Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 343


__ADS_3

"kita pulang ya?" Habibi memandang istrinya.


"Iya, Arum juga baik-baik aja kok, gak perlu di rawat juga sebenarnya," ucap Arumi memandang suaminya.


"Adek, sudah gak mual dan pusing ?" Habibi memandang wajah istrinya yang sudah tidak pucat seperti saat tadi pertama dilihatnya.


"Sudah gak mas, Arum sudah tidak lemas ," jelasnya.


"Sayang pipi, baik-baik ya di sini. Sayang pipi harus sehat-sehat. Jangan buat pipi cemas, sayang." Habibi mencium perut istrinya.


"Kami baik-baik aja pipi," ucap Arumi mencium bibir suaminya sekilas.


"Mas akan panggil dokter Dina sebentar."


Arum menganggukan kepalanya. Arum memandang pintu yang diketuk dari luar.


"Masuk," perintah Habibi.


Dokter Dina membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar pasiennya.


Arumi yang duduk bersandar di kepala tempat tidur pasien tersenyum memandang suaminya. "Baru aja mau dipanggil sudah langsung datang," kecap Arum yang memandang dokter tersebut.


"Sepertinya sudah ada kontak batin dengan si kembar." dokter Dina tersenyum, ia berdiri di samping tempat tidur pasien.


Arumi tersenyum saat mendengar ucapan dokter tersebut," Mbak Arum mau pulang," ucapnya saat Dina memeriksanya.


"Iya boleh," ucap Dina yang memastikan kondisi pasiennya.


"Kondisinya sangat baik dan tidak ada yang perlu di cemaskan. Obat mualnya juga tidak perlu dikasi ya." Dokter Dina yang tersenyum memandang Arumi.


Habibi tersenyum saat mendengar ucapan dokter tersebut. "Alhamdulillah nggak susah cari obatnya," ucapnya mengusap kepala istrinya.


"Untung aja pipinya bos jadi bisa datang kapan aja," ucapkan dokter Dina yang mengusap perut Arumi.


"Namanya udah bawaan Mbak mau diapain." Arumi tersenyum malu.


"Iya enggak apa-apa, Mas bersedia kok jadi obat mualnya." Habibi yang mencium kening istrinya.


"Mas sudah Arum bilang, jangan cium-cium Arum di depan orang," Omelnya yang mencubit pinggang suaminya.


Habibi tersenyum saat melihat wajah istrinya yang memerah.


"Tidak apa, anggap saya tidak ada," ucap Dina yang tersenyum.


"Mas Habibi gak ada malunya," ucap Arum yang memajukan bibirnya.


Habibi hanya tersenyum memandang Istrinya.


"Penyebab morning sicknessnya sudah tahu ya pak Habibi. Jadi saran saya agar dokter Arumi tidak menangani pasien yang dalam kondisi seperti itu," ucap dokter Dina yang tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Adek, gak usah tangani pasien dulu ya," pinta Habibi.


Arum memandang suaminya.


"Hamil anak kembar, lebih berat dari pada hamil satu anak. Saran saya, dokter Arumi harus lebih banyak beristirahat diawal kehamilan seperti saat ini. Tidak menangani pasien sementara waktu ini, sangat bagus," ucap dokter Dina memberi saran.


Habibi mengusap pipi istrinya. "Gak apa ya sayang demi si kembar," bujuknya yang mengusap perut istrinya.


Arum Tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih ya sayang, mas Sayang kalian," ucapnya sambil mencium punggung tangan istrinya.


"Dapatnya susah, jadi wajib dijagain baik-baik," jelas Dina.


"Iya mbak," ucap Arum.


"Moga, gak terjadi lagi yang seperti ini. Kasihan pipinya yang ketakutan," ucap Dina.


"Iya mbak, moga aja." Arumi sedikit tersenyum.


"Saya permisi ya," ucap Dina yang kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut.


***


“Lagi ngapain?" Habibi bertanya kepada istrinya saat melihat isterinya yang duduk di atas tempat tidur sambil tersenyum memandang layar ponselnya.


Habibi tersenyum dan duduk di samping istrinya, pria itu begitu sangat merindukan putrinya. Habibi mengambil ponsel yang di tangan istrinya dan memandang video yang ada di ponsel tersebut. Habibi tidak ada henti-hentinya tertawa saat melihat tingkah lucu putrinya, genit dan juga sangat menggemaskan saat di depan kamera.


"Kita jemput Vira?" Tanya Habibi yang memandang istrinya.


Mata Arum terbuka lebar saat mendengar ucapan suaminya. "Beneran?" ucapnya yang tersenyum lebar.


"Semangat kali ya, kalau di bilang mau jalan-jalan," godanya.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Maunya," ucap Habibi yang mencubit hidung istrinya. Habibi memandang Vidio putrinya yang berada di atas mahkota liberty. "Mas beneran rindu," ucapnya memandang wajah imut putrinya.


"Arum juga rindu Vira, padahal Vira baru pergi beberapa hari tapi rindunya udah pakai banget," ucapnya.


“Tapi Vira sepertinya enak di sana gak ingat kita," ucap pria tersebut.


"Vira lupa sama kita, kalau sudah ketemu Aisah dan Ardi." Arum memajukan bibirnya.


"Iya anak Arumi seperti ini," ucap Habibi.


"Vira, anak kita berdua mas. Kita buatnya sama-sama," ucap Arum.


Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "Mimi sekarang sudah pintar,” ucapnya sambil mencium bibir istrinya.

__ADS_1


"Mas yang ngajarin." Arum berkilah.


"Istri yang pintar cepat menangkap," puji Habibi. Ia kembali memandang video Rangga, pria itu tersenyum memandang wajah anak laki-laki yang tampan tersebut. "Mas rindu sama Rangga,” ucapnya. Ia melihat Rangga yang yang menyapanya dari video itu.


"Arum juga apalagi kalau lihat tingkah Rangga yang terlalu seperti orang besar yang bergaya melindungi Vira bikin Arum gemas." Arumi tersenyum ketika mengingat hal tersebut.


“Kita bawa Rangga tinggal di sini lagi ya?" Tanya Habibi.


Arum menganggukkan kepalanya. “Kalau Rangga di sana terus, kita nggak merasa punya anak sendiri tapi rasa punya anak milik bersama.”


Habibi tersenyum memandang Istrinya. "Mas mau intip si kembar dulu." Pria itu tersenyum.


Arum tersenyum saat mendengar ucapan suaminya. "Mas modus.”


.


Habibi hanya tersenyum tangannya mulai membuka kancing baju yang dipakai oleh istrinya.


***


Imam duduk di meja kerjanya. Di jam tidak sibuk seperti sekarang pikirannya mulai mengingat calon istrinya. Sudah beberapa hari istrinya kembali ke Solo.


Imam mengambil ponselnya dan menghubungi nomor ponsel calon istrinya. Ia begitu sangat merindukan calon istrinya.


Imam tersenyum saat mendengar suara lembut yang menjawab sambungan teleponnya.


"Assalamu’alaikum,” jawab May Sarah.


"Wa’alaikumsalam," jawab Imam.


"Mas lagi apa?" tanya May.


"Lagi rindu Adek," jawabnya jujur.


May tersenyum saat mendengar jawaban calon suaminya. "May rindu," ucapnya.


"Baru aja nggak ketemu udah rindu ya," goda pria itu.


"Mas gak rindu ya?" ucap May.


"Kalau gak rindu, ngapain mas telpon," ucapnya.


"Mas, mau Vidio call gak?" Tanya May.


"Boleh," jawabnya.


"May pakai jilbab dulu," ucapnya yang memutuskan sambungan telepon tersebut.


****

__ADS_1


__ADS_2