Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 81


__ADS_3

Sasa yang menerima telepon terdiam melihat telpon yang sudah terputus. “Bilang makasih dikit dong pak bos, baru di putusin telponnya. Gak mungkin sasa mau ngajarin pak bos. Eh yang ada sasa di pecat. He.....he.....” Sambil ngelus dada.


*****


“Ada apa Bi?” tanya Anita.


“Arum sakit mi,” jawab Habibi.


“Sakit apa?” sela Jhoni dengan ekspresi wajah yang tampak sangat kuatir.


“Katanya demam pi. Tapi udah turun panasnya.”


“Ya udah kamu coba lihat, kalau tampak menghawatirkan, langsung aja ke rumah sakit. Mami di rumah sakit. Gak usah ke kantor.”


“Iya mi.”


“Arum, sama kamu terus. Kenapa kamu gak tau dia sakit?” tanya Anita lagi.


“Semalam wajahnya emang nampak pucat mi. Bibi tanya katanya gak apa-apa. Cuma kurang istirahat.”


“Rumah yang mami suruh kamu selesaikan, apa sudah siap?”


“Belum mi. Masih finishing.”


“Kenapa lama sekali selesainya?”


“Kalau finishing emang lama mi.”


“mami gak mau tau, kamu tambah pekerja dan dalam bulan ini rumah itu sudah selesai.”


“Iya mi.”


“Bawa makanan yang sehat dan buah-buahan untuk Arumi.” Kata Jhoni.


“Iya pi.”


“Kalau ada apa-apa. Kamu hubungi mami dan papi ya.”


“Iya pi. Mi, pi Bibi berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


*******


Suara ketukan pintu dari luar, membangunkan tidur Arum. Mungkin efek obat yang selalu membuat mengantuk. Arum berjalan membuka pintu.


“Mas Bibi.”


“Iya.”


“Masuk mas,” sambil menutup mulutnya yang sedang menguap.


“Kamu kenapa gak ngomong sama mas, kalau kamu sakit.”


“Arum cuman demam biasa mas.” Kata Arumi yang nampak sangat ngantuk.


“Kamu udah minum obat?”

__ADS_1


“Entar lagi nunggu jam 8.”


“Kamu baring aja, mas udah bawakan kamu sarapan.” Kata Habibi sambil menyerahkan bungkusan sarapan kepada Arumi.


“Apa itu mas?”


“Bubur ayam.”


Tiba-tiba Arum ingat Tiar dan Rizaldi yang suka makan bubur ayam.


“Sini mas suapin.”


“Gak usah. Arum suap sendiri aja.”


“Gak usah protes.” Kata Habibi sambil menyodorkan sendok ke mulut Arum.


Arum mulai memakan bubur ayamnya.


“Mas udah sarapan?” tanya Arumi.


“Sudah.”


“Mas kenapa gak ke kantor?”


“Entar lagi.”


Dengan terus memasukkan bubur ayam ke mulut Arum, Habibi melihat termometer digital yang ada di atas tempat tidur Arumi.


“Mana mungkin Arum punya termometer digital, selain harganya yang mahal, biasanya hanya tenaga medis yang mau memakainya.” Batin Habibi.


“Ini punya siapa Rum.” Tanya Habibi Sambil menunjukkan termometer.


“Siapa itu Ardi?” Tiba-tiba Habibi teringat buku Arum, yang diambilnya di dalam loker Arum saat Arum masih mengikuti pelatihan. Ardi tertulis di lembar terakhir.


“Sahabat Arum.”


“Sahabat bagaimana? Kenapa kamu gak pernah cerita. Bukankah di sini kamu gak punya saudara atau kerabat?” tanya Habibi.


“Mas gak pernah tanya. Yang mas tanya cuman saudara atau kerabat.”


Habibi nampak menghirup udara dengan kerasnya dan menghempaskannya. “Sejak kapan kamu teman sama dia? Dia kerja apa? Rumahnya di mana?”


“Iya Arum gak punya saudara di sini, Arum sangat akrab dengan Ardi, kami sudah bersahabat sejak kecil. Dia kuliah, kalau kosnya Arum gak tau.”


“Kuliah di mana?”


“UI kedokteran.”


“Kedokteran UI?”


“Iya,” jawab Arumi dengan wajah tanpa dosa.


“Kenapa kamu gak telpon mas?”


“Waktu itu udah jam 10. Badan Arum menggigil, tapi badan panas. Kepala juga pusing banget. Jadi Arum buka kontak di hp Arum dan yang pertama muncul, nama Ardi. Ya Arum langsung telpon. Gitu Arum telpon dia langsung datang, bawa obat, dan juga nasi. Gitu di ceknya panas Arum 39,8. Makanya, dia tidur di sini dan terus ngompres Arum.”


“Udah gak usah di lanjutkan. Kamu satu kampung dengan dia?”

__ADS_1


“Iya, Arum satu kampung dengan Ardi. Kami teman sejak kecil, dan kami juga selalu satu kelas. Sewaktu kami masih sekolah, kami selalu gantian memegang juara umum. Kami selalu satu sekolah. Kami juga selalu dikirim untuk mengikuti tanding cerdas cermat, perwakilan olimpiade, O2SN, kemudian kami juga atlit bela diri taekwondo. Arum utusan dari cewek dan Ardi dari cowok. Kami selalu dapat mendali emas. Sabuk Ardi sama dengan Arum. Ardi itu sahabat Arum satu-satunya. Dia selalu ada untuk Arum. Dia gak pernah menjauh. Walaupun Arum miskin.”


“Dia punya pacar?”


“Nggak, dia sama seperti Arum. Prinsip kami, pacaran itu setelah menikah.”


“Besok kalau kamu sakit, jangan hubungi Ardi. Tapi hubungi mas.”


“Gak mau.”


“Kenapa kamu gak mau?” tanya Habibi penasaran.


“Mas do’ain Arum sakit.”


“Arumi nanadia. Siapa yang do’ain kamu. Itu kalau Arum....” Habibi tidak melanjutkan kalimatnya.


Arum diam sambil memajukan bibirnya.


“Banyak sekali belanjaan kamu? Untuk stok berapa lama?” kata Habibi mengalih topik pembicaraan sambil melihat stok makanan yang ada di dekat lemari.


“Bukan Arum yang beli. Itu di kasi.”


“Siapa yang ngasi? Gak mungkin RT kan?”


“Tuan Androw.” lagi-lagi Arumi menjawab dengan wajah tanpa dosa.


“Androw.... Androw smit?”


“Iya.”


“Gimana bisa dia ngasi itu sama kamu?”


“Dia datang ke kos Arum.”


“Apa????” tanya Habibi dengan nada yang keras.


“Iya dia datang tiap hari ke kos Arum bawa itu semua.”


“Kenapa kamu gak larang dia datang, dan kenapa kamu terima semua yang dia kasi, kenapa kamu gak ngomong sama mas?” tanya Habibi yang sudah mulai frustasi.


“Mas gak pernah nanya. Lagian Arum bukan anak kecil, yang dikit-dikit ngadu. Arum udah larang. Tapi dia terus aja datang tanpa ngasi tau dan bawa semua itu. Udah Arum bilang gak usah bawa apa-apa. Tapi tetap aja dia bawa banyak makanan dan kebutuhan sehari-hari.”


“Buang.”


“Gak mau,” jawab Arumi. “Gak boleh buang-buang reski. Itu dosa.”


“Kamu kasi sama orang-orang di kos kamu. Nanti mas beli seluruh isi supermarket untuk kamu.”


“Gak usah. Nanti Arum kasi ke teman-teman satu kos. Mas gak usah belikan Arum apa-apa.


Arum gak minta Androw bawa semua itu. Bahkan Arum sudah larang. Tapi setiap kali dia datang, dia terus membawakan semua itu. Jadi gak usah mas ganti.”


Habibi mulai mengusap wajahnya, dia benar-benar gak nyangka kalau ternyata dia punya saingan. Udahlah nasibnya belum tahu dan sekarang dia malah baru tahu kalau dia punya saingan.


 


*****

__ADS_1


reader, buat author jadi galau.


nanti ya kalau Arum nikah, kita pasti di undang. dan siapa pun jodoh nya. kita doain agar Arum bahagia. dan yang gak di terima Arum, moga bisa cepat move on. dan mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik. author juga bingung. cowok-cowok nya baik-baik semua..😃


__ADS_2