Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 139


__ADS_3

“Aby,” gadis tersebut menyalami tangan sang ayah.


“Ara pulang sama siapa?” Tanya amin kepada putrinya sambil memandang Androw.


“Ini by, teman Arum namanya Androw. Arum karena buru-buru minta temannya untuk antar Ara pulang.”


“Apa dia pandai bahasa Indonesia?”


“Gak by.”


Amin memandang ke arah pria tinggi nan tampan tersebut. Pria bule tersebut tampak selalu tersenyum dengan rahmahnya dengan menundukkan kepalanya.


“Aby ke mesjid dulu ya. Ajak tamu kamu masuk buatkan minum pangil umi.”


“Dia gak tamu Ara by.”


“Gak boleh begitu. Dia udah mau antar kamu pulang dan tidak menurunkan kamu di pinggir jalan. Itu tandanya, dia baik dan sopan. Walaupun kamu baru berjumpa dengannya tapi dia sudah datang ke rumah kita. Itu artinya dia sudah menjadi tamu kita.”


“Iya By, Ara tahu.”


“Nak, bapak mau ke mesjid dulu ya sholat. Masuk aja ke dalam, ada umi,” dengan memberikan gerakan tangan.


Androw tetap senyum walaupun gak tahu apa artinya. Ara mengartikan apa yang diucapkan ayahnya. Androw menjawab terima kasih. Androw masuk ke dalam rumah yang terlihat sederhana tersebut. Rumah yang terasa amat nyaman dan bersih. Ia duduk di sofa.


Naura masuk ke dalam dan memanggil ibunya. Linda keluar dari kamar, ia Seperti sedang berhalusinasi melihat orang barat ada di rumahnya. Pria yang tampak sangat tampan. Linda duduk di sofa yang ada di depan Androw. Naura datang dengan membawa napan ditangannya dan meletakkan teh hangat tersebut ke atas meja.


Linda bertanya kepada Androw tampa ada putus-putusnya. Ara dengan sabar mengartikan setiap kalimat yang keluar dari mulut sang ibu. Androw baru tahu. Ternyata Aby nya naura seorang guru agama di SMA negeri sedangkan umi nya seorang guru tafis dan hadits di MTS swasta.


Androw tidak ingin meninggalkan rumah itu. Ia merasa begitu sangat nyaman berada di rumah tersebut. Mendengar Linda yg bertanya tanpa Jedah membuat sang putri tampak kesulitan menguraikan pertanya dari sang ibu. Setelah Amin kembali dari mesjid ia ikut bergabung dengan istri dan putrinya.


Amin memilih sholat Maghrib berjamaah bersama istri dan anaknya. Androw yang duduk di ruang keluarga memperhatikan amin menjadi imam saat shalat. Ia mendengar amin membaca ayat-ayat satu persatu. Selesai sholat, mereka melakukan zikir.


Setelah selesai sholat, Linda menawari Androw untuk makan malam di rumahnya namun pria tersebut menolaknya. Ia mengajak Amin serta keluarganya untuk makan di restoran. Ia mengatakan bahwa ia sangat senang mendapatkan keluarga di Indonesia.


Amin menerima baik tawaran yang di berikan Androw. Setelah Menganti baju dan bersiap-siap mereka makan disalah satu restoran mewah. Mereka melakukan mengobrol ringan. Setelah makan Androw mengantar Amin dan keluarganya pulang.


Mereka duduk di kursi sofa ruang tamu.


“Umi, apa boleh besok pagi saya menjemput Ara ke kampus.” Androw meminta izin kepada Linda


Ara mengatakan apa yang di sampaikan Androw dengan menggelengkan kepalanya. Linda tampak tersenyum.


“Umi tersera Ara aja.” Jawab Linda.


“Tapi maaf nak Androw. Sebaiknya nak Androw jangan terlalu dekat dengan Ara. Kita memiliki perbedaan keyakinan nak.” Ucap amin.


Ara menyampaikan apa yang disampaikan oleh abi nya tanpa ada yang di kurang atau di lebihkannya.

__ADS_1


Mendengar apa yang di sampaikan amin Androw diam. “Apakah saya boleh belajar agama Islam? Dan apa Aby bisa membantu untuk mengislamkan saya.” Pertanyaan yang dikeluarkan Androw membuat Ara mengangkat kepalanya dan menatap wajah Androw.


Saat melihat Ara memandangnya dan menatap matanya dada Androw berdetak sangat kencang bagaikan genderang mau perang. Ia baru bisa melihat dengan jelas wajah cantik gadis tersebut. Hidung mancung seperti orang Arab, mata besar dan bulat, bibir kecil dan pipi yang chubby. Terlihat sangat imut. Androw menelan air liurnya dengan sangat kasar. Wanita cantik bukanlah hal baru baginya bahkan melihat wanita cantik tanpa sehelai benang pun baginya sudah biasa, namun setelah ia mengenal Arum, ia tidak pernah lagi tertarik kepada wanita bahkan saat wanita itu telanjang di depan matanya. Namun kali ini, hanya gadis tersebut mengangkat kepalanya dan menatap matanya bisa membuat jantungnya berdetak dengan hebatnya.


“Apa karena Arumi?” Tanya Naura dan kemudian, gadis tersebut kembali menunduk kan wajah nya.


“Ada benarnya, namun tidak semuanya. Aku tertarik dengan Islam saat mengenal Arumi. Aku berusaha setiap hari datang ke kosannya walaupun setiap kali aku datang, ia selalu mengomeli aku. Aku datang jam 6 sore dan pulang jam 9 kurang 15 menit. Begitu setiap hari. Aku hanya ingin melihat ia bersimpuh didepan penciptanya dan mendengarkan ia mengaji. Hati ini terasa sangat tenang. Begitu banyak yang diberi tahu Arumi tentang banyak hal. Mengapa jiwa tidak tenang walaupun uang banyak dan mengatakan perbuatan ku selama ini adalah berbuat yang hina. Dan masih banyak lagi. Aku sangat betah di Indonesia setelah mengenal Arumi. Namun karena mall milik ku ada di 33 negara di dunia. Membuat aku harus releh meninggalkan Indonesia. Saat aku pergi ke berbagai negara aku mempelajari Islam dan sedikit demi sedikit aku mulai paham.” Jelas Androw.


Mendengar penjelasan Androw, Naura kembali memandangnya dan kemudian kembali menundukkan kepalanya. Ia mulai menyampaikan semua yang diungkapkan Androw rona bahagia terlihat di wajah Amin.


“Bisa. Aby akan membimbingnya untuk menjadi mualaf yang taat.” Ucap amin.


*******


“Mbak Sasa, pak Habibi ada?”


“Lagi miting buk bos.”


“Ih mbak Sasa, Arum merasa canggung dengan kalimat yang disampaikan Sasa.”


“Mbak gak berani lagi ngomong seperti biasa. Takut di PHK si bos. Kamu tunggu aja di dalam. Tapi kalau mau ngobrol sama mbak boleh.”


“Arum nunggu di dalam aja deh mbak. Soalnya Arum capek, baru pulang dari kampus.”


“Calon pengantin gak boleh capek-capek dan gak boleh lasak-lasak.”


“Mbak apaan sih?”


“Mbak, masih lama gak?”


“Mitingnya udah dua jam yang lalu dan mungkin bentar lagi selesai.”


“Ya udah, Arum masuk dulu.”


Arum duduk di sofa sambil membuka-buka Instagram miliknya. Namun ia mulai jenuh. Ia mencari film Korea di youtube. Sudah berulang-ulang kali ia menguap dan akhirnya ia tertidur dengan ponsel berada di atas perutnya dan kakinya menyentuh lantai.


Habibi masuk ke dalam ruangan. Sebelum masuk, Sasa memberi tahunya bahwa Arumi ada di dalam. Ia langsung masuk kedalam karena memang udah sangat merindukan gadis tersebut. Saat ia masuk, dilihatnya gadis tersebut tertidur di sofa dengan layar ponsel yang masih menyala dengan posisi duduk.


Dibukanya pintu ruangan istirahatnya. Kemudian digendongnya tubuh gadis tersebut dengan sangat hati-hati. Gadis itu melingkarkan tangannya dileher calon suaminya. Habibi melihat wajah gadis tersebut. Gadis tersebut tampak tidur dengan nyenyak. Ia meletakkan tubuh gadis tersebut dengan sangat pelan-pelan. Dilihatnya wajah calon istrinya yang sedang terlelap di usabnya kepala gadis tersebut. Diciumnya kening calon istrinya tersebut dan juga bibir mungil nan merah tersebut dengan sangat lembut agar gadisnya tidak bangun.


Habibi mengambil wudhu untuk melakukan sholat Zuhurnya yang belum terlaksana.


Habibi mengangkat gagang teleponnya menghubungi Sasa saat ia sudah duduk di meja kerjanya. Tidak lama Sasa mengangkat telpon tersebut.


“Hallo pak.”


“Sa , tolong buatkan saya kopi dan panggilkan akbar, Rasid dan juga Fajri ke ruang saya.”

__ADS_1


“Baik pak.”


Sasa menghubungi Akbar, Fajri dan juga Rasid. Memberi tahukan bahwa mereka ditunggu di ruang Habibi.


“Sa.”


“Iya mas Akbar,” jawab Sasa.


“Mas titip kopi sekalian ya.”


“Oke mas.”


Sasa meletakkan gagang telepon tersebut. “Tumben, biasanya Arumi.”


Sasa kembali dengan membawa beberapa gelas kopi dan meletakkan nya di atas meja yang ada di sofa.


“Sa, cemilan ada gak?” Tanya Akbar.


“Dibeli dulu mas Akbar,” jawab gadis tersebut.


Sepertinya mereka akan lembur sampai malam.


“Pesan ya Sa roti untuk cemilan.” Pinta Habibi.


“Baik pak.”


Tampak mereka mulai bekerja. Pertemuan dengan Androw lusa besok. Mereka harus sudah membuat proposal yang di minta Androw, rancangan bangunan dan juga angaran yang akan di keluarkan. Akbar masih sibuk dengan layar leptopnya begitu juga dengan Fajri.


********


“Saya sholat Maghrib dulu.” Kata Habibi saat azan Maghrib mulai berkumandang. “Kita sambung besok.”


“Baik pak.” Mereka sudah bersiap-siap menyiapkan barang-barangnya dan kembali ke ruang masing-masing.


Habibi membuka pintu kamar istirahat. Ia masih mihat gadisnya tidur dengan sangat nyenyak. Ia mulai membangunkan gadis tersebut. Berlahan-lahan mata Arumi Mulai terbuka. Ia melihat Habibi ada didepannya dan memperhatikan di sekitarnya.


“Loh Arum kok di sini mas?”


“Kamu yang masuk sendiri ke sini. Sepertinya adek kecapean dan cari tempat tidur yang empuk.”


“Masak sih mas?”


“Iya sayang. Sholat yuk dek dah magrib.”


“Apa mas, sudah Maghrib?” Dengan ekspresi terkejutnya.


“Ia,” jawab Habibi sambil mencubit hidung mungil tersebut.

__ADS_1


***********


author selalu nungguin nih like komen dan vole nya. komentar yang manis-manis buat author terbang melayang


__ADS_2