
Setelah Ardi pulang, Arum langsung bersiap-siap untuk ke rumah Habibi. Hari ini Arum ada janji untuk ngajarin Habibi bela diri. Arumi memakai jaket kulit berwarna coklat. Kaca mata dan helm. Saat Arum meminta scurity yang menjaga rumah Habibi membuka pagar tinggi tersebut, scurity itu hanya diam tak bergerak dengan mata tak berkedip saat melihat Arum membuka kaca helmnya.
“Mas amin. Arum masuk ya.”
Namun tidak ada jawaban dari Amin. Arum langsung masuk ke halaman rumah Habibi. Habibi duduk di teras memang menunggu Arumi. Dia melihat seorang cewek membawa motor masuk ke halaman rumahnya. Namun semakin dekat gadis itu turun dari motornya dan membuka helm. Habibi baru menyadari ternyata yang datang Arumi.
“Arum,” Habibi tampak heren. Saat melihat Arumi yang mengendarai motor.
“Iya mas,” balas Arumi.
“Kamu bawak motor?” tanya Habibi heran.
“Iya mas, Arum bawak motor.”
Dilihat Habibi motor baru yang masih memakai plat toko. “Kamu baru beli motor Rum?”
“Iya mas, Arum baru beli motor.” Jawab Arum sambil tersenyum dengan manisnya.
“Sejak kapan kamu bawa motor?”
“Baru hari ini mas, Arum baru beli motornya. Gaji Arum sangat besar dikasi ibuk. Jadi Arum bisa beli kes. Arum rencananya mau kredit, tapi gak jadi.” Arum berbicara dengan nada suara yang sangat rendah agar tak terdengar sama yang lain.
Anita yang berada di belakang Arumi tersenyum mendengarkan penjelasan Arumi.
“Arumi, kamu sudah datang.” Terdengar suara Anita yang lembut dan halus menatap Arumi.
Arum benar-benar malu saat dilihatnya ternyata ada Anita. Apa ibuk Anita dengar apa yang di ceritakan dengan Habibi? Arum benar-benar seperti orang yang ketangkap sedang mengosip. Habibi nampak senyum-senyum saat dilihat nya wajah Arum yang tampak memerah menahan malu.
“Ibuk,” sapa Arumi. Arum langsung menyalami tangan Anita dan meletakkan punggung tangan Anita ke keningnya. Anita langsung memeluk Arumi sambil mencium pipi kanan dan kirinya.
“Kamu apa kabar sayang.”
__ADS_1
“Arum baik buk.”
Anita mengandeng tangan Arumi masuk ke dalam rumahnya. Jhoni duduk di ruang tv sambil membuka leptopnya tersenyum ke arah Arumi. Ia mematikan leptop tersebut.
“Kamu sudah datang Arum?” sapa Jhoni. :Bagai mana kabar kamu?”
Arum menyalami tangan johny seperti seorang anak yang menyalami tangan ayahnya. “Baru aja. Kabar Arum baik.”
“Bapak sehat?” tanya Arumi.
“Alhamdulillah sehat.”
Anita meminta bibi di rumahnya untuk membuatkan Arumi jus.
“Rum, mas ganti baju dulu ya.” Kata Habibi.
“Iya mas.” Jawab Arumi.
“Iya buk.”
Jhoni sudah nampak siap untuk berolahraga. Tampak baju yang dipakainya baju kaos dan celana training serta sepatu sport. Habibi sudah keluar dengan baju kaos dagadu yang di berikan oleh Arumi. Melihat baju yang di pakai Habibi, Arum jadi senyum-senyun sendiri dan senang karena pemberiannya di hargai. Walaupun itu hanya baju kaos biasa dan mungkin Habibi tidak pernah memakai baju kaos yang murah sebelumnya. Anita juga sudah keluar dari kamarnya dengan memakai stelan baju olahraga yang kekinian. Arum sampai senyum kalau lihat big bosnya yang super modis ini.
Mereka naik ke lantai 3. Di mana lantai 3 merupakan ruangan gym. Ruangan tersebut seperti di tempat fitness. Alat-alat olahraganya lengkap. Mulai dari marbel yang berat 5 kg hingga yang berat 50 kg, alat yang memakai listrik. Seperti sedang berada di tempat fitness. Seluruh dinding di lapisi cermin. Pantas saja tubuh mereka sangat atletis bahkan pak jhoni yang sudah kepala 5 tampak sangat atletis. Arum mulai memakai sarung tinju. Habibi sudah siap dengan sarung tinjunya. Mereka mulai melakukan pemanasan, baru di lanjut dengan mulai berlatih. Arum memberikan trik-trik saat boxing. Anita dan jhoni berolahraga berdua. Mereka tampak sangat mesra. Arum sangat salut melihat big bos tersebut. Setelah cukup lama mereka berolahraga, Arum memutuskan untuk pulang. .
“Buk Arum permisi mau pulang.” kata Arumi.
“Kamu ginap di sini aja ya. Kita mau makan malam di luar.” Jawab Anita.
“Makan malam di luar buk? Arum gak bawa baju buk. Baju Arum yang ini juga sudah bau keringat.”
“Masalah baju gak usah kauatir. Ibuk sudah siapkan.” Sambil mengedipkan kedua matanya.
__ADS_1
“Bi, antar Arum ke kamar tamu.”
“Iya mi.”
Arumi benar-benar gak punya kuasa untuk menolaknya. Arumi mengikuti langkah Habibi naik ke atas. Kamar Arumi ada di sebelah kamar Habibi. Saat Arum masuk ke dalam kamar tersebut, Kamar yang sangat luas dengan nuansa pink dan kombinasi warna putih. Tempat tidur yang berukuran king.
Arum memperhatikan kamar tersebut. Di atas tempat tidur sudah ada gaun serta fasminah lengkap dengan pakaian dalam. Arum melangkah ke kamar mandi dan mulai mandi dengan air hangat. Setelah puas dengan ritual mandinya, Arum memakai baju tersebut. Ia memakai riasan di wajahnya yang tampak natural dan tidak berlebihan. Setelah selesai Arum langsung keluar dari kamar. Ternyata Anita, Jhoni dan Habibi sudah menunggu di bawah. Arum benar-benar malu. Ternyata dia yang paling lama selesai.
Malam ini, Habibi yang membawa mobil. Arum duduk di sebelahnya. Anita dan jhoni duduk di bangku penumpang. Mereka menuju restoran yang sudah di boking oleh Anita. Restoran yang memiliki chef terkenal dari Itali. Mereka makan di restoran Italia. Dengan nuansa restoran yang sangat mewah dan elegan. Saat mereka memasuki restoran tersebut, para chef, pelayan, dan menejer restoran sudah berdiri di depan pintu. Restoran ini memang sengaja di boking khusus untuk mereka. Suasana yang romantis di tambah dengan musik yang mengalun indah dengan lagu-lagu romantis dan lagu-lagu Itali. Mereka terlihat sangat ramah kepada Arumi.
“Arum, ibuk minta maaf. Balakanga ini ibu sering sibuk. Jadi jarang jumpa dengan Arum.” Kata Anita.
Mata Arum sampai melotot dengan pernyataan Anita yang meminta maaf dengannya. “Gak apa buk.”
“Gimana, apa kamu betah jadi asisten Habibi?”
“Betah buk.”
“Arum sangat bisa di andalkan mi.” Sela Habibi sambil makan. “Bahasa Inggris yang lancar, Kemampuan komputernya juga oke mi.” Puji Habibi
Arum hanya tersenyum saat dengar penjelasan Habibi.
“Bapak juga sangat berterima kasih sama kamu. Sudah jadi asisten terbaik untuk Habibi.” Kata Jhoni.
“Oh iya Rum, ibuk lupa ngasih tau kamu. Kalau uang untuk orang tua serta adik-adik kamu sudah ibuk kirim.” Arum langsung melototkan matanya.
Gak usah buk. Gaji Arum sudah sangat besar.”
Itu gaji bulanan kamu di luar untuk orang tua kamu.” Kata Anita.
Setelah selesai makan. Mereka pulang ke rumah dengan kemacetan jakarta yang sangat padat.
__ADS_1