
Arum masuk kedalam kamarnya. Ia menghubungi Ardi. Gak lama telpon tersambung dan langsung di angkat Ardi.
“Halo Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam Di”
“Ada apa Arum.”
“Arum mau kasi tahu kalau besok di rumah Arum ada acara Ardi datang ya.”
“Acara apa”
“Lamaran”
“Ibu mau nikah lagi,” tanya Ardi dengan polosnya.
“Kamu Ya Di”
“Emang siapa yang lamaran”
“Hehehe Arum”
HP yang dipegang Ardi sampai jatuh ke lantai saat mendengar kata-kata tersebut. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Ardi memungut ponselnya yang jatuh ke lantai. “Kamu tadi ngomong apa?” Ia masih ingin meyakinkan apa yang didengarnya.
“Acara lamaran Arum”
“Kamu dilamar?”
“Iya Di”
“Sama siapa”
“Mas Habibi.”
Tubuh Ardi lemas seketika, ingin rasanya dia melempar HP yang dipegangnya. Ia tidak menyangka kalau Habibi akan melamar harum lebih cepat.
“Di kamu masih denger aku kan?”
“Iya masih”
“Besok kamu datang ya”
Ya Allah, Ardi mengusap wajahnya dengan kasar bagaimana bisa Arum begitu santai memberitahunya, apakah gadis itu tidak pernah tahu kalau dia sangat mencintai Arum. Hembusan napas Ardi terdengar sangat kuat. Bagaimana mungkin dia bisa datang ke acara tersebut, yang ada mungkin dia bisa pingsan. Gadis yang dicintainya selama ini harus menerima cincin dari pemberian laki-laki lain?
“Datangkan besok?” kata Arumi lagi.
__ADS_1
“Insya Allah.”
“Ya udah Arum mau ngasi tahu bg Ari, bang Doni, dan kak Sarah dulu ya.”
“Iya. Selamat ya.”
“Makasih ya Di.”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam.”
Ardi menutup panggilan telepon tersebut, ia melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur rasanya perjuangannya sudah tidak akan bisa dilanjutkan lagi. Apakah Arum tidak pernah tahu dengan perasaannya? Ia sudah berencana kalau dia sudah selesai kuliah maka ia baru akan mengatakan cintanya dan sekaligus untuk melamar. Mengapa ia terlalu yakin bahwa Arum adalah jodohnya. Rasa kecewa begitu besar yang dirasakan nya. Apakah salah selama ini dia tidak pernah mengatakan perasaannya. Bila ditanya kapan dia mulai mencintai Arum dia sendiri mungkin sudah tidak tahu kapan pastinya. Mungkin saja waktu dia masih kecil disaat mereka bermain rumah-rumahan, Ardi menjadi papa dan Arum menjadi Mama. Mereka menjadi keluarga yang harmonis. Ardi menirukan karakter papanya yang begitu sangat tegas namun penyayang sedangkan Arum meniru karakter ibunya yang lembut dan penurut.
“Kenangan Ardi”
“Papa sarapan dulu ya sebelum ke kantor. Mama sudah buatkan papa sarapan.”
“Mama buat sarapan apa?”
“Nasi goreng pa.”
“Enak nih ma.” Sambil pura-pura menyuapkan nasi kemulutnya.
Setelah selesai sarapan, Ardi berpamitan sama Arum. “Ma, papa berangkat dulu ya. Mama jangan capek-capek kerjanya. Papa gak mau mama sakit.”
Untung saja mereka tidak melihat kedua orang tuanya cium-ciuman sebelum berangkat kerja.
Ardi memetik daun-daun untuk dijadikan uang dan mengambil tangkai daun ubi untuk membuat kalung dan gelang. Tak lama kemudian terdegar suara ketukan pintu. Arum membuka pintu tersebut.
“Papa sudah pulang?”
“Iya ma.”
“Papa capek ya?”
“Iya ma, tadi banyak kerjaan.”
“Oh iya ma, ini uang gaji papi,” sambil memberikan daun-daun yang di susun seperti uang dengan lembar yang banyak.
“Papa sudah gajian?”
“Sudah ma.”
“Makasih ya pa. Uangnya akan mama hemat papa dan ditabung. Biar kita bisa beli rumah.”
__ADS_1
“Istri papa hebat.” Sambil tersenyum lebar. “Ini papa ada belikan mama perhiasan,” sambil mengeluarkan kalung yang di buatnya dari tangkai daun ubi dan kemudian memasangkannya keleher Arum.
“Ini cantik sekali pa.”
Kemudian Ardi mengeluarkan gelang yang terbuat dari tangkai daun ubi dan memasangkannya. “Nanti kalau Ardi sudah besar. Ardi akan membelikan Arum kalung emas benaran. Gelang, dan juga cincin. Ardi akan belikan Arum cincin berlian seperti yang di kasih papa untuk mama.”
“Ardi janji ya.”
“Iya aku Janji.” Sambil tersenyum lebar.
Handoko membuat pondok kecil di perkebunan miliknya karena Mardi selalu membawa anaknya ke perkebunan di hari Sabtu dan Handoko membawa Ardi. Arum sangat mudah terjatuh, Ardi selalu membantunya untuk berdiri. Di saat Arum menagis kakinya berdarah, Ardi mengendong Arum di punggungnya. Walaupun mereka masih sama-sama kecil namun Ardi tetap berusaha mengendong Arum. Ia membersihkan luka tersebut dan memberinya betadin kemudian membalut luka Arum dengan perban. Ardi selalu membawa betadin, hansaplas dan perban untuk mengobati Arum bila terjatuh. Bahkan sampai saat ini ia tidak pernah meninggalkan betadin, hansaplas dan perban. Ia selalu menyimpannya di dalam tasnya. Walaupun ia tahu Arum bukan anak kecil yang rawan jatuh.
“Nanti Ardi akan menjadi dokter agar bisa mengobati Arum. Nanti jangan lari-lari lagi ya.” Sambil memberikan punggungnya untuk Arum naik.
Di saat ayah Arum meninggal. Arum berjualan gorengan di depan kelas. Tidak ada yang mau bermain dengannya. Arum tetap tampak sangat tegar dan bahkan ia tampak biasa-biasa saja. Ardi selalu membeli gorengan tersebut bila tidak habis. Dia akan memberikan untuk teman-temannya satu kelas karena Ardi tidak suka makan gorengan. Arum selalu menambah jumlah gorengan yang di bawanya. Awalnya 25, kemudian 30, 40,50,100 dan terakhir 200. Ardi menghabiskan uang tabungannya untuk membeli sisa gorengan Arum bahkan dia rela tidak jajan untuk menabung agar bisa menghabiskan gorengan tersebut.
***
Ardi menatap wajahnya di cermin. Ia meninju cermin besar tersebut. Darah segar mengalir dari tangannya. Beberapa kaca tertancap di tangan tersebut. Ia Duduk di lantai sambil melihat tangannya yang meneteskan darah. Setelah ia mampu mengendalikan emosinya Ardi baru mengobati lukanya dan mengambil rivanol kemudian membersihkan luka tersebut. Mencabut kaca yang tertancap ditangannya dan kemudian ia memberi betadin dan membalut luka tersebut dengan perban.
***********
Naura sudah berada di rumah Arum. Arum meminta supir Habibi menjemput nya berserta umi dan Aby Naura. Naura berada di kamar Arum. Kamar yang terlihat sangat besar dan mewah. Mata Naura terbuka lebar melihat kamar tersebut.
Arum membuat video tutorial makeupnya dan juga Naura. Setelah selesai dengan makeup mereka Arum upload di IG nya.
“Katanya acara keluarga. Tapi sepertinya acara besar.” Tanya Naura.
“Arum juga gak tau. Mami mas Bibi yang siapin.”
“Arum jadi kasi tahu Abang Ardi?” tanya Naura lagi.
“Jadi, Ardi,bang Doni, bang Ari dan kak Sarah.”
“Ara gak kebayang, gimana perasaan bang Ardi.”
“Emang kenapa?”
“Kalau bang Ardi datang, entah gimana perasaannya.”
“Arum udah bilang, kalau Arum sama Ardi tu, kita sahabat sejak kecil.” Jawab Arumi. “Tapi Ara nunduk terus kalau ketemu sama Ardi, bang Doni dan bang Ari. Kok bisa tahu Ardi suka Arum.”
Ara ketawa, “Ara nunduk bukan berarti gak lihat ya. Ingat nunduk bukan buta.”
Suara ketukan pintu membuat Ara langsung berdiri. Ternyata Sarah sudah datang dan mereka mengobrol bertiga.
__ADS_1
***********