bu. Assalamu’alkum.”
“Wa’alaikum salam.”
Arum mencoba menghubungi Ardi. Karena hari ini hari sabtu dia libur. Tak lama terdengar Ardi mengangkat teleponnya.
“Hallo Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Ada apa Arumi Nanadia?”
“He ...he ..... Kenapa gak sekalian pakai Binti Mardi Erlangga.” Balas Arum.
“Itu akan aku ucapkan saat ijab kabul.” Balas Ardi dengan santainya.
__ADS_1
Arumi yang merasa pipinya memerah. Untung di telpon. Kalau tidak, Ardi pasti akan melihat pipinya yang memerah karena naluri tubuhnya tanpa diperintahkannya.
“Hallo,” suara Ardi terdengar memanggil. “Hallo.... Hallo.... Arum.”
“I...i... Iya.” Jawab Arum tergagap.
“Kenapa langsung menghayal? Ngarap ya.” Suara Ardi terdengar sedang menggoda Arumi.
“Ih. Siapa yang ngarep. Kamu sibuk?”
“Gak tuh ada apa,” balas Ardi.
“Bisa temani Arum?”
“Kemana? Hari ini aku gak sibuk. Aku siap jadi supir kamu.”
“Arum mau beli motor.”
“Motor?”
“Iya motor.” Arum semakin memperjelas kalimatnya.
“Apa kamu pandai naik motor?” Setau Ardi, Arumi gak pandai bawa motor karena faktor kesulitan ekonomi di keluarganya. Sebenarnya Ardi mau ngajarin Arumi bawa motor namun motornya kawasaki klx memiliki body yang tinggi. Mana mungkin dia berani mengasi motor tersebut untuk dijadikan belajar.
“Arum bisa bawak motor. Arum sudah punya SIM.” Arum menjelaskan dengan sombongnya.
“Oke aku temani. Jam 10 aku jemput.” Balas Ardi.
“Oke, Arum akan siap-siap.”
“Oh iya. Sediakan sarapan. Aku lapar,” pinta Ardi.
“Oke bos qu.”
“Assalamu’alaikum.”
__ADS_1
“Wa’alaikum salam.”
********