Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 297


__ADS_3

Imam memberhentikan mobilnya di depan warung bakso. Ia memandang gadis cantik yang duduk di sebelahnya. Gadis itu tidak berbicara sama sekali bila tidak dipancing lebih dulu. Wajahnya tampak kaku tanpa pandai banyak bercanda seperti gadis-gadis kebanyakan. Gadis itu hanya duduk diam sambil memandang ke depan.


Imam memandangnya. "Seandainya aku membawa kamu ke tempat yang lain bukan kesini, apa kamu akan protes?" tanya Imam karena melihat sikap gadis itu yang hanya diam saja.


May Sarah memandangnya. "Tentu saja karena itu sudah diluar dari konsep tempat yang akan didatangi , "jelasnya.


Imam tersenyum saat mendengar ucapan gadis tersebut. "Ternyata seperti ini ya yang namanya Bodyguard," ucapnya.


"Sebagai seorang Bodyguard, saya harus menentukan segala sesuatu itu sesuai dengan apa yang direncanakan, "jelas May.


"Bila aku membawa kamu ke tempat yang tidak sesuai dengan yang direncanakan bagaimana?"


Imam sengaja memancingnya.


"Pak Imam jangan lupa saya ini adalah Bodyguard. Saya membawa senjata api dan juga saya ahli beladiri. Mungkin bila saya bertarung dengan Pak Imam saya belum tentu kalah," May berkata dengan tegas dan kepercayaan diri yang tinggi. Ia berbicara dengan ekspresi wajah yang sangat serius.


Imam hanya tersenyum saat mendengar jawaban dari gadis tersebut.


"Baiklah aku tidak berani," ucapnya yang mengangkat kedua tangannya ke atas. Ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang ketakutan.


May sarah tertawa saat melihat ekspresi wajah pria tersebut.


Imam memandang May Sarah yang tertawa lepas. "Kamu sangat manis bila tersenyum dan juga tertawa," ucapnya saat ia baru menyadari bahwa begitu sulit bisa melihat senyum di wajah cantik gadis tersebut. Begitu langkah baginya bisa mendengar dan melihat gadis itu tertawa lepas tanpa ada yang ditahannya.


May sarah kembali diam seperti biasanya.


"Ayo turun," ajak Imam.


May sedikit menganggukkan kepalanya ia kemudian membuka pintu mobil di sampingnya. Ia masuk ke dalam warung bakso bersama dengan imam.


Warung bakso itu cukup ramai mereka mendapat tempat duduk yang posisinya tidak terlalu di belakang. Namun meja itu sudah terisi oleh pasangan suami istri yang membawa anaknya. Mau tidak mau mereka duduk di sana karena memang sudah tidak ada lagi tempat yang kosong.


"Permisi ya mas," ucap Imam ketika akan duduk bersama May Sarah. Imam tidak enak hati dengan pasangan muda tersebut.


"Iya mas," ucap pria satu anak itu sopan.


Imam memesan 2 mangkok bakso. May sarah meminta bakso jumbo sedangkan Ia hanya bakso biasa dan dan jeruk dingin.


May Sarah memperhatikan pasangan muda yang duduk di depannya. Bila dilihat usianya pasangan muda itu lebih muda darinya. Namun mereka sudah memiliki anak yang berusia sekitar 3 tahun. May Sarah tersenyum saat melihat anak yang berusia 3 tahun itu memakan bakso.


"Nama si adiknya siapa?" tanya May.


"Namanya Andien," ucap ibu si anak. Pasangan muda itu tersenyum saat memandangnya


May Sarah begitu sangat gemas melihat anak perempuan itu makan bakso. Pipinya begitu bulat seperti bakpao. ,"Umumnya berapa tahun?" tanya BB May yang tersenyum ketika gadis kecil itu berusaha memasukkan bakso ke dalam mulutnya.


"3 tahun," jawab ibu anak tersebut.


May sarah tertawa saat melihat anak itu memasukkan bakso kedalam mulutnya dan kemudian ia mengeluarkan bakso itu kembali saat tidak bisa memakan bakso yang ukurannya cukup besar yang sudah di potong-potong ibunya di dalam mangkoknya.


"Sepertinya potongan baksonya kebesaran harus dikecilin lagi," usul May.


Ibu si anak itu tertawa dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Imam hanya memperhatikan gadis di sebelahnya.


"Saya ingat Vira, Waktu Vira berumur 3 tahun. Pipinya bulat seperti bakpao. Gemesin kalau lihat pipinya. Apa lagi kalau dia lari-lari pipinya juga ikut goyang-goyang," May tersenyum mengingat gadis kecil yang sudah di lindungi nya sejak lahir.


Imam memandang nya. "Kamu suka anak-anak," ucap Imam.


May sarah tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Nanti kita buat, "ucapnya yang berbisik di telinga gadis tersebut.


May sarah memandangnya dengan mata yang terbuka lebar. Ia merasa wajahnya memerah saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia begitu sangat kesal saat melihat pria itu berbicara seenaknya.


Imam tersenyum tipis saat melihat ekspresi wajah gadis tersebut. "Kamu kalau marah tambah cantik," ucap Imam.


May Sarah hanya diam sambil memandang pria tersebut. Ia tidak pernah mendengar pria memujinya. Jujur saja ia merasa begitu sangat senang saat mendengar ucapan pria yang saat ini duduk di sampingnya. Pria itu begitu sangat tampan menurutnya. Bahkan jauh lebih tampak dari pada pria yang akan di jodohkan dengannya. Namun ia begitu malu untuk menunjukkan rasa senangnya. Ia juga tidak mengerti mengapa ia begitu sangat senang dekat Iman. Ia juga merasakan detak jantungnya yang berdegup dengan sangat kuat. Seperti dulu saat ia merasakan cinta pertamanya yang begitu sangat menyakitkan baginya. Ia kemudian menundukkan kepalanya saat ia merasakan detak jantungnya sudah tidak mampu lagi dikendalikannya.


Imam mengusap kepalanya. "Ayo makan," ucapnya.


May Sarah menganggukkan kepalanya. Ia memegang sendok dan garpu. Ia memotong bakso tersebut dengan sendok yang di tangannya. Ia menyendokkan bakso itu ke mulutnya dan mengunyah bakso tersebut. Saat ia makan di warung bakso bersama keluarga Habibi, ia merasa bakso di sini sangat enak. Namun saat ini ia merasa bakso yang di makannya serasa tidak berasa.


May Sarah memandang Imam secara diam-diam pria itu terlihat begitu sangat santai. Ia merasa detak jantung nya semakin kuat ketika tatapan mereka bertemu.


"Saya sudah siap makan pak Imam," ucap May Sarah yang tidak menghabiskan bakso yang ada di dalam mangkoknya.


Imam memandangnya dan melihat mangkoknya yang masih terisi. "Kenapa tidak dihabiskan," ucapnya.


May Sarah sedikit tersenyum. Saya masih kenyang," ucapnya.


Imam kemudian menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan gadis tersebut. "Mau langsung pulang atau masih ingin jalan-jalan," ucapnya.


Imam tersenyum dan menganggukkan kepalanya . "Mas kami duluan ucap Imam menyapa pria yang duduk di depannya.


pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. pasangan muda itu memang lebih dulu datang dari padanya namun mereka sangat sabar menunggu Putri kecilnya makan.


"Mas ini bakso nya sudah saya bayarkan," ucap Imam setelah membayar bakso yang di makannya.


"Loh Mas, Makasih ya, "ucap pria tersebut ketika mengetahui bakso yang dimakan nya sudah dibayar.


Imam tersenyum dan menganggukkan kepalanya ia mengusap pipi gadis kecil tersebut.


"Bay Andin," ucap May sarah. May sarah tersenyum memandang anak kecil itu dan mengusap pipi bulat gadis kecil itu.


Ia berjalan bersama dengan Imam menuju mobil yang terparkir di halaman warung bakso tersebut. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah kursi kemudi.


Ia merasakan detak jantungnya yang berdegup sangat kuat saat harus berhadapan dengan pria tersebut.


"Besok jam berapa pulang ke Jakarta?" ucap Imam yang sudah menjalankan mobilnya.


"Sore," jawab May sarah.


Imam tersenyum tipis memandang gadis tersebut. "Bila aku melamarmu apa kamu terima?" tanya setelah ia berhasil mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal tersebut.


"Diterima karena nggak ada yang lain," jawabnya.

__ADS_1


Imam memendang May Sarah saat mendengar jawaban gadis tersebut. Matanya terbuka lebar memandang gadis yang duduk di sebelahnya. Sedangkan gadis itu terlihat biasa saja tanpa memandang ke arahnya.


Imam kemudian tertawa."Ternyata aku sangat beruntung kalau begitu," ucapnya.


Maisarah memandangnya. "Kenapa beruntung?" tanyanya.


"Itu artinya aku tidak memiliki saingan," ucap Imam.


May sarah diam memandangnya. ia kemudian menundukkan kepalanya. Ia tersenyum saat mendengar ucapan Imam namun ia begitu sangat malu untuk memperlihatkan bahwa ia sangat senang mendengar ucapan pria tersebut.


***


"Vira kamu mau apa aku akan ambilkan, "ucap Vino ketika ia akan mengambil siomay untuknya.


"Kita ambil sama-sama saja," ucap Vira yang turun dari atas kursi yang saat ini diduduki nya. Ia sedikit melompat untuk turun ke bawah.


Vino mengangguk kepalanya. Ia juga turun dari atas kursi dan berjalan bersama dengan Vira. Ia berjalan lebih dulu didepan Vira, sedangkan gadis kecil itu berjalan di belakang nya. Ia selalu ingat aturan yang diberikan oleh Maminya, bahwa ia tidak boleh berjalan berdampingan dengan Vira. Dalam aturan laki-laki harus berjalan di depan wanita karena wanita lebih bisa menjaga pandangannya. Walaupun ia masih kecil dan belum mengerti namun Ia tetap menuruti ajaran dari Maminya. Ia juga di larangan untuk tidak memegang tangan Vira. Maminya begitu sangat melarang keras Ia berdekatan dengan Vira apalagi sampai megang tangan Vira. Saat maminya memberikan aturan seperti itu terkadang ia memprotes. saat ia melihat teman-temannya yang seusia dengannya begitu bebas memegang tangan teman perempuannya. Nama maminya memberikan penjelasan yang begitu sangat sederhana yang bisa dicerna dan diterimanya.


Saat ini Vino merasa sangat senang karena maminya pergi istirahat ke dalam kamar. Bila tidak ada maminya maka ia akan memanfaatkan kesempatan emas untuk bisa dekat dengan Vira. Ia begitu sangat merindukan gadis kecil nan cantik tersebut setelah hampir 2 minggu ia tidak bertemu dengan Vira.


"Satu om siomay nya," pintanya kepada pria yang memakai seragam yang berdiri di depan nya saat ia sudah sampai di meja hidangan khusus siomay.


"Iya dek," ucap pria itu yang menyiramkan kuah kacang ke dalam bakso ikan yang sudah ada di dalam piring ukuran sedang tersebut.


Ia kemudian memegang siomay nya. sedangkan Vira meminta bakso yang langsung diantarkan oleh pelayan tersebut ke mejanya.


"Vino, Vira mau ambil susu kotak dulu," ucapnya yang mengambil susu kotak Frisian flag ada di meja. Ia kemudian mengambil dua capn es krim yang berada di dalam kulkas.


Vino Masih berdiri menunggunya. Ia kemudian berjalan menuju mejanya lebih dulu daripada Vira, setelah Vira berjalan mengikutinya dari belakang.


Kedua anak itu sedikit manjat untuk naik ke atas kursi. dan kemudian duduk di atas kursi tersebut.


"Apa Vino sudah nonton YouTube Vira?" ucap Vira saat Ia menyedot susu kotak di tangannya.


Vino sedikit menganggukkan kepalanya.


"Kenapa Vino kelihatannya tidak suka?" tanya Vira.


"Entahlah," jawabnya yang memasukkan bakso ikan itu ke mulutnya.


"Vino katakan saja," ucap Vira.


"Aku tidak suka bila bayak yang melihat kecantikan yang kamu miliki," ucapnya.


Vira tertawa saat mendengar ucapan Vino tersebut. "Vira kalau dengerin Vino bicara seperti ini mirip Papi Androw," ucapnya yang menutup mulutnya. Ia sering mendengar papi Androw berbicara seperti itu dengan Mami Ara.


Vino memandangnya tentu saja ucapnya sedikit tersenyum kecil. "Papi Androw itu adalah papi ku, dan aku selalu mencontek apa yang disampaikannya," ucapnya sambil tersenyum.


Kedua anak itu begitu sangat senang bercerita berdua. Mereka begitu sangat merindukan satu sama lain.


****


Jangan lupa like, Koment dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya.

__ADS_1


😊😊🙏🙏


__ADS_2