
Pagi ini Arumi sudah berada di perumahan elit milik keluarga Habibi. Rumah yg memiliki ukuran 5 kali lipat lebih besar dari pada rumah yang lain. Pagi ini Arumi mulai pekerjaannya, yang menjadi tujuan utamanya adalah keselamatan bos nya. Arumi tidak boleh lengah sedikit pun. Segala sesuatu harus benar-benar di awasi. Arumi datang dengan membawa seorang teknisi mobil yang sudah sangat profesional. Teknisi tersebut mengecek seluruh kondisi mobil, baik itu mesin, rem, dan juga ban mobil.
Arumi meletakkan cctv di bagian sepion mobil, belakang dan depan mobil. Seluruh bagian bagian mobil di cek dengan sangat teliti, baik di dalam dan di luar mobil. Dan memang benar, ternyata sudah ada yang menyelipkan chip kecil pelacak. GPS kecil tersebut di tempelkan di bagian pintu pengemudi, agar tampak tak di curigai.
“Sudah selesai nona. Kondisi mobil sudah sangat baik.” Kata teknisi tersebut.
“Terimakasih pak.” Arumi memberikan amplop yang berisi uang kepada teknisi tersebut.
“Sama-sama non.”
Anita dan Jhoni yang duduk di teras rumah sejak tadi mengawasi dan memperhatikan Arumi bekerja. Mereka tidak ada meminta Arumi harus sewaspada ini. Namun apa yang di lakukan Arumi memang bagian dari pekerjaan nya. Arumi melangkah mendekati Jhoni dan Anita.
Apa sudah selesai?” Anita mulai bertanya.
“Sudah buk. Ini alat pelacak yang di selipkan di mobil pak Habibi. Apa ini ibuk yang meletakkannya?” tanya Arumi sambil menyerahkan sebuah chip.
Anita dan Jhoni tampak sangat terkejut. “Kami tidak pernah meletakkan alat pelacak di mobil habibi,” balas Anita.
Arumi tampak mulai berfikir. Pengawasan terhadap pak Habibi harus lebih di tingkatkan. Ternyata sudah ada yang berencana untuk mencelakai keberadaan beliau. Untuk saat ini saya belum bisa mengetahui orang yang berencana melakukan hal tersebut. Arumi menjelaskan dengan penuh penekanan. Anita dan Jhoni tampak terdiam saat mereka benar-benar baru menyadari bahwa betapa terancamnya putra mereka.
“Arum juga sudah meletakkan alat pelacak di mobil pak Habibi.” Kata Arumi.
“Masuk yuk, kita sarapan dulu.” Anita mengandeng tangan Arumi.
“Gak usah buk. Arum sudah sarapan.”
“Ya udah sekarang sarapan lagi.” Anita tetap memegang tangan Arumi. Anita dan Jhoni memang sudah terlihat sangat rapi.
Arumi memperhatikan rumah tersebut, rumah yang sangat mewah dan besar. Ruang tamu yang terlihat sangat luas di padu dengan warna putih dan hitam namun tetap ada nuansa kelasik di dalam interiornya. Tangga yang di desain mengunakan kayu yg terlihat sangat khusus dengan warna coklat khas, dinding yang bernuansa putih hitam dan di kombinasikan dengan bagian yang bernuansa kayu di bagian beberapa sudut. Lemari hias yang besar dengan berbagai pernak pernik keramik yang terlihat sangat mahal, di tambah guci-guci raksasa yang berada di setiap sudut. Sofa besar putih yang sangat besar dan lembut dan terlihat kaca besar yg berada di bagian paling sudut yang memperlihatkan taman mini, kolam ikan koi dan suara seperti air terjun yang menyejukkan hati.
__ADS_1
Belum puas mata Arum memperhatikan arsitektur dari rumah mewah ini, Arum di bawa ke ruang makan keluarga. Ruangan makan yg tampak sangat besar dengan meja makan bulat yang besar di alas dengan taplak meja berwarna merah. Terdapat mini bar, lengkap dengan susunan coffi mahal, cangkir-cangkir yang tergantung. Sarapan sudah di tata di atas meja. Sarapan yang tersedia untuk 4 orang. Arum duduk di sebelah Anita. Anita tampak sangat cantik dengan gamis modern berwarna hitam perpaduan kuning kunyit.
Habibi turun dari tangga. Tangga tersebut berada di ruang makan. Mata Habibi langsung tertuju kepada gadis cantik yang sedang duduk di samping maminya. Habibi sudah tampak siap dengan memakai jas abu-abu tua dan celana yg warna senada. Kemeja hitam pekat dengan dasi terlihat netral untuk semua warna baju.
Arum tersenyum melihat ke arah Habibi. Senyum yang terlihat sangat manis dan cantik, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang rapi. Arum terlihat sangat cantik dengan long dress biru dongker dan bezer hitam. Membuat kulit putihnya tampak sangat cerah di tambah dengan fasminah hitam.
“Udah lama Rum,” Habibi yang tampak terkejut melihatnya
“Lumayan pak.” Jawab Arum.
“Kita sudah dari tadi nungguin kamu." Kata Anita
Habibi melihat jam di tangannya sudah menunjukkan jam 07.15. Mereka mulai sarapan dengan keheningan.
“Mi, pi. Bibi berangkat dulu ya.”
“Iya pi, bibi pamit dulu. Apa papi ikut bertemu dengan mister Androw Smit ?” tanya Habibi.
“Insyaallah papi usahakan.”
“Mami ikut papi?” tanya Habibi lagi.
“Mami ke rumah sakit. Bentar lagi tante Lasmi jemput Mami.” Jawab maminya.
“Bibi berangkat dulu ya mi, pi.”
“Ibuk Arum pamit. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
__ADS_1
Arumi berjalan di sebelah Habibi sambil membawakan tas Habibi. Habibi merasa kurang nyaman dengan sikap yang ditunjukkan Arumi. Arumi membuka pintu mobil untuk Habibi.
“Arum, saya saja yang buka pintu sendiri.” Habibi kembali protes.
“Gak usah pak. Arum aja.”
Akhirnya Habibi hanya bisa menurut.
“Arum,” sapa Habibi.
“Iya pak.”
“Kalau hanya ada kita berdua, kamu gak usah panggil bapak. Kamu panggil mas aja seperti biasa. Padahal kamu pergi baru satu bulan. Tapi saat kamu kembali, saya merasa sikap kamu seperti orang yang baru saya temui.” Kata Habibi.
Arum tersenyum ke arah habibi. “Maafin Arum mas, bukan niat Arum untuk bersiap seperti ini. Tapi sekarang semuanya karena profesionalitas pekerjaan.”
“Iya aku ngerti. Tapi kalau dekat aku. Kita gak usah formal seperti ini.”
“Iya pak. Eh... Mas. Oke,” Arum membulatkan jarinya berbentuk o dengan senyum yang sangat manis.
Habibi tak berkedip memandang senyuman Arumi.
“Bisa kamu ceritakan kan sama aku. Bagaimana kamu bisa menghilang.”
Arum tertawa, “Arum gak hilang mas, Arum di masukkan ke sekolah bodyguard oleh ibuk. Waktu Arum di ruang pentri sendirian, ibuk dan bapak datang memanggil Arum. Arum di tunggu di parkiran.” Arum mulai menceritakan rentetan peristiwa.
“Waktu itu Arum gak sempat pamit karena Arum sudah di tunggu pak Diman untuk di antarkan ke sekolah. Hp Arum di pegang sama ibuk soalnya di sana, kami memang tidak boleh berkomunikasi dengan siapapun selama masa pendidikan. Semua keperluan Arum sudah disiapkan oleh ibuk.”
Ini pertama kalinya Habibi melihat maminya begitu dekat dengan gadis yang di sukai anaknya. Tidak seperti biasanya dia selalu memiliki alasan kenapa tidak suka dengan mantan-mantan Habibi.
__ADS_1