
Saat Habibi dan Arum memasuki gedung kantornya terdengar suara ribut-ribut di meja resepsionis. Seorang wanita cantik, seksi dengan memakai sepatu high 10 cm, rok pendek sehingga melihatkan paha mulus dan kaki jenjangnya. Memakai baju
kemeja pendek lengan berwarna salam. Kancing baju terbuka 3 buah, sehingga dadanya yang montok nampak mengintip dari kemeja. Habibi yang baru masuk, langsung disambut dengan pelukan dan ciuman dari wanita tersebut. Wanita itu bergelayut dengan manjanya di lengan Habibi.
“Mas bibi, pecat para resepsionis ini. Mereka gak sopan sama aku mas, mereka gak mau nganterin aku keruangan kamu.” Kata wanita itu dengan gaya manja dan mengoda.
Habibi melepaskan tangan wanita itu dari lengannya.
“Siapa kamu, nyuruh saya memecat karyawan saya.” Jawab Habibi dengan tatapan dingin dan sorot mata yang tajam.
“Mas aku mau ngomong sama kamu.”
“Saya sibuk.”
Wanita tersebut tetap mengejar Habibi menuju ke lif, namun langkahnya di hentikan oleh tangan Arumi yang member isyarat bahwa dia di larang untuk mengikuti bosnya.
“Maaf mbak, bos saya tidak ingin berjumpa dengan anda,” dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
“Hai wanita sialan, siapa kamu yang berani-beraninya mengusir saya. Kamu tidak tau siapa saya?” dengan emosi wanita itu berbicara dengan kerasnya.
“Saya asisten pribadi pak Habibi. Saya tidak tau anda siapa. Silahkan anda pergi. Jangan buat keributan di sini.”
__ADS_1
“Sialan,” wanita tersebut mendaratkan tamparan di pipi Arumi. Namun tamparan tersebu dengan cepat ditangkisnya. Tangan yang sebelahnya lagi akan mendarat kan tamparan. Namun juga di tangkis Arumi.
“Kalau anda sayang dengan tangan anda. Tolong jaga tangan anda dengan baik. Silakan pergi atau saya akan panggil securitas.”
Arum melangkah untuk pergi namun wanita itu menarik baju Arum dari belakang, Arum menarik tangan wanita tersebut dan menghempaskannya kelantai. Wanita itu menangis kesakitan disaat tulang belakangnya terhempas ke lantai. Dia menagis dengan histerisnya saat tubuhnya tidak mampu untuk di gerakkan. Dengan cepat Arumi membalikkan tubuh wAnita yang terlentang di lantai tersebut. Di tekannya tulang punggung belakang wanita itu,
“Krek,” suara yang didengar dari tulang punggung wanita tersebut.
“Berdirilah. Kau sudah bisa jalan, tidak ada masalah dengan tulang punggung mu. Tidak ada patah dan juga retak.” Jelas Arum.
Wanita itu mulai berangsur untuk berdiri. “Aku akan melaporkan kau ke polisi.”
“Silahkan. Di dalam ruangan ini. Terdapat banyak CCTV. Di sini juga banyak saksi.” Jawab Arumi.
Setelah wanita itu pergi, Arum mendekati meja resepsionis. Tatapan wajahnya kembali normal, dengan tatapan mata yang lembut.
“Mbak, cewek tadi siapa,” tanya Arum.
“Namanya Lena, Rum. Dia dulu pernah jadi pacar pak Habibi. Dulu dia sering datang ke kantor. Masuk ke ruang pak Habibi. Namun sepertinya sudah putus. Sejak beberapa bulan belakangan ini gak pernah muncul. Dia juga seorang model. Ibuk Anita dan pak Jhoni sangat tidak suka dengan wanita itu. Kami juga paling tidak suka kalau lihat tuh cewek datang. Kalau dia sudah datang, kami habis di maki-makinya. Gayanya sangat sombong saat berjalan melewati meja kami. Beberapa bulan ini, kami sangat bersyukur, dia gak pernah muncul.” Jelas Sani.
“Gitu ya. Ya udah mbak sani, Arum balik ke ruangan dulu ya.”
__ADS_1
“Iya rum, tapi hebat kamu. Mengusir tu perempuan.”
Arum hanya tersenyum sambil meninggalkan meja resepsionis.
“Keren amat si Arum ya San.”
“Iya Mer.”
“Tapi aku kok ngeliat dia seperti bunglon.” Kata Sany.
“Iya, seperti orang yang memiliki 2 kepribadian yang berbeda.” Balas Nia.
Habibi yang duduk di ruangannya tampak tersenyum-senyum melihat CCTV. Gimana aku gak cinta mati sama kamu.
********
Selepas sholat subuh, Arum sudah siap dengan memakai baju casual dan celana kain yang tidak ketat. Dia sudah terlihat sangat cantik menunggu Habibi datang. Hari ini Arum akan pulang ke kampungnya untuk menjemput ibu dan adik-adiknya. Tak lama Habibi datang dengan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Arumi. Arum tidak memberikan kabar kepada ibunya. Dia akan memberikan kejutan.
Habibi masuk ke rumah yang pintunya sudah di buka oleh Arumi.
“Belum sempat pencet bel, dah terbuka.” Kata Habibi.
__ADS_1
Arum tersenyum dengan memperhatikan gigi putihnya yang rata.