Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 346


__ADS_3

“Dy," panggil Yuli sambil menangis. Yuli merasakan perutnya begitu sakit. Kakinya sudah basah oleh air ketuban yang tidak ada henti-hentinya menetes.


Pada saat itu sudah jam 2 malam.


"Sabar Yul," ucap Dendy yang berusaha memberikannya kekuatan.


"Tapi aku sudah enggak kuat, rasanya sangat sakit sekali." Yuli menggenggam erat tangan pria tersebut ketika dirinya merasa perutnya begitu amat sakit. Keringat bercucuran di pelipis keningnya.


"Kamu harus kuat Yul," ucap Dandy. Bibir pria itu begitu amat pucat dengan wajah yang sudah berkeringat. Bahkan baju kaos yang dipakainya sudah basah oleh keringat ya. Dandy begitu sangat takut dengan kondisi yang saat ini di jalan ini. Dirinya tidak memiliki uang untuk biaya persalinan wanita yang menjadi kekasihnya.


"Dy, kita mau ke mana? Aku sudah gak kuat untuk jalan," rintih Yuli yang menangis. Kakinya terasa amat lemas.


“Kita gak punya uang untuk naik taksi. Angkot gak ada yang lewat di Jam seperti sekarang Yul. Kamu sabar ya. Aku akan gendong kamu." Dendy menawarkan.


Yuli menangis dan menganggukkan kepalanya. Yuli ragu bila Dendy mampu untuk menggendongnya. Mengingat tubuhnya sangat berat. Bobot berat tubuhnya sudah mencapai 63 kg. Namun Yuli sudah tidak mampu lagi untuk berjalan. Kakinya terasa amat lemah.


Dendy berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya, agar wanita yang saat ini digendongnya tidak terjatuh. Pria yang bertubuh kurus itu bersusah tetap berjalan dengan menggendong wanita yang menjadi kekasihnya. Tangannya terasa begitu sangat pegal ketika menggendong Yuli, bahkan kakinya berjalan dengan gemetar. Meskipun tubuh wanita itu terasa begitu amat berat namun dirinya tetap tidak ingin membiarkan Yuli untuk berjalan.


“Yul, itu rumah sakit," ucap Dendy yang memandang rumah sakit yang begitu amat besar tersebut. Setelah cukup jauh ia berjalan kaki. Wajahnya memucat, dengan keringat menetes di pelipis keningnya.


“Dy, kita gak ada uang. Mau bayar pakai apa. Di sana pasti mahal,” ucap Yuli yang sudah menangis sambil memegang lengan pria tersebut.


“Kamu jangan pikirkan masalah itu. Aku akan usahakan untuk mencari uangnya nanti," ucap Dendy yang mengendong Yuli masuk ke dalam areal rumah sakit.


"Tolong, tolong," Dandy mengeraskan suaranya untuk meminta bantuan ketika ia sampai di halaman rumah sakit.


Perawat datang dengan mendorong tempat tidur saat melihatnya menggendong seorang wanita yang akan melahirkan.


Dendi mengikuti perawat yang mendorong tempat tidur yang ditempati Yuli. Pria itu duduk di duduk di kursi tunggu saat yuli masuk ke dalam ruang persalinan. Wajah pria itu terlihat begitu sangat pucat. Pria itu hanya memakai celana pendek dan sandal jepit serta baju kaos. Kakinya gemetar, keringat dingin mulai menetes dikeningnya. Dendy tidak pernah membayangkan akan mengalami semua ini.


“Suami ibu Yulia," ucap perawat yang berdiri di depan pintu.


Pria itu mulai sadar dari lamunannya. Dendy langsung berdiri dan mendekati perawat tersebut. "Saya mbak," ucapnya dengan bibir yang pucat dan gemetar.


Perawat yang berdiri di depan pintu itu memandang pria tersebut. "Istrinya sudah mau melahirkan, apa mau di temani," ucapnya menawarkan.


"Iya, saya akan menemani," ucapnya yang masuk ke dalam ruangan persalinan bersama dengan perawat tersebut.


Dendy merasa kakinya lemas saat berada di dalam ruangan. "Yul, kamu harus kuat," ucapnya yang memegang tangan Yuli.


Yuli mengangukan kepalanya.


Yuli melakukan apa yang di ajarkan dokter Rizky. Berulang kali ia mencoba untuk mengejan Ketika rasa sakit itu datang.

__ADS_1


"Dy, sakit sekali," keluhnya.


"Ayo sayang, kamu pasti kuat," Dandy tidak ada henti-hentinya memberikan semangat untuk Yuli.


"Ayo ibu, sedikit lagi. Ini rambut bayinya sudah terlihat," dokter Rizky memberikan semangat untuk pasiennya.


Yuli mengeluarkan tenaganya yang masih tersisa. Tangis bayi yang terdengar itu menunjukkan keberhasilannya. Akhirnya ia berhasil melahirkan dengan selamat.


Yuli menangis saat mendengar tangisan putranya.


"Selamat pak, anaknya laki-laki, sehat, berat 3,3 kilo,” ucap dokter Rizki yang memberikan anak tersebut kepada ayahnya.


Dengan tangan yang gemetar Dendy memegang anaknya yang menangis dan mencium pipi putranya.


Dendi memandangi Yuli dan meletakkan anaknya di samping ibunya.



Yuli mengusap air matanya ketika mengingat peristiwa itu. Cukup lama Yuli duduk di kursi dan kemudian ia kembali ke dalam kamarnya.


Air matanya tidak ada henti-hentinya menetes saat mengingat masa lalunya. Yuli berpacaran dengan Dendy yang merupakan temannya satu sekolah. Hubungan mereka begitu sangat ditentang oleh kedua pihak keluarganya karena keluarga mereka memiliki selisih paham dan saling bermusuhan. Permasalahan sengketa tanah sawah menjadi penyebab permusuhan kedua keluarga tersebut.


Saat mengetahui Yuli yang pada saat itu hamil, Dendi memutuskan untuk membawa Yuli pergi ke Jakarta. Dendy dan Yuli beralasan ke pada keluarga mereka masing-masing, ingin mencari pekerjaan. Begitu sampai di Jakarta Mereka kemudian mencari kos-kosan yang harga murah. Saat itu Dendi mulai mencari pekerjaan serabutan agar bisa membiayai hidupnya dengan kekasihnya.



***


“Sayang pipi, jagain mami ya," ucap Habibi saat mengantarkan istrinya ke dalam ruangannya.


Arum tersenyum memandang wajah suaminya. “Ya Pipi,” ucapnya.


“Ingat ya sayang, jangan capek,” pesan Habibi.


“Iya Mas, sekarang Arum nggak ada menangani pasien kok, cuma ngecek-ngecek rumah sakit aja, terus mimpin rapat bila ada rapat." Arumi tersenyum.


“Sudah mulai kelihatan hamilnya” ucap Habibi.


Arum tersenyum saat mendengar ucapan suaminya, “yang sekarang beda Mas sama hamil Vira. Waktu hamil Vira, di awal kehamilan Arum morning sickness. Tapi kalau hamil yang ini nggak, makannya enak, terus malah pengennya makan terus. Arum timbang berat badan udah naik 1 kilo,” ucapnya.


"Bagus kalau begitu, soalnya ada 2 di dalam, kalau miminya makannya takut-takut, nanti dianya lapar,” ucap Habibi.


Arum tertawa mendengar ucapan suaminya, “Iya Mas,” jawabnya.

__ADS_1


“Mami udah pesan vitamin seperti yang diminum saat hamil Vira kemarin.” Arum memberi tahu suaminya.


“Vitamin,” ucap Habibi.


Arum menganggukkan kepalanya.


“Hasil eksperimen Mami sukses, jadi Mami lanjut eksperimen untuk si kembar,” ucap Habibi.


Arumi tersenyum mendengar ucapan suaminya.


“Mas ke kantor Ya,” ucap Habibi.


“Mas hati-hati,” jawabnya.


Habibi memandang istrinya. "Pipi cari duit Ya nak,” pria berpamitan kepada calon bayi kembarnya.


"Cari yang banyak ya Pi,” jawab Arumi.


“Iya sayang, miminya sekarang udah mata duitan semenjak hamil,” ucapnya.


Arum tertawa saat mendengar ucapan suaminya, mobil mewah keluaran terbaru yang dimintanya sampai sekarang belum ada dipakainya sendiri, karena dia masih selalu diantar oleh suaminya saat ke rumah sakit.


Habibi memandang wajah istrinya yang begitu sangat cantik. “Si cantik Mas makin lama makin manja,” ucapnya.


"Arum enggak manja Mas, yang manja anak,” ucapnya berkilah.


“Iya, anaknya manja, miminya lebih-lebih. Habibi tersenyum.


“Ingat ya sayang, jangan capek, makannya banyak enggak apa-apa, Mas gak masalah kok,” ucapnya.


“Nanti siap melahirkan Arum langsing lagi,” ucap Arumi. Ia menempelkan punggung tangan suaminya di keningnya, dan mengedipkan sebelah matanya dengan begitu sangat manja.


Habibi memejamkan matanya saat melihat sikap manja istrinya.


“Jangan godain mas di jam segini sayang,” ucapnya.


Arum menolak tubuh Suaminya. “Udah cepat pergi, nanti mas nggak pergi-pergi,” ucapnya.


Habibi tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan ruangan istrinya.


Arumi memandang pintu ruangan yang kembali dibuka. “Sayang nanti pulang dari kantor langsung ya,” pintanya.


Arumi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia tahu apa yang diminta oleh suaminya.

__ADS_1


***


__ADS_2