Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 21


__ADS_3

Mobil melaju meninggalkan ibu kota. Arum hanya melihat dari jendela. Tampa berbicara. Pak Diman hanya fokus mengemudi mobil tersebut. Dan karena merasa lelah. Arum tertidur. Sekitar jam 7 malam. Arum di bangunkan oleh pak Diman. Saat Arum bangun dan membuka mata ternyata Arum berada di depan restoran.


“Ayo neng turun. Kita makan dulu.” Kata pak Diman.


“Sekarang jam berapa pak?” tanya Arumi.


“Sudah jam 7 malam neng.”


“Ya Allah. Saya ketiduran pak. Saya belum Maqrib saya sholat dulu ya pak.” Jelas Arumi.


“Iya neng.”


Akhirnya Arum turun dari mobil honda jazz silver tersebut. Mereka masuk ke dalam restoran Arum langsung ke ruang sholat restoran setelah sholat Arum duduk di kusi bagian tengah restoran mewah tersebut. Pelayan sudah menaruh semua menu yang ada di restoran. Arum mulai menyantap makanan itu dengan lahapnya. Setelah makan dan menghabiskan jus mangga. Pak Diman mulai berbicara.


“Neng,”


“Iya pak.”


“Ini neng, baju neng yang sudah di siapkan ibu.” Kata pak Diman sambil memberikan paper bag. Yang bertuliskan toko butik. Dan kemudian tas yang berisi sepatu.


“Untuk apa ini pak?” tanya Arumi.


“Untuk neng Arum . Ibuk tadi menyuruh saya memberikan pada neng. Neng ganti baju di toilet restoran.” Pak Diman menjelaskan.


Arum mengambil baju tersebut. Dan melangkah menuju toilet restoran. Di dalam paper bag, selain baju juga ada dalaman. Arum, tersenyum sendiri. Apa mungkin ibuk Anita membelikannya. Celana jeans ketat dan tunik yang berwarna maron. Di tambah fasmina maron. Membuat arum terlihat sangat cantik. Dan sepertinya baju yang di pakai Arum terlihat mahal. Sepatu yang sangat pas di kakinya. Walaupun Arum tidak tau tentang merek, namun sepatu yang di pakai sepertinya sepatu bermerk dan mahal. Dari paper bagnya di lihatnya, tertulis Martin. Salah satu merek sepatu dan tas mahal, barang-barang yang di berikan ibu Anita. Dan sudah pasti menambah Arum semakin cantik. Setelah selesai, Arum kembali ke tempat duduknya.


“Udah siap neng.” Tanya pak Diman.

__ADS_1


“Sudah pak.”


Setelah selesai, Arum kembali masuk ke dalam mobil. Masih melanjutkan perjalanan.


Bukan tidak ada yang ingin Arum tanyakan. Sangat banyak yang ingin ia tau. Apalah daya. Ia tak punya kuasa untuk bertanya. Karena dia hanya harus menjalankan perintah dari bos besarnya. Mengapa dirinya tidak boleh memberi tau kepada siapapun, bahkan dia tidak di perbolehkan meminta izin kepada mbak Ina tempat ia bekerja di malam hari. Berpamitan dengan para sahabat yang hampir 1 minggu dekat dengannya. Ah... Rasanya seperti sedang di culik. .. Ada apa sebenarnya. Mengapa aku seperti mencium aroma kelicikan dari bos besar tersebut.


“Pak,” sapa Arumi memulai pembicaraan.


“Iya neng,” jawab pak Diman.


“Maaf pak, apa saya boleh tanya.”


“Iya boleh neng.”


“Kita sepertinya meningkatkan Jakarta ya pak?” tanya Arumi.


“Iya neng.”


“Nanti neng juga tau,” jawab pak Diman ringkas.


“Ooo gitu ya pak”


“Iya neng. Sesuai perintah nyonya besar.”


“Iya pak.” Arum ngerti.


Tangan yang masih terasa perih efek habis bius. Baru arum merasa sedikit nyeri di tangannya. Ya Allah. Apa yang sebenarnya sedang engkau siapkan untuk hamba. Di dalam mobil Arum hanya diam. Bertanya juga tidak ada jawaban yang bisa memuaskan hati Arum. Arum hanya mendengarkan lagu mp3 yang di putar di dalam mobil.

__ADS_1


Jam 9 malam. Arum sudah sampai di tempat tujuan. Arum melihat sebuah bangunan yang besar seperti tempat pelatihan dan langsung asramanya. Lokasi tempatnya tidak di tengah kota. Dan di daerah pegunungan. Terasa udara yang sejuk dan tampak ada gunung-gunung yang berdiri kokoh.


“Ayo neng.” Pak Diman mengantarkan Arum ke dalam asrama tersebut. Seorang laki-laki separuh baya, yang memiliki badan tinggi dan besar datang menyambut kedatangan mereka.


“Pak Diman, apa kabar.” Sapa ramah dari pria berbadan besar tersebut.


“Baik mas Dedi.”


“Ini Arum ya,” berbicara mengarah ke Arumi.


“Iya mas Dedi.” Jawab pak Diman.


“Wah cantik sekali.”


“Makasih pak.” Arum menjawab pujian dari Dedi.


“Di sini, saya orang yang paling bertanggung jawab dengan anda. Seperti permintaan nyonya besar anda.” Jelas Dedi.


“Iya pak. Saya ngerti.” Jawab Arumi.


“Saya ambil dulu barang neng Arumi,” kata pak Diman.


“Saya gak ada bawak barang pak Diman.”


“Semua barang yang anda butuh, sudah ada di mobil neng. Sudah di siapkan ibuk.” Jelas pak Diman.


Pak Diman mengambil barang-barang Arumi lengkap dengan boneka teddy bear. Alat make up lengkap dengan tasnya. Arum yang melihat sedikit terkejut. “Apa semua dari ibuk?”

__ADS_1


“Iya neng.” Jawab pak Diman.


Pak diman mengantarkan tas ke dalam kamar Arumi. Terlihat ada seorang cewek cantik yang rambutnya sebatas leher. Rambut lurus dan belah pingir. Kalau di lihat dari gaya rambut, body dan tinggi badan. Cewek tersebut sangat cocok jadi polwan


__ADS_2