
Eka tidak ada henti-hentinya menangis mengadu kepada abangnya tersebut. Semua peristiwa yang dialaminya kembali diingatnya satu persatu. Walaupun peristiwa itu sudah berlangsung hampir 6 tahun, namun semuanya masih begitu jelas di dalam ingatannya. Bahkan Ia begitu sangat takut untuk berjumpa dengan abang kandung nya, Ia takut abangnya akan memperlakukannya sama dengan orang tuanya memperlakukan nya." Sewaktu Eka kasih tau ke bapak sama ibu bahwa Eka hamil, Bapak begitu sangat marah. Bapak bukan hanya mengusir Eka, bapak dan ibu juga memukuli Eka. Bapak nanya ke Eka siapa yang menghamili, Eka mengatakan bahwa Eka ditipu orang itu. Semuanya palsu, termasuk biodata, tempat bekerja dan juga alamatnya. Sebelum Eka pulang ke kampung, Eka sudah lebih dulu mencari keberadaan orang itu dan bahkan sampai sekarang Eka gak tahu nama orang itu. Saat pihak rumah sakit menanyakan nama ayahnya, Eka meminta untuk mengosongkan nama ayahnya," ucapnya dengan tangis yang sudah terdengar begitu sangat keras.
Imam tidak ada henti-hentinya mengusap tangan adiknya serta mengusap air mata adiknya tersebut. Walaupun Ia sudah mendengar Heri sedikit memberitahunya tentang hal tersebut, namun begitu mendengar adiknya bercerita hatinya begitu sangat sedih dan juga sakit.
" Bapak begitu sangat marah mendengar cerita Eka yang begitu sangat bodoh. Bapak langsung mukul Eka, Berulang kali bapak menampar Eka dengan sangat keras. Kepala Eka sampai pusing hingga Eka terjatuh, Mulut Eka juga berdarah. Ibu juga mukulin badan Eka dan mencubit-cubit Eka. kemudian Ibu narik rambut Eka, dan menyeret Eka keluar dari rumah. Waktu itu Eka mohon agar mereka mau mengizinkan Eka untuk tidur semalam saja di rumah. Eka berjanji akan pergi besok pagi. Namun Ibu gak mau sama bapak, menutup pintu," ucapnya yang mengusap air matanya. Ia masih begitu ingat Bagaimana perilaku kedua orang tuanya terhadapnya,
__ADS_1
Imam memeluk adiknya. " Mas yang bersalah atas semua yang menimpa kamu dek, Mas gagal menjadi abang yang baik, yang bisa melindungi dan menjaga kamu. Mas benar-benar tidak bisa melindungi adek mas sendiri," ucapnya yang begitu amat menyesal. Selaku Abang tertua, seharusnya Ia yang menjaga dan melindungi adik nya.
" Seperti apa pun kesalahan kamu, gak semestinya mereka memperlakukan kamu seperti itu. Walau bagaimanapun kamu membutuhkan dukungan dari keluarga. Kamu juga gak seutuhnya salah, mereka terlalu membebaskan anak perempuannya untuk bekerja jauh dari mereka sehingga mereka tidak bisa menjaga dan memantau anaknya. Seharusnya mereka menyadari akan kesalahannya bukannya menghakimi kamu seperti itu," ucap Imam yang meneteskan air mata.
"Sewaktu Eka pindah dari kos-kosan, Eka masih bekerja di toko pakaian tempat Eka bekerja. Pemilik toko mulai gak suka sama Eka saat mereka tahu Eka sudah hamil, namun mungkin mereka kasihan sehingga mereka tidak memberhentikan Eka.
__ADS_1
" Setelah itu Eka kembali mencari pekerjaan kemana-mana namun gak ada yang mau menerima Eka untuk bekerja, dengan alasan mereka gak mau pelanggan mereka lari karena memiliki karyawan hamil tanpa punya suami. Waktu itu Eka berjalan Kaki datang ke toko-toko mencari pekerjaan, setiap ada toko yang memiliki tempelan mencari karyawan, Eka akan datangi. Namun tetap saja mereka semuanya menolak Eka. Dengan perut yang besar, Eka berjalan kaki. Eka hanya membawa air mineral, Eka akan meminumnya bila haus dan juga lapar. Perut Eka terasa amat sakit karena berjalan terlalu lama, bila sudah seperti itu maka Eka akan mencari tempat untuk duduk. Sambil menunggu rasa kram di perut hilang, Kaki Eka juga sampai bengkak. Selama satu minggu Eka berjalan mencari pekerjaan. Namun hasilnya sama, tidak ada yang mau menerima Eka. Pada saat itu akhirnya Eka mengambil upah mencuci dan gosok di rumah. Bersyukur beberapa tetangga ada yang mau memberikan pakaian untuk Eka cuci dan juga gosok. Bila tidak ada yang mengantar pakaian Eka gak punya uang sama sekali, karena pendapatan Eka habis untuk harian. Eka juga membeli pakaian bayi dicicil sedikit-demi sedikit, agar bila Daffa lahir punya baju. Selama hamil, Eka juga hanya beberapa kali periksa di rumah bidan. Eka gak rutin periksa tiap bulan. Eka sangat bersyukur saat hamil Daffa gak rewel. Eka gak pernah mual dan juga pusing, bahkan Eka ngidamnya juga yang murah-murah. Eka hanya ingin makan nasi goreng cabe rawit masakan Eka sendiri. Atau mie goreng pakai telor dadar. paling hanya itu yang Eka pengen saat hamil. Bila gak ada yang mau di makan karena Eka gak punya uang, maka Eka akan minum banyak-banyak, dan gerakan Daffa juga sangat lambat. Pernah juga Daffa gak bergerak sama sekali karena Eka gak makan dari pagi hingga jam 7 malam. Eka sampai nangis takut dia udah gak ada, kemudian datang tetangga yang ngambil kain yang sudah di cuci dan gosok. Eka langsung ke warung untuk beli beras dan juga telor. Eka juga membeli sayur untuk buat sayur bening. Eka langsung masak. waktu itu, Badan Eka udah gemetar Karena kelaparan. Perut Eka terasa begitu pedih. Bagitu selesai masak Eka langsung makan. Setelah Eka selesai makan Ia langsung gerak," ucapnya.
" Saat akan melahirkan, Eka sendiri. Walaupun sudah terasa amat sakit, Eka tatap bertahan di reumah. Eka berharap, Eka hanya sebentar di rumah bidan. Datang sore pagi sudah pulang. Eka lihat tetangga di sana banyak yang seperti itu. Jadi Eka hanya membayar tidak terlalu banyak. Waktu itu Eka benar-benar tidak ada uang. Eka berencana akan membayar uang persalinan Eka setelah Eka melahirkan dan akan membayar nya setelah bisa mendapatkan pekerjaan atau Eka akan menabung dari uang cucian, atau Eka cicil setiap kali ada uang.
Eka bersusah agar bisa melahirkan secara normal, Eka mulai mengikuti tips-tips yang Eka baca di google. cara agar mempercepat bukaan saat melahirkan. Semuanya Eka coba.
__ADS_1
mencuci baju jongkok, mengepel lantai pakai tangan, sujud dan juga jongkok hingga Eka sudah gak tahan lagi sakitnya. Namun air ketuban masih belum pecah.
Setelah 3 hari Eka menahan sakit di rumah, Eka sudah mulai tidak tahan Ketika sakit nya semakin kuat. Eka berjalan ke rumah bidan itu sendiri. 5 hari di rumah bidan itu, tidak ada penambahan pembukaan dan kondisi Eka yang sudah sangat lemah. Pada saat itu Eka hanya berpikir bila nanti Eka mati Eka mau mati bersama anak Eka. Eka merasa sudah tidak sanggup lagi berjuang. Eka Sudah gak sanggup lagi menahan rasa sakitnya. Eka sudah memilih untuk berhenti berjuang dan menyerah. Setidaknya bila Eka mati, Eka akan mati syahid. Bidan itu sudah berulang kali memberi Eka induksi suntik perangsang namun tetap juga gak ada penambahan bukaan. Malah sakitnya yang semakin kuat. Pada akhirnya bidan itu memaksa untuk merujuk ke rumah sakit agar bisa melakukan operasi Caesar. Semua nya Eka jalani sendiri. bahkan Eka tandatangani surat pernyataan sendiri."