Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 332


__ADS_3

"Ini bajunya kenapa cuman satu Babang ganteng?" ucap Jessica yang memandang Imam sambil mengedipkan matanya.


"Saya hanya butuh satu baju untuk calon istri saya. Ini baju untuk acara akad nikah nanti," ucap Imam yang memandang ke lain arah.


"Apa gak pakai acara resepsi?" ucapnya.


"Untuk resepsi, saya pakai hasil desainer Eka Pratiwi," ucapnya.


Mulut Jessica terbuka saat mendengar nama Eka Pratiwi disebutnya. "Kenapa pesannya jauh sekali. Kualitas designer Solo itu bagus-bagus nggak kalah dengan kualitas designer yang ada di Jakarta. Saya salah satu desainer terbaik dan terkenal di sini. Bahkan keluarga ningrat itu memesan baju pengantin dengan saya," ucapnya.


Imam tersenyum. Saya dari Jakarta sedangkan calon istri saya orang sini," ucapnya.


Jessica menganggukkan kepalanya saat ia mulai mengerti maksud tujuan Imam.


May sarah begitu sangat kesal saat melihat Jessica yang berbicara begitu sangat genit dengan calon suaminya. Walaupun Jessica itu wanita tidak jelas namun dadanya yang begitu berisi dan besar. Sudah pasti sangat menggoda. Ditambah bibirnya yang seksi kecil dan tebal dengan liptik merah merona, membuat bibirnya terlihat begitu sangat seksi


"Apa ingin sekalian foto prewedding di sini?" tanya Jessica menawarkan


"Imam menganggukkan kepalanya


"Aku akan menyiapkan baju untuk kamu," ucap Jessica yang memandang Imam


Imam menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, saya membawa baju sendiri di mobil," ucapnya


Jessica membulatkan bibirnya saat mendengar ucapan Imam


"Aku akan meminta perias aku mendandani calon istri kamu, biar dia semakin cantik saat kau pandang," ucapnya sambil mengedipkan matanya dengan imam.

__ADS_1


Imam menelan air ludahnya. Dengan cepat memalingkan wajahnya. "Aku akan tunggu di luar," ucapnya.


"Kenapa tidak menunggu di sini saja," ucap Jessica manja.


"Calon istri aku pencemburu," ucapnya yang memandang May sarah.


May Sarah tersenyum mendengar ucapan calon suaminya.


***


May sarah keluar dari butik tersebut dengan penampilan yang sudah sangat jauh berbeda. Semua baju yang dipakainya saat pergi tadi sudah berada di dalam paper bag. Saat ini ia begitu sangat cantik dan anggun dengan busana yang mahal.


Imam memendang calon istrinya yang begitu sangat cantik. "Mau jalan ke mana?" Saat sudah berada di dalam mobil.


May tampak berpikir saat mendengar ucapannya. "Aku terserah saja, kalau Mas mau ke museum boleh," jawabnya.


"Apa adek mau nonton?" tanya imam.


"Mas lihat di internet katanya kalau pacaran itu ke bioskop, dan nonton," ucapnya.


May tersenyum saat mendengar ucapannya "Kalau gitu kita wajib nonton," ucapnya.


May tersenyum sendiri saat mengingat usia mereka yang sudah tidak muda lagi. Namun bodohnya mereka sama-sama seperti anak yang belum pernah mengenal cinta.


"Nanti sore Ibu sama keluarga mas, mau berkunjung ke rumah adek," ucap Imam.


"Ke rumah may?" tanya May sarah.

__ADS_1


"Iya Ibu belum pernah ketemu sama keluarga adek, Makanya Ibu mau ke rumah adek untuk bisa lebih saling dan kenal bisa saling akrab," ucap Imam yang memandang gadis cantik yang sudah berstatus calon istrinya.


May Sarah tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "May kasih tau mama dan ibu. Nanti May juga wajib cepat pulang. Biar bisa bantu-bantu di rumah," ucapnya.


"Iya nanti selesai nonton langsung pulang," ucapnya.


"Uang May ada banyak, tapi kenapa nggak May aja yang bayar," ucap may sara memandang calon suaminya.


Imam tersenyum memandang calon istrinya dan mengusap kepalanya. "Sombong ya dek kalau punya banyak duit," ucapnya memandang May sarah.


May sarah tersenyum dan menganggukkan kepalanya. May nggak tahu uang segitu banyak mau diapain?" tanya.


"Beli sapi juga boleh," ucap Imam.


May mengangukan kepalana. "Biar Papa nggak perlu kerja lagi," ucapnya menanggapi serius perkataan calon suaminya.


"Beli sapinya untuk Papa?" tanya Imam.


"Iya, Mi larang Papa nggak usah kerja. Papa bilang, Papa masih sehat tenaganya masih kuat. Jadi biar papa ada kerjaan dan kesibukan. May bakalan belikan sapi, di belakang rumah tanahnya Masi luas, jadi papa bisa beternak sapi," aja ucapnya.


"Jangan berternak sapi itu berat kerjanya, nanti papa kecapekan kasihan Papa," ucap Imam.


May gaji pekerja untuk cari makannya. Biar Papa punya kesibukan ngasih ngasih makan rumput sapi, sambil lihat-lihat sapi. Lumayan memanfaatkan perkarangan di belakang rumah," ucapnya.


"Di daerah kota nggak bisa ternak sapi sayang, tetangga pasti marah," ucap Imam.


"Iya juga,". ucap May sambil tersenyum. .

__ADS_1


***


Jangan lupa like komen dan votenya reader. Terimakasih atas dukungannya.


__ADS_2