
Mira dan Handoko sudah datang. Mereka menginap di rumah Siti. Handoko sudah menyampaikan tentang perjodohan Ardi dan Aisah. Siti menerima perjodohan tersebut. Namun segala sesuatunya ia tetap akan menerima keputusan anak-anaknya. Ardi memilih untuk kembali ke kosnya dan dia sudah berjanji akan datang pagi-pagi.
Siti dan Mira tidak tidur semalaman. Mereka menghabiskan waktunya untuk bercerita sampai pagi. Bagitu banyak yang mereka ceritakan. Rasanya mata mereka tidak ingin terpejam sedikit pun. Setelah Siti meninggalkan kampungnya ini untuk pertama kalinya Siti dan Mira bertemu. Siti bersahabat dengan Mira sejak kecil. Mereka berasal dari kampung yang sama. Mira berasal dari keluarga berada begitu juga Handoko. Bisa di bilang separuh dari kampung tersebut milik keluarga Handoko Wijaya dan juga Mira. Mereka hanya memiliki satu orang putra Ardi Wijaya, tidak seperti Siti yang hidup miskin karena memiliki ayah seorang penjudi. Bahkan harta-harta yang dimiliki kakeknya habis dijual oleh ayahnya, termasuk rumah besar peninggalan kakeknya.
“Kenapa baru ngasi tahu kalau mas Mardi pernah berencana menjodohkan anak-anak kita mir?” Ucap Siti Kepala sahabatnya itu.
“Sebenarnya udah lama kami mau ngasih tahu kamu. Hanya saja belum ada waktu yang tepat. Kami sudah berencana mau memberitahu kan hal ini dengan kamu dalam waktu dekat ini. Namun ternyata Arum lebih dulu di lamar. Aku mau ngasi tahu lewat telepon gak enak. Lagi pula, mas Mardi gak ada menyebutkan nama yang akan di jodohkan. Jadi ya gak apa kalau Aisah kita jodoh kan dengan Ardi.” Mira menyampaikan niatnya dengan penuh semangat.
“Tapi bagaimana dengan Ardi?” Tanya Siti kembali.
Mira tertawa, “Ardi tu anaknya kelihatan cuek banget. Tapi orangnya sangat baik dan penyayang. Dia juga sangat penurut. Untuk dalam waktu beberapa tahun ini, dia pasti memfokuskan dirinya dengan kuliah. Dan nanti di saat dia sudah mampan, Aisah juga sudah dewasa.” Ucap Mira.
Siti tampak tersenyum. “Betul juga kamu. Aku jaga anak gadis aku. Kamu awasi anak bujang kamu.”
“Siiiipppp.” Balas Mira.
Mereka tertawa. “Gak nyangka aku, kalau anak kita jodoh, kita bakalan jadi besan.” Ucap Siti kemudian.
“Ia, aku dah gak sabar nunggu waktu itu tiba.” Balas Mira.
Mereka tak henti-hentinya bercerita, mulai dari masa lalu hingga masa kini sampai dengan menggosip orang. Handoko tidur di kamar tamu. Kalaulah tahu istrinya lebih memilih untuk tidur bersama sahabatnya. Handoko akan memaksa Ardi untuk tetap tinggal di sini dan menemaninya namun karena ia juga sangat lelah membuat ia tertidur dengan lelap.
**********
Jam 4 subuh, kondisi rumah Arum sudah sangat ramai. Tim makeup pengantin sudah datang. Maharani wedding organizer berserta asisten-asistennya sudah siap berperang dengan alat-alat makeup yang dibawanya. Maharani perias pengantin yang sangat digemari dikalangan artis dan juga pejabat serta pengusaha. Rani hanya fokus merias pengantin saja sedangkan untuk pihak keluarga akan di pegang para asistennya.
Rani sudah mulai mengeluarkan alat tempurnya. Arum yang berbaring di atas tempat tidur sudah siap untuk di sulap menjadi princess sehari. Sebelum memulai merias pengantin Rani terlebih dahulu membaca do’a. Rani mulai mengeluarkan alat pisau cukur. Ia mulai mencukur bulu-bulu halus di wajah Arumi, kemudian merapikan alis. Rani tetap mengajak Arum berbicara. Begitu banyak pertanyaan-pertanyan yang diberikan Rani.
Rani mulai merias wajah cantik tersebut dengan sangat profesional dan sampai semuanya sudah terlihat sempurna. Rani Menganti baju Arum dengan kebaya yang berbentuk mengembang yangmemiliki ekor yang panjang. Berwarna silver kombinasi putih. Ia mulai bermain dengan hijab. Ia menutup sempurna bagian rambut tersebut dan menambah selendang putih nan panjang di kepala dan melingkarkan hiasan bunga di bagian kening.
Lebih dari 2 jam. Rani merias wajah Arumi yang membuat gadis itu tampak sangat cantik. Siti masuk ke dalam kamar tersebut. Kamar yang sudah di dekor menjadi kamar pengantin. Semua isi kamar tersebut sudah di ganti dengan yang baru. Siti berdiri di samping meja rias nan besar tersebut. Ia melihat dari pantulan cermin betapa cantiknya anak gadisnya.
“Kamu sangat cantik nak.”
Arum tersenyum melihat keibunya.
“Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri. Kamu harus tahu, bahwa kamu sudah memiliki kewajiban mengurus suami mu serta rumah tangga Arum nanti.” Ucap Siti yang tampak sedih dengan memegang pundak putrinya.
“Iya Bu. Arum tahu.” Jawab gadis tersebut dengan tersenyum.
“Ibu yakin. Kamu bisa menjadi istri yang baik nak.”
“Insyaallah Bu.”
Siti mencium kening putrinya. Mereka keluar dari kamar. Rani memegang ekor kebaya tersebut yang memang terasa cukup berat dan dibantu oleh asistennya. Siti sudah siap dengan wajah yang terlihat 10 tahun lebih muda. Ia mengenakan kebaya berwarna silver. Mira, Handoko dan Ardi sudah bersiap dengan mengenakan baju seragam yang diberikan Siti. Baju batik bercorak biru.
__ADS_1
Ardi melihat Arum yang terlihat sangat cantik. Ia mendekati sahabatnya yang sebentar lagi berganti status.
“Cantik sekali kamu.” Ucap pria tersebut yang membuat senyum manis terukir di wajah gadis tersebut.
“Makasih Di.” Ucapnya.
“Calon istri aku mana? Kenapa belum turun.” Tanya pria tampan yang sudah rapi dengan baju batik birunya.
Arum tertawa. “Yang mau nikah tu aku. Yang rempong tu, calon istri kamu.” Ucap gadis tersebut.
Ardi ketawa. “Di mana dia.” Tanyanya.
“Ada dikamarnya di atas.” Jawab Arum.
Mira melihat putranya yang naik ke atas dan kemudian bertanya. “Mau ke mana.”
Dengan santai nya pria tersebut menjawab. ”Ngintip calon istri.”
“Hai masih di bawah umur itu.” Mira mengingatkan putranya.
Ardi hanya senyum dan kemudian menjawab. “Siapa suruh jodohin sama anak di bawah umur.” Sambil terus naik ke atas. Langkahnya terhenti saat mendengar ribut-ribut dari kamar yang pintunya terbuka. Ardi masuk ke dalam kamar tersebut. Ia melihat isi kamar tersebut, tempat tidur, lemari, meja dan semua barang-barang yang dibelikannya untuk Arum. Ketika Arum baru mulai ngekos.
“Ini kamar Ais?” Tanya pria tersebut.
Ardi tersenyum. Tukang rias tersebut tampak sudah mulai pusing menghapi permintaan gadis kecil tersebut. Ardi duduk di samping gadis kecil itu. Perias tersebut kesulitan untuk membuatkan hijabnya perias seperti rambut Sofia. Perias tersebut, menawarkan agar meniru karakter Elsa. Ardi tampak tersenyum saat gadis kecil itu melihat gambar elsa di layar ponselnya.
“Elsa cantik.” Ucap Ardi.
Aisah melihat Ardi. “Menurut Abang Ardi cantik Elsa atau Sofia.” Sambil memperlihatkan gambar Sofia.
“Elsa.” Jawab Ardi.
“Ya udah deh mbak, Ica mau Elsa aja.” Ucap gadis kecil tersebut.
Gadis yang yang masuk tim perias pengantin tersebut berusia sekitar 20 tahun sibuk membentukkan fasminah tersebut agar terlihat seperti rambut. Tampak tersenyum lega .
“Cepat ya, yang lain udah pada siap.” Ucap Ardi ke pada wanita yang sedang bermain dengan fasminah tersebut. Wanita Tersebut tampak senyum-senyum dan menganggukkan kepalanya.
“Iya mas.” Jawab gadis tersebut.
Ardi melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut.
Aisah memaju kan bibirnya 5 cm. “Mbak, jangan GR dong sama mas Ardi. Mas ardi itu udah punya calon istri.” Ucap gadis kecil tersebut dengan wajah kesal.
“Oh. Iya dek,” dengan wajah yang memerah jawab gadis tersebut.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai. Mereka langsung menuju hotel karena acara akad nikah yang akan dimulai jam 8 pagi. Beberapa pengawal sudah berjejer mengawal mobil Arumi serta rombongan.
*********************
Habibi berdiri di depan cermin besar dikamarnya. Ia sedang memakai jasnya yang berwarna silver. Anita memakai kan dasi putranya. Ini hari pernikahan sang putra.
“Gak terasa kamu sudah akan menikah.” Ucap wanita tersebut dengan wajah yang tampak sedih.
Habibi tampak tersenyum. “Mami sedih?” Tanyanya.
Anita tersenyum.
“Nanti kalau bibi tinggal di rumah sendirian, apa mami gak kesepian.”
Anita tersenyum. “Ya jelas sepilah. Tapi nanti mami sama papi bakal seperti pengantin baru. Lagi pula kamu cepat kasih mami cucu. Biar mami gak kesepian.” Ucap Anita.
Habibi tersenyum. “Insyaallah mi.” Jawabnya.
“Nanti setelah menikah, kamu akan menjadi suami Arumi. Maka kamu yang memiliki kewajiban melindungi istri serta anak-anak kamu. Bukan Arum yang lindungi kamu.” Ucap Anita.
Habibi diam. “Iya mi, Bibi akan melindungi istri serta anak-anak Bibi mi.” Ucap nya.
“Mami gak pernah nyangka, gadis yang selalu nyelamatin nyawa kamu dan melindungi papi kamu saat dalam bahaya akan menjadi istri kamu. Dia bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa kamu.” Ucap Anita sambil mengusap wajah putranya yang tampak sangat gagah.
Jhoni berdiri di pintu mendengar kan percakapan antara istri dan juga anaknya. Kemudian ia masuk kedalam kamar tersebut. Melingkarkan tanganya di bahu istrinya.
“Jadi suami harus banyak ngalah sama istri. Apa lagi Arum masih sangat muda. Kamu harus banyak membimbingnya. “Ucap Jhoni yang memandang wajah putranya.
Habibi menganggukkan kepalanya.
“Jhoni melihat jam ditangannya. Kita berangkat.” Ucapnya kepada Habibi.
Anita yang sudah tampak cantik dengan kebaya silver yang dipakainya. Tubuhnya yang tinggi langsing tampak sempurna dengan kebaya tersebut. Jhoni tampak sangat gagah dengan jas berwarna hitam dan di kombinasikan warna silver. Mereka berangkat ke hotel dengan rombongan yang sudah menunggu. Mereka masuk ke dalam mobil yang sudah di hias pita, bunga serta boneka pengantin.
************
*********
jangan lupa like dan komentar nya ya reader
😃😃😃😃
__ADS_1