
"Cukur rambut yang di dekat luka, agar langsung di jahit," ucap Arum.
"Baik Bu," ucap Rani. Rani mencukur rambut panjang yang lurus tersebut. Rambut wanita itu sudah basah dengan darah yang menetes deras dari kepalanya. Baju kaos berwarna biru yang di pakainya basah dengan darah dan sudah berubah merah.
"Sudah buk, Ini kepala nya seperti di pukul pakai kaca buk. Ada kaca yang masih menempel di rambutnya," ucap perawat tersebut.
"Bersihkan lukanya, Korek hingga bagian kedalam. Pastikan tidak ada kaca yang tertinggal," ucap Arum memerintahkan perawat nya.
"Baik buk," ucap Rani.
"Bagaimana dokter Arumi," ucap dokter Dira yang masuk ke ruang UGD.
"Alhamdulillah dokter Dira datang. Arum gak tahan lihat nya," ucapnya yang menahan rasa mual nya.
"Dokter Arumi duduk saja," ucap dokter Dira yang memandang wajah Arum yang pucat.
Arum hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di kursi yang ada di dalam ruangan UGD tersebut.
"Dokter Dira melihat kepala wanita tersebut. "Kepalanya koyak cukup lebar dan dalam. Kasih suntikkan bius ya sus Rani," ucap dokter Dira saat akan menjahit luka pasien.
"Baik dok," ucap Rani.
"Nama anda siapa?" Tanya Dokter Dira saat akan menjahit bagian kepala wanita itu.
"Yulia, dok," ucap wanita yang begitu sangat sulit berbicara. Kondisinya juga sangat lemah, dan sulit untuk berbicara.
Dira menganggukkan kepalanya. Dokter muda itu mulai menjahit kepala wanita tersebut. Dokter Dira menjahit kepala wanita itu dengan sangat teliti. "Dok tangan saya sakit dok, sakit sekali dok," ucap Yuli merintih menahan rasa sakit.
Arum yang duduk di kursi berdiri dan memegang tangan wanita tersebut. Arum begitu sangat terkejut saat mengetahui tangan wanita itu ternyata patah terkulai di bagian pergelangan tangannya. "Tangan Ibu patah, nanti akan di lakukan rontgen terlebih dahulu,"ucapnya.
"Tangan saya tidak usah dioperasi ya Bu dokter, saya nanti ke dukun patah saja," ucap wanita itu sebelum pingsan.
"Nanti kita lihat kondisinya dulu," ucap Arum.
"Pasiennya pingsan Bu," ucap Rani saat melihat wajah pasien tersebut.
Arum diam saat mendengar ucapan wanita itu. Kondisi wanita itu memang sudah sangat lemah. Wanita yang bernama Yuli tersebut begitu banyak mengeluarkan darah.
"Ini pasien Siapa yang ngantar?" ucap Dira.
"Datang sendiri," jawab Arum.
"Datang sendiri bagaimana dokter Arum?" tanya Dira kembali. Usia Arum dan Dira tidak jauh berbeda sehingga mereka cukup dekat.
"Tadi waktu Arum diantarin sama Mas Habibi, Arum lihat dianya turun dari gojek .Kepalanya udah bercucuran darah jadi langsung Arum bawa ke sini," ucap Arum.
"Saya merinding dengarnya. Dia datang ke sini sendiri dengan kondisi seperti ini? ucap Dira.
"Iya dia datang sendiri," ucap Arum.
__ADS_1
"Kasihan ya, kepalanya sepertinya dipukul pakai kaca. Tadi ada beling-beling di dalam lukanya dok," ucapkan Rani.
"Korban KDRT ya sepertinya," ucap Dira.
"Arum jadi mual lihat darah seperti ini," ucap Arum yang berusaha menutup mulutnya.
Dira telah selesai menjahit luka di bagian kepala wanita tersebut
"Rani tolong diinfus ya, dan pasang oksigen," ucap Dira.
"Iya dok," ucap Rani.
"Ini bagian wajahnya juga hancur banget," ucap Dira saat melihat wajah wanita tersebut.
Arum menganggukkan kepalanya. "Ngeri bangat, bulu kuduk Arum berdiri," ucapnya melihat wajah wanita yang begitu sangat mengerikan dan memperhatikan. Bahkan wajahnya sudah tidak terlihat lagi seperti apa bentuknya. Wajah wanita itu penuh memar dan juga lebam. matanya bengkak dan darah menetes di bagian pelipis matanya.
"Ini juga koyak dokter Arumi," ucap Dira memandang pelipis dekat Mata pasien.
"Lukanya lebar, darahnya juga deras," ucap Arum.
"Apa kita jahit saja dok?" ucap Dira.
"Iya di jahit saja, bibirnya juga," ucap Arum.
"Ini tangannya gimana dok?" ucap Rani.
"Pasien ini gak ada yang mengantarkan ke sini.
"Tadi katanya mau ke dukun patah aja," ucap Dira .
"Iya, ini tangannya nya udah biru," ucap Arum memandang tangan wanita tersebut.
Sudah bengkak juga,Jadi gimana?" tanya Dira.
"Seharusnya cepat dilakukan tindakan operasi takutnya tangannya membusuk. Bila kondisi tangannya sudah membusuk maka wajib amputasi," ucap Arum.
"Kasihan banget. apa kasihan punya identitas," ucap Dira yang menjahit pelipis dekat mata pasien.
"Saya belum sempat periksa dokter Dira," ucap Rani.
"Coba diperiksa bagian tubuhnya. Itu bajunya dibuka aja ganti sama baju pasien," ucap Arum
"Baik Bu," Ucap Rani yang membuka baju wanita tersebut.
Arum diam saat melihat tubuh wanita yang penuh dengan bekas lebam, biru dan luka yang sepertinya kena sayatan dan cambuk atau tali pinggang.
"Punggungnya yang ada bekas setrika," ucap Rani.
Arum memegang dokter Dira. Kakinya terasa amat lemas. Kepalanya juga pusing memandang pasien tersebut yang begitu sangat memprihatinkan. "Ya Allah siapa yang buat kayak gini kejam banget," ucapnya.
__ADS_1
"Dokter arum, nggak usah lihat lagi. Dokter Arum langsung ke ruangan aja," ucap Dira saat merasakan bahwa temannya yang selaku pemilik Rumah Sakit itu terlihat begitu sangat pucat.
Arum menganggukkan kepalanya. "Ini mungkin efek dari hamil," ucapnya.
Dira mengangukan kepalanya. "Iya saya tahu dokter Arumi," ucapnya.
"Tau apa emangnya?
Apa udah pernah coba?" Ucap Arum yang mengejeknya.
"Kalau coba belum pernah, tapi periksa pasien sering. Lagi pula Saya pengen dapat pak Direktur utama seperti Pak Habibi. Saya ngarep punya rumah sakit kayak gini," ucapnya yang tersenyum lebar.
"Yang seperti Pak Habibi itu limited edition," ucap Rani.
Arum hanya tersenyum saat mendengar ucapan kedua pegawainya tersebut.
"Tapi bila ada yang seperti Pak Habibi, saya beneran nggak bakalan nolak dokter Arumi," Rani yang membuat Dira dan arum tertawa.
"Di sini ada pasien yang lagi sekarat, kita Kok malah ketawa ya," ucap Arum saat menyadari bahwa mereka sekarang masih dalam menangani pasien.
"Iya begini bial perempuan sudah pada ngumpul," ucap Dira yang menjahit diatas bibir wanita tersebut.
"Arum beneran nggak sanggup berdiri lagi," ucapnya yang duduk lemas di kursi.
"Apa perlu dipanggil perawat untuk ngambilin kursi roda?" tanyanya.
Arum memukul tangan dokter tersebut. "Jangan buat malu Arum," ucapnya.
"Daripada nanti Pak Habibi tahu istrinya dipaksa jalan dalam kondisi lemas," ucap Dira.
Arum menggelengkan kepalanya.
"Tapi Arum beneran pusing. Arum juga sangat mual," ucapnya yang sejak tadi sudah menahan rasa mual di perutnya.
"Sebentar dokter Arumi saya akan manggil perawat ke sini," ucap Rani.
Arum menganggukkan kepalanya. Saat ini Ia memutuskan untuk memilih beristirahat di ruang rawat pasien yang berada di lantai bawah karena kondisinya memang tidak memungkinkan untuk memaksa naik ke ruangannya.
Arum rasa begitu sangat pusing ruangan, ruangan itu terlihat berputar-putar di pandangannya. Arum memegang sandaran kursinya.
"Dokter Arum," ucap Rani yang dengan cepat memegang tubuhnya saat dia akan terjatuh dari kursi tempat duduknya.
Dira dan juga Rani mengangkatnya ke atas tempat tidur yang berada disebelah tempat tidur yang ditempati oleh Yulia.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
Terimakasih atas dukungannya.
__ADS_1
😊😊🙏🙏