Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 148


__ADS_3

Habibi memandang wajah gadis yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya. Jantungnya berdebar-debar bahkan debaran tersebut, terasa semakin kencang. Wali hakimnya sudah siap berhubung Azzam masih sangat muda. Setelah membacakan ijab qobul dan juga mahar uang senilai 50 juta dan sebuah rumah sakit senilai 50 milyar.


“Bagaimana saksi, sah?” Penghulu tersebut memberikan pelayanan kepada para saksi.


“Sah.” Ucap saksi yang hadir secara bersamaan.


Habibi menarik nafas panjang dan kemudian menghempaskannya. Ia merasa sangat lega. Dari tadi ia sudah menahan sesak didadanya. Detak jantung yang begitu kuat. Ia memandang wajah gadis yang ada di depan sampingnya. Wajah yang begitu ia rindukan. Setelah beberapa hari tidak dapat melihat wajah gadis tersebut. Ia memberikan mahar yang berupa uang lembaran 100 RB di dalam kotak kaca yang dibuat berbentuk taman lengkap dengan pohon serta burung yang bertengger di atas pohon tersebut dan kemudian surat kepemilikan rumah sakit lengkap dengan sertifikat SHMnya. Tampak tangan Arum gemetar menerima Apa yang diberikan suaminya tersebut.


Ia tidak pernah bermimpi akan memiliki sebuah rumah sakit. Usianya masih sangat muda, dan bahkan saat ini ia baru kuliah. Bagaimana ia bisa memiliki sebuah rumah sakit?


Habibi memberikan tangannya serta tersenyum melihat wajah sang istri yang terlihat sangat cantik. Arum mencium tangan tersebut, tampak air matanya menetes dipipinya. Pria tersebut, menghapus air matanya dan mencium kening istrinya.


“Makasih sayang. Akhirnya sah.” Ucap pria tersebut dengan senyum mengembang di bibirnya.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Mahar yang diberikannya membuat tamu yang hadir di sana tampak shock. Penghulu tersebut memberikan nasihat-nasehat dan aturan dalam pernikahan kemudian di lanjutkan do’a. Mereka menandatangani buku nikah tersebut dan kemudian mereka menyalami orang tua serta mertua. Tidak banyak yang menghadiri ijab Kabul tersebut, hanya orang-orang dekat mereka dan tamu undangan akan di mulai jam 11 siang. Tampak beberapa wartawan merekam proses pernikahan tersebut.


************

__ADS_1


Arum melihat Ara dan Androw. Mereka memakai baju yang sama. Batik berwarna piru Dongker. Berbeda dengan yang lain berwarna biru muda. Arum benar-benar menepati janjinya untuk memberikan sahabatnya itu baju yang sama.


Ardi duduk di meja yang sama dengan teman-temannya Ari, Doni dan juga sarah. Ara duduk di meja yang berbeda bersama dengan Androw dan juga Amin dan Linda. Ardi yang melihat ada Androw duduk di meja Ara, ia mendekati pria bule tersebut.


“Hai brother.” Ucap Ardi menyapa Androw.


Androw tampak terkejut dan kemudian ia memberikan tangannya. Mereka saling berjabat tangan dan kemudian menyalami Linda dan juga amin serta menyapa Ara.


Ardi Tampak mengobrol dengan Androw. Seorang gadis kecil datang dengan membawa minuman sirup ditangannya. Ia membawa 2 gelas sirup. Ara yang melihat Aisah datang tampak tersenyum.


“Abang Ardi. Ini untuk Abang.” Ucap gadis kecil tersebut.


“Cantik sekali gadis kecil ini.” Ucap Androw, yang mendapatkan pelototan mata dari gadis kecil tersebut.


“Aku bukan gadis kecil.” Ucap Aisah yang membuat Androw membuka mulutnya.


“Iya pandai bahasa Inggris.” Ucap pria bule tersebut.


Aisah memandangnya. “Ya pandailah. Emangnya om aja yang pintar bahasa Inggris.” Ucap gadis tersebut dengan judesnya sehingga membuat mereka ketawa.

__ADS_1


“Ini Aisah, adek Arum.” Ucap Ara.


“Oh cantik sekali,” ucap Androw. Yang mendapat tatapan tidak senang dari gadis kecil tersebut.


“Ica udah punya calon suami.” Ucap gadis kecil tersebut sehingga membuat Ardi menyembuhkan air sirup yang dimulutnya. Androw menepuk punggung Ardi. Ara tampak menahan senyumnya.


Kemudian Ardi mengalihkan perhatian Androw.


“Selamat brother, kamu menjadi seorang muslim.” Ucap Ardi.


Androw tersenyum, “ia terima kasih Ardi.” Ucapnya kemudian.


“Maaf aku tidak tahu. Jadi tidak bisa hadir di acara tersebut.” Sesal Ardi.


Androw memukul pundaknya pelan. “Tidak apa-apa,” ucap pria tersebut.


Setelah bercakap-cakap dengan Androw, Ardi kembali ke meja yang ada teman-teman nya. Aisah tidak pernah jauh dari Ardi. Ia selalu menempeli pria tersebut dan anehnya Ardi tidak merasa terganggu atas kehadiran gadis kecil tersebut.


Tampak teman-teman Arum satu kelas hadir dipestanya. Mereka tidak ada henti-hentinya untuk berkeliling menikmati semu sajian menu di hotel mewah tersebut.

__ADS_1


Rio dan Heri, mereka bisa sedikit santai namun mereka tetap terlihat waspada. Mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan pelaminan bosnya. Tiar, Rizaldi, Yuda dan prima mereka duduk di meja yang sudah di isi Rio dan Heri. Mereka duduk satu meja. Tampak mata Yuda memandang tajam ke pelaminan. Rizaldi melihat sahabatnya itu dan kemudian ia menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Yuda memandang Rizaldi.


__ADS_2