
“Iya Rum. Duh yang mau dilamar.”
“Mbak Sasa tahu dari mana?”
“Dari mas Wahyudi. Mbak kapan dilamar ya Rum. Mbak gak nyangka, kamu bakalan nikah muda. Tapi kalau yang melamar pak Habibi, gak ada alasan nolak Rum.”
“Iya tapi mbak.”
“Nikmat mana lagi yang kamu dustai. Ganteng, kaya, pintar, pokoknya paket complit dah. Pak Habibi tuh kelihatan kali sayang sama kamu.”
Arum senyum. “Semoga hubungan mbak dengan dokter Wahyudi disegerakan mbak. Pak Habibi ada?”
“Ada masuk aja.”
“Nanti ya mbak, kita ngobrol lagi.”
“Iya, selamat ya Arum.”
“Makasih ya mbak.”
Arum masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya ruangan tersebut kosong. Pintu kamar istirahat Habibi terbuka. Arum mengintip sekilas tak tampak ada Habibi di dalam sana. Ia mendengar dari kamar mandi air keran yang hidup. Ia sudah bisa menebak bahwa pria tersebut sedang mandi. Arum menutup pintu kamar tersebut dan duduk di sofa. Ia memainkan ponselnya. Membuka Ig. Ia melihat postingan Ardi. Ardi mengungah foto yang sedang berada laboratorium memakai baju putih Labor dengan mengangkat zat kimia yang di dalam tabung kecil. Matanya terfokus dengan benda kecil tersebut. Iya menambah tulisan di foto tersebut. “Zat kimia. Walaupun dikatakan orang zat yang berbahaya. Namun sangat berguna.”
“Apa gak apa-apa kalau Arum gak ngasih tau Ardi. Tapi ini acara lamaran. Acaranya juga acara keluarga. Tapi Ardi marah gak ya?” batin Arumi.
Mata Arum tertuju ke suara pintu yang terbuka. Ia melihat Habibi yang keluar dari ruangan istirahatnya dengan baju Koko, kain sarung dan juga peci. Wangi farfum maskulin yang menyegarkan Indra penciuman. Ia melihat wajah Habibi yang tampak cerah dan bercahaya.
“Udah lama?”
“Sekitar 10 menit. Mas mau langsung berangkat.” Arum berjalan mendekati Habibi. Ia tahu pria tersebut pasti sudah wudhu. Ia berencana ingin menjahili calon suaminya. Ia mendekati Habibi, pria tersebut tampak menahan senyumnya.
“Udah wudhu dek. Nanti ya pulang jum’atan.”
“Maunya sekarang.”
Dengan cepat pria tersebut menarik tubuh gadis tersebut hingga gadis itu terduduk di pangkuannya. Dengan cepat ia mencium bibir mungil tersebut. Sambil berkata. “Mas pakai sarung ini dek.” Membuat Arum langsung berdiri dan kembali duduk di sofa dengan jantung yang berdetak dengan hebatnya.
Habibi tersenyum puas. “Wudhu lagi mas jadinya.” Sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah wudhu pria tersebut memakai pecinya. Ia masih tersenyum geli melihat gadis tersebut yang seperti salah tingkah. Ia duduk kembali meja kerjanya.
Habibi memerintahkan seseorang yang sedang mengetuk pintu untuk masuk. Pintu pun terbuka, Rasid masuk ke dalam ruangan tersebut. Rasid sudah siap dengan memakai baju Koko putih dan juga peci. Matanya tertuju kearah Arumi. “Kamu makin cantik saja Arumi.” Gumannya dalam hati. Dengan cepat iya mengalihkan pandangannya.
“Udah siap pak?”
“Berangkat sekarang.”
“Baik pak.”
__ADS_1
“Dek, mas sholat dulu ya. Pesan untuk makan siang.”
Arum menganggukkan Kepalanya. “Mas mau apa?”
“Stik daging.”
“Mas Rasid?”
“Sama aja.” Sambil nyengir.
Arum mengikuti langkah mereka keluar ruangan. Ia Berhenti di meja Sasa.
“Mbak Sasa, Arum mau pesan makan siang. Mbak mau apa?”
“Mbak dibelikan juga?” Tanya Sasa.
“Iya mbak.”
“Arum pesan apa aja?”
“Mas bibi dan mas Rasid stik daging. Tapi Arum nasi Padang aja mbak. Gak ngerti Arum makan stik untuk makan siang.”
Sasa ketawa. “Sama mbak juga. Nasi Padang masih juara untuk mbak.” Sambil ketawa menutup mulutnya. “Mbak nasi Padang juga deh.”
“Mbak mau apa? Rendang, gulai cincang, dendeng batokok, gulai itik koto gadang, gulai kikil.”
“Mbak gulai itik koto gadang aja Rum. Kalau ada.”
“Pernah rum. Enak banget pedas banget tapi. Daging itiknya lembut.”
“Arum mau jugalah.”
“Ya udah, mbak yang pesan ya, soalnya mbak takut di pecat kalau calon istri bos yang pesan.”
“Ih mbak Sasa,” sambil memasang wajah yang cemberut. Sasa ketawa.
Arum sibuk mengobrol dengan Sasa sambil menunggu Habibi pulang jum’atan. Restoran tempat mereka memesan makan, sudah datang mengantarkan pesan mereka. Sasa menata makan siang tersebut di atas meja dan kemudian kembali ketempat duduknya. Mereka kembali melanjutkan obrolan mereka. Arum melihat pintu lift terbuka, dan dua orang pengawal Habibi mengikuti dari belakang.
Arum melihat Rio dan juga Heri. Arum tersenyum kepada temannya itu. Mereka membalas senyum Arum sangat tipis dan kemudian kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi. Arum diam. Ia sangat mengerti pekerjaan mereka. Namun sebagi seorang teman ia juga ingin berbicara dengan teman-Temannya tersebut. Walau bagaimanapun mereka sama-sama berasal dari tempat pendidikan yang sama. Mereka berjaga di depan pintu.
“Mbak sering senyum sama pengawal pak Habibi. Tapi gak pernah dibalas. Kalau mbak nanya mereka jawab satu terus diam. Tapi sama kamu, mereka mau senyum ya walaupun dikit.” Kata Sasa penasaran.
Arum senyum. “Mereka berdua itu teman Arum dari tempat pendidikan.”
“O pantas mereka mau balas senyum kamu.”
“Ya udah mbak, Arum ke ruangan pak Habibi ya.” Setelah membaca pesan wa dari Habibi yang berbisi, “cepat sayang mas lapar.”
__ADS_1
“Iya rum.”
Arum masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia meletakkan yang dipesan Habibi berserta jusnya. Mereka mulai makan. Arum mencoba gulai itik koto gadang yang rasanya nendang dilidah, pedas dan lezat. Gulai itik yang dimasak seperti bumbu gulai biasanya yang cabenya memakai cabe rawit yang banyak sehingga sangat pedas.
Setelah menikmati makanan siangnya Arum bertanya, “Arum disuruh ke sini ngapain mas? Apa ada kerjaan?”
“Ada.”
“Apa.”
“Temani mas makan.”
“Terus, habis ini Arum pulang.” Tanya Arumi.
“Pulangnya mas antar. Temani mas kerja.”
Arum menganggukkan kepalanya. Setelah selesai makan Arum sholat zhuhur. Mata Arumi terasa mengantuk efek gak ngapa-ngapain. Cuma di suruh Nemani. Arum mengambil hespri di dalam tasnya dan memasukkan kedalam jilbabnya. Ia mulai mendengarkan musik di ponselnya sambil menahan kantuk matanya. Namun rasa ngantuk lebih kuat sehingga kesadarannya harus mengalah dengan rasa ngantuknya. Ia mulai tertidur.
Habibi membangunkan Arum setelah semua pekerjaannya selesai. Ia mengendarai mobilnya sendiri dengan Arum duduk disebelahnya. Mobil Arum dibawa oleh pengawalnya.
Arumi melihat rumahnya yang sudah di sulap menjadi tempat acaranya besok. Taman samping sudah disusun kursi dan meja dengan Jumlah yang cukup banyak kemudian pentas untuk band. Taman tersebut sudah dihiasi dengan lampu-lampu taman menambah suasana yang romantis.
“Mas, besok Arum ngundang Naura.”
“Kenapa cuman Naura? Adek boleh kok ngundang teman-teman satu kelas.”
“Takut heboh di kampus.”
“Ardi, Sarah Doni dan Ari apa gak adek undang?”
“Bagusnya gimana ya mas?”
“Kalau adek mau ngundang ya undang aja.”
“Iya deh mas. Nanti Arum telpon.”
“Ya udah istirahat ya.”
“Iya mas. Mas langsung pulang?” tanya Arumi.
“Iya dek, gak sanggup dekat sama adek lama-lama.”
“Kok gitu?” Sambil memanjangkan bibirnya.
Habibi senyum. “Pengen terus dek. Lupa dosa mas, kalau dekat adek.”
“Ih mas!”
__ADS_1
Habibi senyum. “Mas pulang ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”