
" Assalamu'alaikum," Ucap Habibi saat ia masuk ke dalam kamar.
" Waalaikumsalam,"
Arum tersenyum saat melihat Habibi yang baru pulang dari kantor." Sini mas tasnya," ucap Arum yang ingin mengambil tas milik suaminya.
" Gak usah, Mas aja yang bawak. Baru lepas melahirkan tuh gak boleh angkat yang berat-berat, " Ucapnya sambil mengusap pipi istri nya. ia kemudian meletakkan tas tersebut ke tempat nya.
" Kalau cuma tas Arum kuat kok," ucap Arum kemudian.
" Jangan dulu sayang."
Cuci dulu tangannya Mas ucapnya saat pria itu sedang ingin mengambil putrinya.
" Bajunya wajib ganti dulu nggak boleh pakai baju yang dari luar langsung megang anak," ucap wanita itu yang sudah mulai cerewet.
Habibi hanya tersenyum memandang istrinya.
Ia kemudian pergi ke kamar mandi. Ia langsung mandi dan kemudian memakai baju santai untuk di rumah. rambutnya masih basah yang diarahkan ke belakang. seharian tidak jumpa putri nya, membuat Ia semakin merindukan putri nya.
pria itu sudah terlihat segar. Ia kemudian mengambil putrinya.
" Mimi makin cerewet Dek sekarang," ucapnya dengan Putri kesayangannya.
pipi istrinya semakin mengembung dengan bibir yang maju ke depan.
" Katanya gitu mas, anak bayi itu masih harum," jawab istrinya.
" Emang harum," ucap pria itu sambil mencium pipi putrinya yang gembul.
" Bukan harum yang seperti itu," omel istrinya.
" Jadi harum yang seperti apa?" tanya nya.
" Katanya anak bayi itu masih harum, orang yang memiliki ilmu keturunan seperti palasik, mahluk halus. katanya banyak yang suka. karena itu, anak bayi itu gak boleh di bawa ke tempat yang rasanya tidak aman. Tempat keramaian, pasar dan sebagainya. Sampai lepas hari. namun sudah lepas hari Juga masih harus tetap di jaga. Itu kata ibu sih mas," ucap Arum menjelaskan. Ia memeluk pinggang suaminya dari belakang sambil melihat wajah anaknya.
" O gitu ya?
apa benar ada yang seperti itu?" tanya nya.
" Ya gak tau, tapi yang pasti orang yang memiliki ilmu seperti itu memang ada. jadi ya di jaga aja," ucapnya.
" Anak pipi dah pandai apa?" ucapnya yang sedang mengendong putri nya.
" Nagis apa lagi kalau minta mimik lambat di kasih," ucap istrinya.
" O anak pipi haus, dan mimi lambat kasih mimiknya?" ucapnya sambil mencium pipi putihnya.
mulut Vira tampak membulat dan matanya terbuka. Arum yang melihat ekspresi putri nya tampak tersenyum.
" Pintar ya ngadu," ucapnya.
" Mas tuh kalau dulu pulang-pulang pasti cuman Arum sekarang pulang-pulang langsung ambil Vira, cium Vira," protes istrinya.
" Jadi mimpinya mau dicium, mau digendong juga," ucap pria itu yang sedang menggoda istrinya.
"Gak digendong juga, dicium kayak biasa aja," ucap istrinya
Habibi tertawa dan kemudian Ia membalek ke arah istrinya, ia kemudian mencium kening istrinya dan mencium bibir istrinya. lagi males dek cium-cium adek," ucapnya.
__ADS_1
" kenapa," tanya Arum
" Lagi puasa nanti batal," ucap Habibi.
Arum hanya tertawa saat mendengar ucapan suaminya tersebut.
Habibi mendengar ponsel nya yang berdering. Pegang Vira sebentar ya, mas mau angkat telepon," Ucapnya sambil memberikan putri nya ke tangan istrinya. Ia kemudian berjalan menuju nakas tempat Ia meletakkan ponselnya. Ia melihat pangilnan masuk dari Heri. Ia kemudian pergi keluar kamar untuk mengangkat telpon tersebut.
Arum memperhatikan suaminya.
tidak lama Habibi kembali masuk.
" Mas," ucap Arum saat suaminya masuk kembali ke dalam kamar.
" Ada apa," jawab pria tersebut.
" Sudah berapa hari ini Mas kok aneh ya," ucap Arum yang melihat suaminya tidak seperti biasanya.
Habibi mengusap kepala istrinya " Aneh gimana?" tanyanya.
" Arum lihat seperti ada yang disembunyiin," ucapnya
"Sembunyiin apa?" tanya pria itu lagi.
Arum menggelengkan kepalanya. "Nggak tahu," jawabnya.
" Jangan banyak pikiran sayang, ingat adek tuh baru aja siap melahirkan." ucapnya menenangkan istrinya.
" Tapi mas seperti orang lagi banyak pikiran," jawab harum.
" Banyak pikiran bukan berarti menyembunyikan sesuatu," ucap Habib yang berusaha agar istrinya tidak curiga.
" Iya juga sih," jawab Arum.
" Ya namanya manusia pastilah ada yang dipikirinlah sayang apa lagi masalah perusahaan. Udah berapa hari Mas nggak ada masuk kantor jadi sekarang kerjanya udah banyak," ucapnya berkilah.
****
Gilang yang mengendarai motor ninja tersebut, Ia menambah kecepatan motor yang dikendarainya motor itu melewati jalanan Jakarta yang padat. Ia menyelip setiap kali ada kendaraan yang menghadang di depannya.
"kamu harus bertahan," ucap Gilang yang sedang mengendarai motor tersebut saat Ia mengetahui Fatan tertembak.
Iya mengarahkan sepeda motornya ke sebuah tempat praktek dokter hewan. Tempat praktek Itu tampak lengang tanpa ada pengunjung yang membawa hewan kesayangan mereka.
Gilang memberhentikan motornya, Ia langsung memapah saudaranya yang tertembak. Fatan terlihat sangat lemas.
Gilang langsung masuk ke dalam tempat praktek dokter hewan tersebut ia meletakkan fatan dengan sangat hati-hati di kursi tunggu. Ia langsung menutup pintu roling ruko tempat praktek Dokter hewan Itu.
Rara datang dari belakang terlihat begitu terkejut saat ia melihat Gilang dan Fatan yang datang.
"Apa yang terjadi," ucap dokter hewan yang berwajah manis tersebut.
" Fathan tertembak Aku ingin kau mengeluarkan peluru yang ada di tubuhnya," ucap Gilang.
" Kau gila, kondisi nya kritis dan kau meminta aku yang mengoperasi nya ?
ini sangat serius bawa ke rumah sakit," ucap dokter hewan itu.
" Aku tidak ingin ke rumah sakit ataupun ke dokter tapi aku ingin kau yang mengobatinya," ucap Gilang dengan sedikit emosi.
__ADS_1
" Aku ini bukan Dokter manusia, aku Dokter hewan," ucap Rara yang terlibat begitu kesal.
"Aku tidak peduli jawab Gilang.
Aku ingin kau cepat mengobatinya selamatkan dia," ucap Gilang dengan nada yang sangat tinggi
Wajah Fatan sudah semakin pucat.
" Peralatan yang aku gunakan disini semuanya untuk hewan tidak ada untuk manusia, kondisinya sangat parah kau sama saja yang ingin membunuhnya," protes Rara yang kembali marah.
" Aku sudah mengatakan ke pada mu. selamatkan dia," ucap Gilang yang begitu emosi.
" Tapi aku tidak ada alat untuk manusia ," Jawab Rara. Ia memandang Fatan yang hanya diam tanpa berbicara satu katapun.
Gilang mengeluarkan uang.
" Ini, silahkan kau pergi membeli peralatan apa saja yang kau butuhkan," ucap Gilang
" Dia kehilangan banyak darah," Ucap Rara.
" Golongan darah kami sama. Ambil darah ku. sebanyak yang kau mau," ucap Gilang.
" Aku hanya bisa mengambil darahmu 500cc dan bisa lebih," ucap Rara.
" Kau bisa ambil dari ku sebanyak yang kau mau Rara. aku ingin Abang ku selamat,"
ucap Gilang.
" Antarkan Ia kekamar ku," ucap Rara
" Gilang memapah tubuh saudaranya yang jangkung tersebut. Ia merebahkan fatan di atas tempat tidur.
Rara memeriksa kondisi Fatan.
" Tolong kau jaga, aku akan kembali secepat mungkin," ucap Rara.
Rara berlari dari kamarnya. ia membuka pintu roling tersebut. Rara pergi mengunakan motor matic miliknya. Ia benar-benar kesal melihat Gilang yang memerintah nya sesuka hati. apa lagi ini menyangkut nyawa orang. Ia belum menanyakan apa yang terjadi.
Rara Berhenti di sebuah apotek yang menjual lengkap alat medis. Ia membeli infus, alat transportasi darah, stetoskop, alat tensi, alat untuk oksigen dan tabung oksigen yang kecil. kemudian Ia membeli beberapa jenis obat-obatan. walaupun Ia Dokter hewan, namun banyak obat manusia yang di berikan nya untuk hewan. mengingat obat hewan yang sangat sulit di produksi.
Ia juga membeli peralatan bedah Seperti pisau, gunting dan jarum jahit dan benang.
Rara kembali dengan alat medis yang di bawahnya. Ia masuk ke dalam ruko tersebut. Ia langsung menuju kamar nya. Ia melihat Fatan yang terbaring di atas tempat tidur. Rara langsung meminta Gilang membantu nya untuk memasang tabung oksigen. dan menempel kan alat tersebut ke hidungnya.
Rara memasang infus di tangan Fatan. ini benar-benar gila. pikirnya.
Rara, menyuntikkan bius sebelum Ia mengeluarkan peluru tersebut. cukup lama Rara mengeluarkan peluru tersebut, dan pada akhirnya Ia berhasil mengeluarkan nya. Ia menjahit punggung Fatan, Ia juga mulai melakukan transfusi darah. yang ternyata, golongan darah kedua pria tersebut sama dengan golongan darah nya.
sudah dua kantong Ia mengambil darah Gilang. Ia tidak mungkin melakukan nya lagi. saat wajah pria itu tampak sudah mulai pucat.
Ia kemudian mengambil jarum, selang dan juga kantor darah. Rara Melakukan transfusi darah sendiri.
setelah mendapat satu kantong darah, Ia menghentikan transfusi darah tersebut.
Rara terus mengecek kondisi Fatan. Gilang terlihat sangat lemas di atas tempat tidur.
Rara tampak tersenyum, saat Ia melihat kondisi Fatan yang sudah stabil.
*****
__ADS_1
like komen dan vote nya ya reader.
maaf baru bisa up. terimakasih ya atas dukungannya. 😊😊🙏🙏