Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 342


__ADS_3

"Saya tidak punya keluarga." Yulia yang meneteskan air matanya.


Dira diam saat mendengar ucapan pasiennya tersebut. "Kami sangat membutuhkan keluarga penanggung jawab," ucapnya.


"Saya mohon dok selamatkan saya. Saya tidak ingin tangan saya dipotong." Yulia berusaha mengeraskan suaranya yang terdengar amat lemah. Mulutnya yang bengkak dan dijahit, membuat Yulia semakin sulit untuk berbicara.


"Saya tidak bisa memutuskannya. Karena Rumah Sakit memiliki peraturan," jelas Dira.


Yulia menangis dan memegang tangan dokter muda tersebut dengan sebelah tangannya. "Saya mohon."


"Bila tidak ada yang menjadi penanggung jawab dan menandatangani surat persetujuan operasi, bagaimana kami melakukan operasi?" Dokter Dira berkata dengan memandang wajah wanita yang begitu sangat menyediakan itu.


"Saya akan tandatangani sendiri dok," ucap Yulia.


Dira diam memandang pasien yang begitu sangat memprihatinkan tersebut.


“Perawat akan datang ke sini untuk meminta biodata anda," ucapnya yang membutuhkan biodata pasien.


Yulia menganggukkan kepalanya.


"Penganiayaan yang anda alami, akan kami laporkan ke pihak berwajib," ucap Dira.


Yulia menggelengkan kepalanya. "Jangan dok, saya mohon. Masalah ini akan saya selesaikan secara baik-baik," jelasnya.


Dira diam memandang pasien tersebut. Saat ini Dira tidak bisa memaksa pasiennya. Mengingat dia belum tahu identitas pasien dan siapa pelakunya. "Baiklah saya permisi," ucap dokter Dira meninggalkan kamar rawat tersebut.


Yulia hanya bisa berbaring dengan posisi miring di atas tempat tidur. Punggungnya yang di tempelkan seterika panas terasa amat pedih dan sakit. Yulia hanya menatap dokter muda nan cantik itu pergi meninggalkannya. Air matanya menetes saat merasakan tubuhnya yang terasa sakit dan juga pedih.


Kepalanya berdenyut-denyut saat reaksi obat bius itu sudah mulai hilang.


Yulia mencoba memejamkan matanya saat rasa sakit dan pedih di tubuhnya terasa berdenyut-denyut dan amat pedih.


****


Dokter Dira berjalan ke kamar rawat Arumi. Setelah berbicara dengan pasien tersebut, dirinya tidak bisa memutuskan sendiri. Ia berharap kondisi temannya sudah membaik dan tidak lagi mual bila mendengar ceritanya.


Dokter Dira mengetuk pintu kamar tersebut dan membukanya saat mendengar suara yang menyuruhnya untuk masuk. "Assalamu’alaikum," sapa Dokter Dira yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Habibi dan Arum.


"Maaf mengganggu," ucap Dira yang merasa tidak enak hati.


Habibi sedikit menganggukkan kepalanya. "Iya tidak apa-apa," ucapnya.


"Sayang, mas telpon Rasid sebenar ya. Habibi mengusap kepala istrinya.


Arum menganggukan kepalanya.


Habibi mencium kening istrinya. "Mas bentar aja," pamitnya.


"Iya," jawab Arum yang tersenyum memandang suaminya.


"Mesra kodrat ya. Ada aku di sini tapi gak di hiraukan," ucap Dira saat suami temannya sudah keluar dari dalam kamar.


Arum hanya tersenyum mendengar ucapan temannya. "Makanya cepat nikah," ucapnya.


"Cariin dong." Dira bercanda.


"Mau yang seperti apa? Tulis aja list nya nanti Arum Carikan," ucap Arum.


Arum tertawa saat mendengar ucapan temannya itu. "Dokter di sini cakep-cakep tapi di cuekin." Arumi memandang sahabatnya tersebut.


"Bukannya dicuekin, mereka belum bisa memenangkan hati aku," ucap Dira dengan gaya sok cantiknya.


"Buat rincian yang komplit dong, biar mereka bisa tahu event yang akan diikuti mereka," usul Arumi.


Dira hanya tertawa saat mendengar usulan dari temannya. "Aku udah ketinggalan jauh ini. Aisah aja sudah nikah. udah sampai ke Amerika lagi," ucapnya yang meggaruk rambutnya.


"Aisah dan Ardi itu, mereka sudah tahu akan berjodoh. Karena sudah ada ikatan perjodohan sebelumnya. Agar tidak terjadi hal-hal di luar keinginan maka kami pihak keluarga memilih untuk cepat saja menikahkan mereka." Arum menjelaskan.


"Apapun alasannya, Aisah sudah lebih dulu nikah dari aku," ucapnya dengan nada yang memprihatinkan.


Arum hanya tertawa saat mendengar ucapan temannya itu.


"Ya ampun aku jadi lupa, tujuan utama aku datang ke sini," ucap Dira yang mengingat tujuan utamanya saat sudah bercerita dengan temannya.

__ADS_1


"Ada apa?" ucap Arum.


"Gimana ceritanya bisa gak mual lagi?" ucap Dira.


Arum tersenyum saat mendengar pertanyaan temannya. "Mual dan pusingnya hilang kalau Arum cium bau parfum mas Habibi," Arumi tersenyum malu.


.


"Enaknya kalau hamil seperti itu," ucap Dira.


"Ada apa, cerita aja," ucap Arum.


"Kalau Arum mual kasih tahu ya, aku bakal berhenti cerita." Dira begitu sangat ragu untuk menyampaikan apa yang ingin di ucapkannya.


Arum yang duduk bersandar di kepala tempat tidur mengangukkan kepalanya. "Bagaimana kondisi pasien pagi tadi," tanya Arum yang mengetahui bahwa temannya itu takut menyinggung hal tersebut.


"Pasien yang bernama Yulia itu sudah sadar. Untuk luka bakar yang di punggungnya dalam proses pengobatan. Antibiotik, serta obat terbakarnya sudah diberi yang berkualitas baik. Bersyukur luka bakar itu tidak sampai jejaring kulit bagian dalam. Untuk luka-luka yang ada di bagian tubuhnya juga sudah di obati,” ujar Dira menjelaskan.


Arum menganggukan kepalanya. "Bagaimana dengan tangannya?" Tanya Arum.


"Tangannya yang belum kita tangani," ucap Dira.


"Kenapa?" tanya Arum.


"Pasien tidak memiliki penanggung jawab untuk tindakan operasi. Tangannya sudah di lakukan pemeriksaan oleh dokter Andi. Kondisi tangannya sudah sangat parah dan harus mendapatkan penanganan secara cepat. Bila tidak maka akan di amputasi," jelas Dira.


"Yang menandatangani surat pernyataannya siapa?" Tanya Arumi.


"Dia sendiri dok," ucapnya.


"Lakukan saja operasinya bila kondisinya seperti itu," perintah Arumi.


"Baik dok," jawab Dira.


"Saya permisi dulu dok, saya tidak tahan lama berada di sini," ucapnya saat melihat Habibi yang masuk ke dalam kamar rawat istrinya.


Arum tertawa dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


****


__ADS_2