Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 249


__ADS_3

"Jadi gimana kabar kak Eka sekarang?" tanya Ara saat Ia berada di ruangan sahabatnya itu.


" Usahanya udah sangat bagus," jawab Arum yang duduk di mejanya. Mereka berdua masih menjalani masa koas yang tersisa 1 tahun lagi. Namun mereka bisa sedikit lebih santai karena koas di rumah sakit milik Arum sendiri. Walaupun begitu mereka tetap sangat bertanggung jawab dengan masa koas nya.


" Tapi Ara beneran kasihan lihat Kak Eka," ucapnya.


" Iya sampai sekarang kayaknya dia masih masih ada rasa trauma," ucap Arum.


" Apa sebaiknya Kita memakai jasa psikolog? Dengan seperti itu mungkin rasa trauma yang dialaminya bisa cepat hilang," ucap Ara


Arum mendengar perkataan sahabatnya itu, Ia kemudian menganggukkan kepalanya.


" Kenapa Arum gak pernah kepikiran kesana ya ," ucapnya. Awalnya Ia mengira rasa trauma yang di alami kakak angkat nya itu akan hilang dengan sendirinya seiring dengan waktu. Namun Sampai sekarang Ia masih melihat wajah kakak angkat nya itu yang masih memiliki penyesalan terbesar dan rasa bersalah. Ia juga tampak takut dan tidak percaya diri saat berjumpa dengan laki-laki lain.


" Gak ada salahnya kan kita mencoba" ucap Ara.


Arum menganggukkan kepalanya. Mereka mengobrol menjelang waktu masa Koas nya dimulai. Di masa koas ini mereka akan langsung beradaptasi dengan pasien dan mereka juga akan langsung diawasi oleh dokter-dokter senior yang berada di rumah sakitnya. walaupun Ia pemilik Rumah sakit itu namun Ia melakukan hal yang sama dengan dokter-dokter muda yang koas di sana.


" Permisi dokter Arum, dokter Ara. Ada yang ingin ketemu dengan dokter Arum?" ucap seorang perawat yang datang ke ruangannya.


" Siapa?" tanya Arum.


" Rangga dokter," ucap perawat tersebut.


" Suruh aja masuk," jawab Arum.


Seorang pria kecil masuk ke dalam ruangan tersebut. " Assalamu'alaikum dokter Arumi dokter Naura," ucapnya yang terdengar masih celat.


Arum tersenyum memandang pria itu. " Silakan duduk," ucapnya.


" Terima kasih Ibu Dokter," jawabnya yang kemudian memanjat ke atas kursi yang ada di sebelah Ara.


Ara tersenyum memandang anak tersebut.


Anak itu berusia 4 tahun hanya selisih 1 tahun dari putranya yang sekarang sudah berumur 5 tahun.


" Ada perlu apa?" tanya Arum kepada anak kecil tersebut dengan bergaya formal.


" Tidak ada yang penting. Apakah Dokter Arum sibuk?" tanya.


" Tidak juga," Jawab Arum.


" Aku hanya ingin berkunjung saja," Jawab pria kecil itu.


Arum tertawa saat mendengar anak kecil itu berbicara. Bagi pria kecil itu rumah sakit ini merupakan rumahnya. Sudah 4 tahun Ia berada di rumah sakit itu. Sejak Ia lahir kedua orang tuanya meninggalkannya, sampai sekarang tidak pernah datang untuk menjemputnya. Tidak ada pasang yang mencari anak adopsi yang mau mengambilnya. Pada umumnya pasangan tersebut mencari anak bayi yang baru lahir sehingga biaya mengadopsinya tidak terlalu besar dari pada mengambil anak yang usianya sudah cukup besar. Hingga sekarang Ia sudah berusia 4 tahun. Tubuhnya sangat sehat bulat gemuk dan juga cukup tinggi untuk anak yang berusia 4 tahun. Di rumah sakit ini Ia mendapatkan fasilitas yang sangat mewah. Ia diberi vitamin untuk pertumbuhan tubuh serta otaknya, Ia juga diberi makanan sehat dan bergizi. Ia mendapatkan asupan gizi yang sangat baik di rumah sakit tersebut. sehingga anak itu tumbuh menjadi anak yang cerdas dan juga sehat. Dengan tubuh yang bulat dan padat. Kulitnya yang sedikit gelap dengan mata yang sipit terkadang membuat orang yang melihatnya begitu sangat gemes, mereka menjulukinya anak Korea kegosongan. Arum sengaja tidak membawa anak itu pulang ke rumahnya karena di rumah sakit ini anak itu begitu banyak mendapatkan kasih sayang dari seluruh karyawan yang ada di sana. Bahkan Ia juga sering diajak oleh para perawat yang ada disana untuk ikut ke rumah mereka.


" Rangga udah ganteng mau kemana," tanya Arum ketika Ia melihat anak itu memakai baju kemeja dan celana jeans panjang.


" Tidak ada dokter Aku hanya ingin melakukan pengecekan saja ke seluruh ruangan," ucapnya dengan gaya seperti seorang bos.


Arim tertawa saat melihat ucapan anak itu.


" Sudah melakukan pengecekan ke mana saja?" ucapnya.


" Aku sudah mengecek seluruhnya dan yang tersisa hanya ini saja," ucapnya.


Ara benar-benar tertawa saat melihat sikap anak kecil itu.


" Apa kamu ingin membeli roti?" tanya Arum yang memandang Rangga. Bila anak itu datang biasanya karena Ia ingin jajan .


Dengan cepat anak itu menganggukkan kepalanya Arum memberikan Ia uang 20.000 untuk membeli roti. "Ingat yang di beli roti bukan permen ," ucap Arum mengingatkannya.


Anak kecil itu tersenyum. " Biasanya aku membeli permen karena tidak ada uang kecil," ucapnya yang sengaja berbohong.


Ara yang duduk didepan Arum hanya senyum-senyum saat memandang anak kecil itu berbicara.


" Apa Ibu dokter menginginkan sesuatu?


bila iya nanti aku akan datang membawakannya," ucapnya kepada Arum.

__ADS_1


Arum menggelengkan kepalanya." Tidak ada," ucapnya.


"Apakah seluruh uang ini boleh aku belikan roti semua serta minuman susu," ucapnya.


Arum menganggukkan kepalanya. " Boleh," jawabnya.


"Alhamdulillah Terima kasih," ucapannya yang kemudian menyalami tangan Arum dan juga Ara. Anak itu kemudian permisi untuk pergi.


Ara mengeluarkan uang dari dalam saku bajunya. " Untuk jajan," ucapnya memberikan uang 20.000 ," Biasanya mereka memang selalu menyimpan uang 20.000 untuk memberikan jajan anak kecil tersebut


" Ini sudah ada apakah ini boleh ditabung?" tanya kepada Naura yang memberikannya uang.


" Emangnya ditabung untuk beli apa?" tanya Naura.


" Siapa tahu nanti aku disuruh pergi dari sini jadi aku sudah punya uang tabungan," ucapnya yang buat hati mereka terkadang sedih.


" Emang siapa yang mau ngusir?" tanya Arum.


" siapa tahu saja pemilik Rumah sakit ini," ucapnya yang tidak pernah mengetahui bahwa rumah sakit itu milik orang yang ada di depannya.


Arum tersenyum dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. " kamu ini masih terlalu kecil tapi otak kamu sudah sangat cerdas," ucapnya memuji anak kecil itu.


" ini Ibu tambah lagi bila ingin di tabung," ucap arah yang mengeluarkan uang 100.000 kepadanya.


Anak itu tersenyum. " Sebenarnya uang tabunganku sudah banyak tapi aku tidak tahu mau diapakan," ucapnya.


" Oh ya," ucap Arum saat mendengar ucapan anak itu.


" Iya di sini banyak yang memberi aku uang dan uang itu aku simpan. Mereka lupa bahwa anak seusia ku belum membutuhkan uang yang banyak," ucapnya sambil tersenyum licik.


" Nanti kalau uangnya sudah banyak ibu Arum akan buatkan rekening," ucapnya.


" Baiklah aku akan pergi dulu untuk mengambil uang tabunganku siapa tahu aku sudah bisa memiliki sebuah rekening," ucapnya yang kemudian turun dari tempat duduk tersebut dan mengantongi uang yang sudah diberikan oleh Ara dan juga Arumi.


" Gayanya melebihi pemilik Rumah sakit," ucap Ara saat anak itu sudah pergi meninggalkan ruangannya.


Arum tersenyum.


Melihat uang yang dikeluarkan anak itu Arum cukup terkejut karena memang ternyata uangnya sangat banyak seperti yang dikatakannyam Arum kemudian memanggil May Sarah untuk menyuruhnya membukakan rekening untuk anak kecil tersebut.


****


Sudah 1 tahun Eka membangun bisnis butiknya. Butik miliknya itu sudah berkembang dengan pesat. Yang awalnya Ia hanya mengontrak 1 ruko Dan kini Ia sudah memakai 4 buah ruko yang dibuat menjadi satu. Lantai 1 ruko tersebut digunakannya untuk meletak hasil desain nya yang di pajang memakai Monique . Lantai 2 khusus karyawannya yang sudah berjumlah 30 orang di bagian jahit, dan di lantai 3 itu tempat Ia meletakkan berbagai macam bahan-bahan yang dibutuhkannya untuk baju hasil rancangannya. Butiknya tergolong begitu cepat maju. Ia juga yang awalnya hanya memiliki lima orang tukang jahit kemudian bertambah 5 lagi. Hingga jumlah karyawan nya untuk jahit menjadi 30 orang. Ia berencana untuk menambah lagi karyawannya sekitar 20 orang lagi mengingat pesanan yang begitu banyak masuk ke butiknya.


Ia juga Mulai melakukan peragaan busana untuk rancang nya yang akan di peragakan oleh model-model terkenal.


Ia duduk di mejanya dengan membuat sketsa baju pengantin. Ada beberapa pasang baju pengantin yang sudah memesan kepadanya. khusus baju pengantin Ia memang memakai tenaga penjahit khusus.


Buatin baju pengantin orang terus, buat baju pengantin sendiri Kapan?" tanya manajernya yang sudah duduk di depannya.


Eka Dian dan memandang manajernya itu.


" Sudah bosan kerja di sini atau mau gaji dipotong?" ucapnya sambil membesarkan matanya.


" Jangan galak-galak dong Bu semakin galak jodoh nya semakin jauh," ucap asistennya yang memang tidak pernah ada takutnya kepadanya.


" Tari," ucapnya kembali menyebut nama manajernya tersebut.


Tari hanya tertawa dan menutup mulutnya.


" Pak Heri cakep ya Bu," ucapnya kemudian.


" Diam," ucap Eka


" Masa nggak boleh ngomong si buk," ucapkan kepada bosnya tersebut.


Eka hanya diam, Ia begitu konsentrasi membuat seketsa ranjang baju pengantin hingga Ia tidak menyadari manajernya itu sudah duduk di depan nya.


" Bu Pak Heri ada di depan," ucapnya kemudian.

__ADS_1


" Kenapa gak ngomong dari tadi sih," ucap eka yang begitu kesal saat melihat manajernya tersebut.


Tari hanya tersenyum. " Mau disuruh masuk atau gak Bu?" tanya nya.


" Suruh masuk," ucapnya kemudian sambil membesarkan matanya. Ia benar-benar kesal melihat manajernya tersebut selalu saja menggoda nya.


" Oke deh bu," ucap Tari yang kemudian pergi meninggalkan ruangannya.


Eka melihat pintu ruangannya yang terbuka Ia kemudian tersenyum saat pria itu masuk ke dalam ruangannya.


" Sudah jam makan siang mau makan keluar gak?" tanya Heri yang duduk di depannya.


" Mau sih cuman mau di tinggalin masih nanggung," ucapnya yang sedang memegang pensil dan kertas di tangannya.


" Mau dibawain ke sini ?" tanya Heri.


" Eka menggelengkan kepalanya tunggu bentar," ucapnya kemudian.


" Gimana apa Daffa jadi masuk TK?" tanya Heri.


Eka menganggukkan kepalanya. Iya jadi tapi," Ia menghentikan kalimat yang ingin diucapkan nya.


" Ada masalah?" tanya Heri.


" Aku masih bingung," ucapnya yang kemudian mengambil formulir pendaftaran tersebut.


" Bingung kenapa?" tanya Heri.


* Untuk mengisi kolom nama orang tua laki-laki, atau apa aku kosongin aja ya," ucapnya kemudian.


Heri diam memandangnya. " Buat aja nama ayahnya Mas," ucapnya.


Eka memandang pria tersebut.


Ia bingung harus menjawab apa, walaupun nama pria itu ada di nama orang tua putranya namun di kk nya hanya ada namanya dengan putranya.


" Apa mau nikah dulu sama mas baru boleh Mas jadi Ayahnya Daffa?" tanya hari kepadanya.


Ia kembali mengangkat kepalanya dan memandang Heri. Eka kemudian menundukkan kepalanya lagi. Ia tampak begitu sangat bingung untuk menjawabnya. Ini yang ketiga kalinya pria itu melamarnya. Dulu Ia beralasan ingin menyelesaikan kuliahnya, kemudian Ia beralasan lagi ingin menjalankan usaha yang baru dibangunnya. Namun kali ini apalagi alasannya akan dibuatnya untuk menolak pria tersebut.


Heri tersenyum tipis memandangnya." Apa tidak ingin memberikan Mas kesempatan?" tanya kepada Eka.


Eka diam tanpa menjawab.


" Ini yang terakhir kali Mas meminta kamu untuk menjadi istri mas, dan bila kamu memang tidak bersedia mas tidak akan menanyakannya lagi," ucap pria tersebut yang tampak begitu kecewa.


Eka merasa sangat sedih saat mendengar ucapan pria itu. Pria itu begitu sangat baik kepadanya dan sangat tulus mencintainya dengan kondisinya yang begitu sangat hancur. Ia juga tau bahwa Heri begitu sangat menyayangi putranya.


" Mas sebelum Aku menjawab Mas coba pikir dulu Mas tahu kan seperti apa masa lalu aku. Aku itu punya anak tanpa punya suami. Mas sendiri lihat sewaktu aku aku dibawa Arum untuk tinggal di rumah miliknya, Apa Ma yakin untuk menjadi istri Mas. Bagaimana dengan orang tua serta keluarganya Mas," tanyanya kemudian.


" Apakah kamu lihat aku pernah mempermasalahkan tentang masa lalu mu?" tanya hari kepadanya.


Eka diam dan kemudian menggelengkan kepalanya.


" Masalah tentang kamu sudah ku ketahui dan tidak ada yang perlu kamu tanyakan tentang hal itu. Sekarang Yang aku mau jawaban dari kamu, kamu bersedia atau tidak itu saja," ucapnya.


Eka Diam. " Tapi aku nggak pantas Mas," ucapnya kemudian.


" menurut ku pantas," jawab Heri.


" Apa Mas mau ngasih aku waktu satu minggu untuk memikirkan ini," ucapnya kemudian.


Heri menganggukkan kepalanya. " Mas akan menunggu satu minggu," ucapnya.


Eka menganggukkan kepalanya setelah mendengar ucapan pria tersebut.


***


Jangan lupa like komen dan votenya ya Reader. Terimakasih atas dukungan nya.

__ADS_1


😊😊🙏🙏


__ADS_2