Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 264


__ADS_3

" Bapak dan ibu siap-siap, kita akan berangkat ke Jakarta hari ini juga," ucap Imam.


" Bapak minta maaf," ucap Dino yang memejamkan matanya, Ia berusaha agar air matanya tidak jatuh menetes. Ia Begitu merasa bersalah dan tidak bertanggung jawab kepada anak-anaknya.


" Ibu juga minta maaf karena sikap ibu kepada kalian, sehingga kalian harus berjuang seperti ini," ucap Eli


Imam tersenyum dan kemudian menggelengkan kepalanya. " Segala sesuatu itu ada hikmahnya Bu. Inilah hikmah yang kami dapat, kalau bukan karena bapak dan Ibu yang menuntut kami untuk sukses mungkin Kami tidak akan bisa seperti ini," ucapnya.


Dino memicingkan matanya Ia benar-benar merasa sangat bersalah kepada putra dan juga putrinya tersebut. Sebagai orang tua walaupun ia tidak bisa memberikan anak-anaknya kehidupan yang layak, namun setidaknya Ia harus bisa melindungi anak-anak nya. Bila Ia tidak bisa memberikan materi yang cukup untuk anaknya, semestinya Ia harus bisa memberikan mendukung setiap langka yang ingin diambil anak-anaknya.


" Saya tidak pernah membenci Bapak dan Ibu. Selama ini saya tidak datang ke sini bukan karena saya membenci Bapak sama Ibu hanya saja saya memang tidak memiliki uang untuk pulang ke sini. Setelah saya menyelesaikan kuliah saya, saya kemudian langsung menjadi karyawan di perusahaan tersebut karena nilai sayalah yang paling tertinggi dari seluruh peserta tes. Saya mendapat jabatan sebagai asisten wakil direktur keuangan. Bos saya asli orang Inggris. Saya yang bertugas membantu segala laporan keuangan di perusahaan tersebut.


" Setelah itu saya kembali melanjutkan kuliah S2 saya selama dua setengah tahun. Setelah saya menyelesaikan S2, saya diangkat menjadi wakil direktur keuangan. Bos saya itu dipindahkan ke perusahaan pusat. Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya, sehingga saya memang belum ada waktu untuk datang ke sini dan kali ini adalah kesempatan saya bisa datang ke sini Karena berhubung ada urusan Eka juga," ucap imam yang berusaha untuk membuat kedua orang tuanya tidak terlalu merasa bersalah.


Dino menganggukkan kepalanya.


" Bapak Ibu siap-siap kita berangkat langsung ke Jakarta," ucapnya.


Eli menganggukkan kepalanya Ia memanggil kedua putrinya yang bermain di luar bersama dengan Daffa.


"Ada apa Bu?" tanya Intan yang sudah masuk ke dalam rumah.


" Kalian siap-siap, kita bakalan langsung berangkat ke Jakarta hari ini," ucap Elly kepada putrinya tersebut.


Intan dan Tia menganggukkan kepalanya, Mereka kemudian bersiap-siap mengumpulkan barang-barang yang akan dibawanya ke Jakarta.


Imam Melihat baju adik-adik yang sangat seksi-seksi.


" Baju kalian ganti," ucapnya kepada kedua gadis tersebut.


Kedua gadis itu saling pandang memandang saat dia disuruh mengganti baju yang di pakai nya.


" Baju kami hampir semuanya seperti ini," ucap Tia


" Kalian gak usah ikut kalau makai baju yang seperti itu," ucap Imam.


" Gak mungkin kami pakai gamis ibu mas," ucap kedua garis tersebut memelas.


" Di dalam mobil ada baju yang sudah Kak Eka bawa. kalian Ambil aja baju-baju itu. dan ganti baju kalian dengan yang kak Eka bawa. " ucapnya.

__ADS_1


Kedua gadis itu dengan patuhnya menuruti perintah yang disampaikan oleh kakak nya. Eka sudah membawakan adik-adiknya itu baju lengan panjang dan juga rok, Ia sengaja mendesain baju untuk gadis-gadis remaja dengan model lebih simple namun tetap tertutup. Ia memiliki ide tersebut, saat adik-adiknya datang ke butiknya. Ia mengetahui ternyata gadis-gadis remaja kurang tertarik memakai busana syar'i. sehingga Ia memiliki inisiatif untuk membuat desain baju untuk gadis gadis remaja.


Setelah semuanya selesai Imam dan juga keluarganya naik ke dalam mobil. Ia sengaja membawa mobil Fortuner agar semua anggota keluarganya bisa masuk.


Selama di perjalanan, mereka tidak ada henti-hentinya bercerita dan mengingat masa-masa mereka saat Dulu mereka masih kecil.


" Mas Imam itu dulu waktu kecil jahat banget. Eka sering nagis di buatnya," ucap Eka saat mengingat bagaimana nakal nya abangnya tersebut.


" Gak lah, Kamu aja yang terlalu cengeng jadi anak," jawab Imam.


" Mas jangan pura-pura lupa, dulu mas ambil tangan Eka. Mas bilang mau lihat tangan Eka, namun ternyata mas malah kentut kan. mana kentut nya bau di lagi," ucap Eka yang masih sangat kesal saat Ia mengingat bagaimana tingkah usil abang nya itu


Eli tertawa mendengar ucapan putrinya tersebut . " Waktu itu adik kamu sampai nagis gara-gara ulah kamu," ucap nya.


" Ih mas imam jorok," ucap intan dan juga Tia.


" Dulu ada tetangga datang ke rumah kita. Mereka marah-marah karena kepala anaknya dilempar Imam sama batu sehingga kepala anak orang itu berdarah. Dia bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. pada saat itu bapak melihat kepala anak orang itu berdarah. Bapak memberi orang itu uang untuk biaya perobatan. Bapak juga bilang ke orang itu bawa Imam tidak ada di rumah," ucap Dino saat mengingat Bagaimana nakalnya putra sulungnya itu.


Mereka tidak ada henti-hentinya tertawa saat mereka mengingat masa-masa kecil mereka dulu.


Di saat mereka sudah berkumpul seperti ini. mereka tidak ada henti-hentinya saling mentertawakan satu dengan lainnya Dan kemudian mereka saling ejek mengejek dan berkelahi kecil. Mereka berusaha untuk mencari tempat perlindungan masing-masing. Mereka tertawa bersama.


Saat ini Tia yang selalu menjadi bahan tertawaan mereka bertiga, Karena dialah anak yang paling bungsu. Gadis yang baru lulus lulus SMA itu tidak ada henti-hentinya memajukan bibirnya dan mencari tempat perlindungan kepada kedua orang tuanya. Di saat ia diejek habis-habisan oleh saudara-saudaranya tersebut.


Mereka juga tidak ada habis-habisnya tertawa saat mendengar Daffa bercerita.


Eli begitu terharu saat melihat kecerdasan cucunya. cucunya itu begitu tampan dan juga bersikap dewasa.


***


Mobil itu memasuki kawasan perumahan elit.


Eli dan Dino memperhatikan sekeliling perumahan tersebut.


"Ini mau ke rumah siapa?" tanya Dino kemudian.


" Rumah imam Pak," jawab Imam.


Dino mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sepertinya sudah mulai bisa menebak bahwa putranya itu tinggal di perumahan elit tersebut. Melihat penampilan dan juga mobil putranya, Ia sudah bisa menebak bahwa putrinya begitu sangat kaya.

__ADS_1


Mobil itu berhenti di depan pagar tinggi. Seorang security datang membukakan pagar rumah itu, mobil itu masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut.


" Ayo pak, ibu turun," ucapnya yang sudah membukakan pintu mobil bapak dan Ibunya tersebut.


Mereka turun dari dalam mobil. Dino dan Eli mengikuti langkah kaki putra nya.


Dino,Eli Dan juga adik-adiknya begitu sangat terpukau saat melihat rumah mewah itu. mereka memandang sekeliling rumah tersebut.


" Ini rumah Bang Imam?" banyak Intan.


Imam menganggukkan kepalanya. " Ayo masuk" ucapnya kemudian. rumah yang ditempatinya, sama mewahnya dengan rumah yang ditempati oleh Eka.


ART nya sudah menunggu di dalam.


" Pak Imam, kamar-kamar nya sudah saya siapkan," ucap bik Sam yang langsung mempersilakan Imam beserta keluarganya untuk masuk.


" Terimakasih ya Bik Sam. Bik saya minta tolong agar bapak dan ibu di antara ke kamar. Adik-adik saya juga," ucapnya.


" Baik pak," ucap art tersebut.


Dino Dan Eli begitu sangat bangga saat melihat apa yang dimiliki oleh putranya.


" Pak Bu istirahat dulu ya di kamar nanti bik Asi akan mengantarkan makanan dan juga minuman ke dalam kamar," ucapnya kepada kedua orangtuanya.


Eli dan juga Dino menganggukkan kepalanya.


" Nanti malam kita akan berkunjung ke rumah Pak Habibi saya akan menghubunginya nanti," ucap Imam.


" Ya nak ," Jawab Dino.


Bik Asi mengantarkan kedua orang tua Imam ke dalam kamar yang sudah Ia siapkan. Sesuai perintah dari Imam, Ia juga mengantarkan minuman serta makanan untuk kedua orang tuanya tersebut.


sedangkan adik-adiknya berjalan-jalan mengelilingi rumah tersebut dan memandang sekeliling rumah mewah. Mereka tidak ada henti-hentinya berfoto di perkarangan dan juga di dalam rumah tersebut.


****


jangan lupa like komen dan votenya ya reader.


terimakasih atas dukungan nya.

__ADS_1


__ADS_2