
Arum Sampai di bandara bersama dengan keluarganya. Begitu sampai di bandara Arum dan Habibi langsung berpisah dengan keluarganya nya dan menuju ke rumah sakit miliknya. Arum sudah mendengar bahwa Rangga sudah kembali Sejak pagi tadi dari Bandung. Ia sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Rangga.
Mobil yang menjemputnya langsung menuju ke rumah sakit. Arum turun dari mobil, ketika mobil nya berhenti di areal parkir rumah sakit miliknya. Arum sedikit berlari, namun ia merasa tangannya di pegang suaminya. Arum memandang suaminya.
Habibi menggelengkan kepalanya. "Jangan lari, jalannya pelan-pelan," ucapnya. Yang menggendong putrinya.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya mas," jawabnya.
Pria itu mengendong putrinya yang sedang tertidur dan tangannya yang satu lagi melingkar di pinggang istrinya. Mereka berjalan menuju ke kamar Rangga. Begitu banyak yang menyapanya Ia hanya tersenyum saja. Ia sampai di rumah sakit miliknya sudah jam 6 sore. Di jam seperti ini, Rangga sudah berada di dalam kamarnya dan tidak akan keluar lagi dari dalam kamar terkecuali untuk salat berjamaah di mushola yang berada di rumah sakit tersebut. Perawat laki-laki akan datang menjemputnya dan membawanya ke mushola.
Arum membuka pintu kamar tersebut dan melihat anak laki-laki itu sedang duduk diatas tempat tidur sambil menonton TV.
"Dokter Arumi," ucap Rangga saat melihat Arum.
"Rangga," ucap Arum yang sedikit berlari agar Ia bisa secepatnya memeluk Rangga. Arum kemudian mengembangkan tangannya ketika ia sudah berada di tepi tempat tidur Rangga.
Rangga langsung berhambur di pelukannya. Arum mendengar suara tangis anak itu yang ditahannya, punggungnya turun naik menahan Isak tangisnya. " Rangga jangan sedih, dokter Arumi nya sudah ada pulang," ucapnya yang menahan air matanya yang akan menetes.
Namun Rangga masih tetap memeluknya begitu sangat erat. Arum tidak bisa membohongi dirinya, bawah ia begitu sangat merindukan Rangga. Begitu juga dengan Rangga yang tidak mampu untuk menutupi bahwa ia begitu merindukan wanita yang saat ini sedang di pelukannya. Ia tidak mampu untuk menyembunyikan rasa rindu nya.
Arum memeluknya, ia sudah tidak mampu menahan air matanya. Pada akhirnya air matanya ia membiarkan air matanya menetes begitu saja.
Cukup lama Rangga memeluknya, Rangga kemudian melepaskan pelukannya setelah Isak tangisnya mereda. "Aku merindukanmu dokter Arumi," kalimat pertama yang lolos dari bibirnya yang runcing dan panjang tersebut.
"Maafin dokter Arum ya Rangga. Kemarin rencananya hanya sebentar, namun ternya dokter Arum sibuk di sana dan tidak bisa pulang cepat sebelum acaranya selesai," ucapnya yang mengusap pipi anak laki-laki tersebut. Pipi Anak itu sudah basah oleh air mata. Ini untuk yang pertama kalinya Arum pergi lama meninggalkannya. Biasanya Arum akan selalu membawa Rangga bila ia pergi lebih dari 3 hari.
Rangga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Rangga melihat Habibi yang berdiri di samping Arum sambil menggendong putrinya yang sedang tertidur. "Pak Habibi," ucapnya.
Habibi tersenyum memandangnya, tangan sebelah di kembangkannya.
Rangga memeluknya dan menangis di pelukan pria bertubuh tinggi tersebut. Habibi memeluknya sangat erat.
Arum memandang Rangga dan memeluk suaminya.
__ADS_1
"Saya sangat merindukan pak habibi," ucapnya.
Habibi tersenyuman memendang nya. "Saya juga sangat merindukan kamu. Saya membawakan kamu banyak oleh-oleh ," ucap Habibie yang membujuk Rangga.
Rangga menghapus air matanya dan kemudian mengangkat kepalanya. "Apakah Savira kelelahan?" tanyanya ketika ia melihat Vira yang tertidur.
Habibi menganggukkan kepalanya. "Di sana Vira terlalu banyak main sehingga kurang istirahat," jawabnya.
Rangga tersenyum dan mengusap kepala Vira. Ia tidak pernah menganggap Vira itu kakaknya. Ia selalu mengatakan bahwa ia yang lebih besar dari Vira.
"Ayo, Rangga siapkan baju-bajunya," ucap Arum yang mengusap kepala kecil anak tersebut yang masih berdiri di atas tempat tidurnya.
"Kita mau kemana dokter Arumi?" tanya Rangga.
"Rangga mau ke rumah dokter Arumi gak?" tanya Arum.
Rangga begitu sangat senang, senyum lebar mengembang di bibirnya yang kecilnya. Ia mengangukan kepalanya. "Aku akan menyiapkan barang-barangku," ucapnya yang langsung melompat dari atas tempat tidur. Anak itu mengambil baju-bajunya ada di dalam lemari tanpa memilihnya terlebih dahulu. Ia mengambil celana, singlet serta ****** ******** dan memasukkannya ke dalam tas ransel miliknya. Arum dan Habibi hanya tersenyum saat melihat tingkah lucu anak laki-laki tersebut. Rangga memasukkan baju coco serta perlengkapan salatnya.
Arum memegang tangan Rangga dan berjalan keluar dari dalam kamarnya.
Habibi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ini ada Rangga," ucapnya.
Vira memandang ke bawah dan melihat Rangga yang memegang tangan mininya
"Vira Kamu sudah bangun?" tanya Rangga.
Vira tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Pipi, Vira mau turun," ucapnya.
Habibi membungkukkan tubuhnya dan menurunkan putrinya.
Rangga kemudian memeluk tubuh kecil Vira dan menangis. Ia memang memiliki tubuh lebih tinggi dan juga besar dari Vira. Bila orang melihatnya, maka orang akan beranggapan bahwa usianya sudah 7 tahun. Pertemuan kedua anak itu seperti pertemuan kedua orang bersaudara yang sudah lama tidak berjumpa.
"Rangga Jangan sedih Vila sudah pulang," ucapnya yang mengusap air matanya.
__ADS_1
Rangga menganggukan kepalanya. Ia kembali memeluk Vira. "Aku selalu mencemaskanmu Savira," ucap nya.
Vira tersenyum saat memandangnya. "Vira baik-baik saja. Vira yang harusnya mencemaskan Rangga," ucapnya.
"Savira, tidak perlu mencemaskan aku. Savira tau sendiri, kalau kau ini Anak laki-laki. Aku bisa menjaga diriku sendiri," ucapnya layaknya seorang pria dewasa.
Vira tersenyuman dan menganggukan kepalanya. "Iya Vira tua, ayo kita pulang," ucapnya yang memegang tangan Rangga.
Habibi dan Arum hanya tersenyum memandang kedua anak tersebut.
"Dokter Arumi," ucap karyawannya yang langsung mendekatinya saat melihat dia sudah kembali.
Arum tersenyum memandang karyawannya tersebut. "Oleh-olehnya besok ya," ucapnya.
"Bawa banyak nggak dokter Arum?" ucap perawat yang bertubuh tinggi tersebut.
"Insyaallah semuanya kebagian," ucapnya.
"Rangga sudah senang jumpa dokter arumi. Kemarin Rangga kehilangan gairah hidup dokter Arumi. Rangga gak ada ceritanya. Bahkan melamun terus," ucap perawat itu mengadu.
Arum tersenyum dan mengusap kepalanya.
"Itu tidak benar Dokter Arumi," ucapnya.
"Selama dokter arumi tidak ada di sini, gaya sombongnya yang sangat biasanya hilang," ucap perawat cantik tersebut.
"Sus Rini," ucap Rangga .
Arum dan Habibi tertawa saat mendengar laporan perawat cantik tersebut. Rangga hanya dian dengan pipi yang gembung dan bibir yang maju.
" Baiklah kami permisi," Ucap Habibi yang kemudian meninggalkan Rumah sakit tersebut.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏