
Setelah menikah dengan Eka, Heri memundurkan diri menjadi pengawal Habibi.
Ia diminta istrinya untuk membantu di butik. Eka begitu sangat kesulitan untuk mengatur masalah pembukuan keuangan nya. Selain ia designing baju, ia juga harus di pusingkan masalah laporan keuangan. Sehingga ia meminta suaminya yang menjadi manajer keuangannya.
Heri Duduk di mejanya yang hanya bersebelahan dengan istrnya. Ia memandang Istrinya yang terlihat pucat dan lemas. Bahkan istrinya sampai tertidur di meja kerjanya.
"Sayang kamu kenapa?" tanyanya yang berdiri di samping istrinya.
Eka memandangnya. "Eka bawaan nya ngantuk terus mas"ucapnya.
"Apa sakit?" tanyanya.
"Enggak," ucapnya.
"Apa kamu yakin Sayang kalau kamu enggak sakit," ucapnya.
Eka menganggukkan kepalanya.
"Wajah kamu tu pucat, kamu juga kelihatan lemas. kamu istirahat ya sayang," ucapnya yang mencemaskan istrinya. Ia melihat mata istrinya yang berair menahan ngantuk. Ia mengerutkan keningnya, Ia mengingat semalam Istrinya tidur sangat cepat, bahkan sudah beberapa malam ini isterinya tidur cepat. Sudah beberapa hari ini istrinya tidak menghiraukannya sama sekali.
"Eka nggak sakit cuman ngantuk aja nggak tahu ini bawaannya ngantuk terus sejak kemarin," ucapnya yang mengusap matanya.
"Istirahat di kamar ya sayang," ucapnya.
Eka menganggukkan kepalanya, dia kemudian berjalan menuju kamar yang ada di dalam ruangannya. "Mas duduk di sini," ucapnya yang menunjukkan tempat tidur yang ada di sebelahnya.
Harry tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia duduk di tempat yang diperintahkan oleh istrinya. Ia meluruskan kakinya diatas tempat tidur tersebut sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.
Eka tersenyum memandang suaminya. Ia kemudian meletakkan kepalanya di atas paha suaminya. "Mas jangan ganggu, Eka tidur," ucapnya.
Heri tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Ia mengusap kepala istrinya.
jilbabnya mas buka ya," ucapnya saat melihat istrinya yang tidak membuka jilbanya.
Eka tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan suaminya membuka jilbab yang dipakainya. Ia kemudian tersenyum mandang suaminya. Ia duduk dan naik ke atas paha suaminya tersebut.
"Tapi mau tidur?" tanya Hari Ketika istrinya sudah duduk di atas pahanya dan memandang wajahnya.
"Eka sudah gak ngantuk," ucapnya yang melingkarkan tangannya di leher suaminya. Ia kemudian mencium bibir suaminya.
Heri tampak bingung saat melihat sikap istrinya. Namun Ia tetap membalas ciuman istrinya tersebut. Ia mengambil kesimpulan, mungkin karena sudah berapa hari mereka tidak melakukannya.
Ia membalas cuman istrinya dengan begitu sangat bergairah bahkan nafasnya terdengar sudah sangat berat begitu juga dengan istrinya. Istrinya sudah begitu sangat bernafsu. Jas yang dipakai nya sudah dilepaskan oleh istrinya. Istrinya membuka kancing bajunya kemejanya satu persatu.
Ini untuk pertama kalinya ia melihat istrinya yang begitu sangat bergairah dan bernafsu.
"Mas Eka benar mau," ucapnya yang sudah mulai mendesah.
"Apa mau di sini?" tanya.
Eka menggelengkan kepalanya." Pulang," ucapnya.
Heri menganggukkan kepalanya. Walaupun ia sudah sangat bernafsu, namun ia juga harus berpikir dua kali untuk melakukan hal tersebut di butik istrinya. Ia kembali mengancing baju kemejanya dan memakai jasnya
Eka memakai jilbabnya dan merapikan pakaiannya. Ia keluar dari dalam ruangannya.
"Mbak Eka mau kemana ucap manajernya.
__ADS_1
Eka tersenyum."Mau pulang," ucapnya.
"Mbak Eka kelihatan pucat banget mending Istirahat deh," ucap manajernya tersebut.
Eka tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia memegang tangan suaminya dan keluar dari dalam butik tersebut.
***
Heri membuka pintu kamarnya saat ia sudah berada di dalam rumahnya bersama istrinya. Kebetulan sekali mereka pulang disaat Daffa sedang tidur siang.
Eka membuka jilbabnya, ia kemudian tersenyum memandang suaminya.
Heri memandang istrinya yang begitu sangat menggoda.
"Mas Udah berapa hari nggak dapat ucapnya yang tersenyum memandang suaminya.
Heri tersenyum memandangnya. " 5 hari sayang, mas udah pengen banget," ucapnya. Ia mencium bibir istrinya dan memeluk istrinya tersebut. ia mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.
Eka membalas cuman suaminya, ia mencium suaminya dengan sangat membalas bergairah. Ia kemudian menolak tubuh suaminya." Mas Eka lagi nggak *****, Eka tidur aja," ucapnya. yang kemudian pergi meninggalkan suaminya yang masih berdiri di dekat meja rias.
Heri Diam, ia berdiri dengan mulut yang sedikit terbuka saat istrinya menolaknya. Istrinya dengan mudahnya menolaknya setelah mengajaknya. "Sayang ini apa adanya maksudnya," ucapnya sudah mulai marah.
"Nggak ada maksud apa-apa sih tadi Eka pengen, tapi sekarang udah nggak," ucapnya yang tanpa merasa bersalah. Ia naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Ia kemudian memejamkan matanya.
Heri menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat sikap istrinya yang sudah terang-terangan membuat dia begitu sangat marah. "Sayang mas marah," ucapnya yang merapatkan giginya.
Eka membuka matanya dan tersenyum begitu sangat manis melihat wajah suaminya yang marah tersebut. "iya," ucapnya.
"Iya mas marah ini," ucap Heri yang sudah geram melihat sikap istrinya.
Heri menarik nafasnya dengan sangat keras, ia kemudian menghempaskan nya. Ia berulang menusap wajahnya. Ia benar-benar gila bila diperlukan istrinya seperti ini. Setelah istrinya membangunkan singa tidur dengan enaknya dia meninggalkan begitu saja. Bila istrinya tidak ingin melakukan hal tersebut mengapa harus memancingnya dan mengajaknya pulang ke rumah. Dia kemudian mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi Ia mulai berendam dengan air dingin. Ia ingin mendinginkan tubuhnya yang panas.Cukup lama ia berendam di dalam bathtub. Ia kemudian keluar dari bathtub setelah yang merasa emosi dan juga mengendalikan nafsunya.
Ia sebenarnya sangat marah dengan istrinya namun melihat istri yang tertidur di atas tempat tidur dengan wajah yang tampak pucat membuat ia merasa sangat tidak tega.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap kepala istrinya. "Hari ini kamu jahat sayang, kamu tega mainin Mas," ucapnya yang kemudian mencium kening istrinya.
****
"Sayang Vira mana?" tanya habibi saat ia tidak menemukan putri kecilnya. Dia mengira bahwa Vira bersama dengan Arum di kamar.
"Ada Main di kamar Ardi," ucapnya.
Habibi berjalan mendekati istrinya yang sedang duduk diatas tempat tidur, Dia kemudian duduk di samping istrinya."Apa Vira nggak laporin ke Aisah?" ucap Habibi. Ia sangat mengetahui bahwa Putri kecilnya itu tidak bisa menyimpan rahasia.
Arum tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Vira bakalan bisa diajak kerjasama bila itu untuk menindas Aisah," ucapnya.
Habibi tertawa mendengar ucapan istrinya tersebut. "Kenapa Vira nggak pernah akur ya sama aunty nya," ucapnya.
Arum tersenyum dan menggelengkan kepalanya."Nggak tahu juga, Arum juga binggung," ucapnya.
"Kadang mas juga heran lihat Aisah dengan Vira," ucapnya.
"Apakah lagi sekarang dia bersaing untuk dekat sama Ardi," ucapan.
"Itu anak Adek kan?" tanya Habibi.
"Anak Arum sama Mas," jawabnya.
__ADS_1
Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya."Tapi sifatnya nggak nurun ya sifat adek," ucapnya.
"Sifatnya sama dengan Aisah," ucap Arum.
Habibi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sekarang Vira sangat senang dan memanfaatkan situasi. Dia tahu Aisah nggak boleh ketemu sama Ardi, jadi dia manfaatkan waktu itu untuk main sama Ardi," ucap Arum.
Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya tersebut.
apa Aisah masih belum tahu kalau dia mau dinikahin?" ucap Habibi.
Arum tersenyuman dan menggelengkan kepalanya."Sepertinya Aisah curiga," ucap Arum.
"Kenapa nggak dikasih tahu aja?
kasihan mas lihatnya," ucap Habibi.
"Ini semua tante mira yang buat rencana. Tante Mira nggak mau Aisah tau. Kata tante Mira mereka itu di pungit satu rumah hanya beda kamar. kamarnya juga bersebelahan. kalau sempat Aisah tahu dia bakalan di nikahin sama Ardi, takutnya dia bakalan ngetuk pintu kamar Ardi," ucapnya yang tersenyum.
"Iya juga sih,"Jawab Habibi.
"Tapi Ardi termasuk kuat ya?"ucapnya.
"Kuat gimana?" tanya Arum.
"Sanggup di pingit beda kamar," ucapnya sambil tertawa. Ia mentertawakan calon adik iparnya.
Arum ikut tertawa saat mendengar ucapan suaminya. "Dia nurut karena diancam Tante Mira," ucapnya.
"Diancam bagaimana?" Tanya Habibi.
"Batal nikah bila sampai ia menghubungi Aisah," ucapnya.
"Ternyata Tante Mira galak banget sama anak semata wayangnya. Gak seperti mami," ucapnya. Saat ia dipingit, ia masih di izinkan berhubungan lewat via telepon dan video call. Ia hanya dilarang untuk berjumpa langsung.
Arum tersenyum memandang suaminya.
"Gimana sih mas rasanya dipingit?" tanyanya.
"1 menit itu serasa 1 jam, 1 jam terasa satu hari, 1 hari itu serasa 1 bulan," ucap Habibi.
Arum tersenyum memandang suaminya tersebut.
"Gimana reaksi Aisah kalau dia tahu, dia dinikahi," ucap Habibi.
"Ya dia pasti senang dia kan emang bercita-citanya cepat nikah sama Ardi," ucap Arum.
Habibi hanya tersenyum saat mendengar ucapan istrinya tersebut.
****
Jangan lupa like komen komen, dan votenya.
Terima kasih ya atas dukungannya.
Untuk kelanjutan kisah romantis Aisah dan Ardi, langsung aja baca di novel Author Aisah jodohku.
__ADS_1