Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 65


__ADS_3

Arumi duduk di sebelah Sasa. Mereka duduk saling berhadap-hadapan.


“Mbak ini enak.” Arum menunjuk piringnya yang berisi ikan bakar.


Sasa mencoba ikan bakar tersebut. Rasa ikan bakar itu sangat gurih. Tidak seperti ikan bakar lainnya yang hanya terasa manis. Arum memakan ikan bakar itu dengan sambal terasi di tambah cah kangkung. Karena di rasa Sasa ikan bakar itu begitu enak, Sasa juga mengambil ikan bakar dengan cah kangkung dan sedikit sambal terasi karena Sasa tidak tahan pedas. Kedua gadis tersebut, tampak begitu akrab, mereka berdua bercerita sambil terkadang tertawa. Sedangkan 2 pria yang di depan mereka memandang dengan tatapan masam dan mereka tampak sedang bertengkar.


Setelah selesai makan mereka kembali ke mobil dengan posisi tempat duduk sama seperti saat mereka pergi. Setelah sampai di kantor Habibi masuk ke ruangannya dengan raut wajah yang tampak sedang marah begitu juga Wahyudi. Mereka terlihat saling menyalahkan.


“Lu gak ngomong kalau yang bawa mobil lu Arumi. Nyesal gua nyebeng sama lu. Besok-besok gua gak mau lagi nyebeng mobil lu.” Kata Wahyudi.


“Lu sendiri yang minta nyebeng ke gua.”


“Apa Arumi yang nyupir mobil lu?”


“Iya, Arumi selalu yang bawa mobil gue. Dia antar jemput gua. Sebenarnya gua gak mau. Tapi dia bilang. Kalau dia masih dalam masa training. Kalau seandainya kerjanya gak bagus. Maka dia akan di pecat mami.”


Wahyudi tertawa. “Tante benar-benar pintar dan licik. Dah gua mau balik dulu ke rumah sakit.”


“Ya,” Habibi menjawab dengan santainya.


********


Setelah mengantar kan Habibi. Arumi langsung pulang ke kosnya dengan naik taksi online yang dipesannya. Seperti biasa, setelah pulang Arumi langsung mandi. Jam 6 sore Androw kembali datang dengan membawa 2 buah kantong besar di tangannya. Sebelum Arum membuka pintu, dia mengambil jilbab sorongnya yang tergantung. Saat Arum membuka pintu, Arum kembali melebarkan matanya saat melihat Androw sudah berdiri di depan pintu kamar.


“Ini, aku membawakan kamu makan malam dan snacks.”


“Yang kemarin-kemarin aja masih banyak. Kenapa bawaklagi.” Tanya Arum sambil mempersilahkan Androw untuk masuk.


“Ini hanya makan kering dan tahan lama. Masa expired nya masih lama, jadi gak usah takut.” Sambil duduk di atas tempat tidur Arum.


Arum diam. Dia membuatkan 2 gelas kopi untuk Androw dan dirinya. Hp Arum berbunyi. Arum mengambil hp yang berada di meja kecil kamarnya. Dilihatnya, ternyata Ardi yang menghubunginya. Arum kemudian mengangkat telepon tersebut.


“Hallo, Assalamu’alaikum.” Kata Arumi.


“Wa’alaikum salam. Apa kamu sudah di kos rum?” Terdengar suara Ardi dari seberang sana.


“Iya aku di kos.”


“Aku mau ke kos kamu. Aku bawakan kamu nasi padang. Jadi gak usah keluar ya.” kata Ardi.


Belum ada jawaban dari Arumi panggilan telpon langsung terputus. Arum melihat layar hpnya yang sudah mati. Androw tampak memperhatikan Arumi tanpa bertanya. Tak lama terdengar suara mobil dari luar. Arum langsung melangkahkan kakinya keluar kamarnya. Benar, ternyata Ardi sudah datang. Arum secepatnya menghampiri Ardi. Ardi melihat mobil sedan hitam keluaran Amerika terparkir di depan kamar Arumi. Saat dia turun dia mulai bertanya.


“Kamu lagi ada tamu Rum?”


Arum menundukkan kepalanya, sambil menjawab, “Iya.”


“Siapa,” Ardi bertanya sambil memandang ke arah kamar Arumi. Dilihatnya ternyata seorang pria bule.


Dipandangnya Arumi. “Kamu kenal di mana? Apa dari jejaring sosial?”


“Gak dia menjalin kerjasama dengan perusahaan tempat Arum kerja.”

__ADS_1


Ardi diam kemudian kembali bertanya. “Apa dia sering datang ke sini?”


Arum mengangguk


Nanti Arum akan cerita.


“Udah ayuk masuk.” Ajak Arumi.


Ardi masuk ke dalam kamar Arumi sambil memandang ke arah Androw dengan tatapan yang tidak ramah. Androw juga melakukan hal yang sama.


“Di, kenalin ini Androw,” Arum memakai bahasa Inggris agar Androw bisa mendengarnya


Ardi memberikan tanggannya ke arah Androw. Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri. Karena waktu sholat magrib sudah tiba, Arum mengambil wudhu dan sholat.


“Rum,” kata Ardi.


“Iya Di,” jawab Arumi.


“Aku nunpang sholat ya.”


“Iya,” sambil menunjukkan kamar mandi kepada Ardi untuk berwudhu. Arumi sudah memakai mukena dan Ardi keluar dari kamar mandi.


“Belum sholat?”


“Belum nunggu kamu, biar bisa jamaah.” Jawab Arum.


Ardi tersenyum. “Udah ayo sholat.” Arumi mengambil posisi berdiri di samping kiri Ardi sebagai imam dengan sedikit mundur sampai jari kakinya berada di belakang tumit Ardi. Androw hanya memperhatikan Arum sholat bersama Ardi.


Androw mulai bertanya.


“Itu apa?”


Arum mulai menjelaskan tentang nasi padang yang di makannya. Dengan sambal dengan cabe ijo.


Sepertinya enak sekali. Diambilnya nasi tersebut dari tangan Arumi dan di makanya.


Ardi melihat Androw memakan nasi Arumi disodorkannya nasi yang tadi sudah di makanya beberapa suap.


“Kamu makan ini saja.” Kata Ardi kepada Arumi.


“Gak usah, untuk kamu aja,” balas Arum


“Udah makan,” printah Ardi


“Kamu makan apa,” tanya Arum kembali.


“Aku nanti beli lagi.”


Akhirnya Arum memakan nasi Ardi. Nasi yang di makan Androw sudah hampir habis. Di lihatnya Ardi memberikan nasi ke pada Arumi.


“Itu apa namanya,” melihat daging rendang yang ada di nasi Arumi.

__ADS_1


“Ini rendang,” balas Arum


Androw kembali mengambil nasi Arumi. “Aku ingin coba.”


Ardi yang melihat mulai berbicara kepada Arumi. “Ini bule lapar atau kesurupan.”


Arum hanya senyum sambil mengangkat bahu.


Androw menghabiskan semua nasi yang di bawa oleh Ardi sehingga Arum dan Ardi hanya bisa saling pandang.


“Rum, aku pulang ya. Aku banyak tugas. Dan mau siapkan laporan untuk besok.”


Arum menganggukkan kepalanya.


“Kamu janji. Nanti jelaskan semuanya sama aku.” Kata Ardi lagi.


Arum kembali menganggukkan kepalanya.


“Aku pamit ya,” sambil mengelus puncak kepala Arumi dengan lembut.


“Hati-hati ya. Makasih ya.”


“Iya.” Ardi naik ke mobilnya. Dan setelah mobil nya menghilang. Arum kembali masuk ke dalam kamarnya.


Arum mulai berbicara dengan Androw.


“Bagaimana, apa kamu terima tawaran aku.” Tanya Androw.


“Gak.” Balas Arum.


“Ayolah. Izinkan aku berbuat baik sama kamu. Aku ini seorang miliyoner di negara ku dan di negara mu. Aku seorang investor. Satu apartemen mewah untuk mu, tidak akan membuat aku miskin. Bahkan andai kau minta 10 buah apertem pun. Tidak akan mengurangi saldo rekening ku.”


“Gak usah. Arum belum butuh.”


“Bantu aku untuk menghabiskan uang ku.”


Arum tertawa.


Dilihatnya, jam tangannya. Ternyata sudah jam 9 kurang 15 menit. “Aku pulang ya. Aku harap kamu mempertimbangkannya.” Kata Androw sambil mengedipkan mata.


Arum tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Itu makan malam kamu harus kamu habiskan.” Kata Androw.


“Tapi Arum belum pernah makan masakan jepang.”


“Coba aja. Kamu pasti suka.”


“Makasih ya mas bul.”


Androw tersenyum sambil naik ke dalam mobilnya. Setelah mobil Androw menghilang Arum masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2