
"Mas tunggu sebentar Arum mau panggil perawat untuk jagain Vira sama Rangga," ucap Arum ketika akan keluar dari ruangannya.
"Mimi sama Pipi mau ke mana tanya Vira yang memutar kepalanya saat mendengar ucapan miminya.
"Mau ke bawah sebentar jawab Arum.
"Vira ikut," ucapnya.
"Nggak usah Vira disini aja," jawab Arum.
"Apa yang mimi dan pipi rahasiakan?" ucapnya yang membesarkan matanya dan membulatkan bibir kecilnya ke depan.
"Kepo pedia diam gak boleh banyak tanya, dengerin dan nurut," ucap Habibi yang mencium pipi putrinya yang sudah berdiri di atas sofa.
"Tapi Vira curiga Pi," ucapnya.
Arum tersenyum memandang putrinya. "Nanti Mimi kasih tahu," ucapnya.
"Mimi Beneran kasih tahu Fira. Mimi tidak Main rahasia-rahasiakan?" ucap Vira yang menyipitkan matanya.
Rangga menarik tangan Vira. "Savira, kita itu masih kecil tidak terlalu boleh mengetahui urusan orang dewasa," ucapnya yang meminta Vira untuk kembali duduk dan menonton kartun bersama dengannya.
Vira memandang rangka dan mengerutkan keningnya.
"Bagaimana kalau kita ditipu Mimi dan Pipi. Mereka ternyata pergi jalan-jalan berdua Mereka itu sering nipu Vira," ucapnya yang berbisik di telinga Rangga.
"Pipi sama Mimi bukan jenis orang yang tukang bohong," ucap Rangga memandangnya.
"Tapi jangan lama-lama ya Mi," ucap Vira yang akhirnya mengalah.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Diciumnya bibir kecil putrinya yang sudah maju ke depan.
"Iya, Mimi cuma sebentar aja," ucapnya yang mencium pipi Vira kanan dan kiri dan juga mencium pipi Rangga.
Rangga begitu sangat senang ketika pipinya dicium dengan Arum.
Arum pergi meninggalkan ruangannya setelah perawat yang dimintanya untuk menjaga anak-anaknya datang.
***
"Apa dokter Arumi, apa belum dapat haidnya?" tanya dokter Dina yang tersenyum memandangnya saat Arum sudah duduk di depannya.
Arum tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Semoga aja program kali ini sukses," ucap dokter Dina.
"Arum kemarin sudah cek Mbak, nyatanya nggak positif," ucapnya.
"Jangan percaya 100% sama alat tespek," ucap Dina yang meminta Arum untuk berbaring di tempat tidur.
dokter Dina mulai menggerakkan alat tersebut di perutnya. "Dokter Arum boleh lihat ini," ucapnya yang menunjukkan 2 titik kecil di rahim.
mata room terbuka lebar saat melihat layar monitor tersebut ia tersenyum memandang suaminya.
Habibie Maulana istrinya dengan keningnya berkerut itu apa tanyanya.
udah ada Mas ucapnya.
ini janinnya Pak Habibie kemarin waktu Vira titiknya hanya satu sekarang titiknya dua ucap dokter dina.
Habibie tersenyum dan kemudian langsung memeluk istrinya ia mengecup bibir istrinya berulang-ulang kali.
aku menolak suaminya Mas ada dokter dina ucapnya yang mencubit pinggang suaminya.
Habibi hanya tersenyum dan kemudian kembali mencium kening istrinya.
__ADS_1
akhirnya sukses ucapnya.
"Ya Allah. Mas, Vira pasti senang," ucap Arum.
Habibi diam memandang layar monitor sambil memegang tangan istrinya.
"Arum memandang Suaminya. "Mas kemarin lihat hasilnya apa?" tanyanya.
"Ya nggak tahu, Mas belum jadi lihat. Mas langsung buang," ucapnya yang membuat istrinya tertawa dan mencubit tangannya.
"Selamat Pak Habibi, dokter Arumi. Ada dua lagi ini yang cerewetnya menyaingi Vira ini," ucap Dina.
"Terimakasih dok," ucap Arum.
***
"Mas, ke Amerikanya tetap jadi ya," ucapnya.
Habibi tersenyum memandang istrinya. "Baru hamil sayang. Dapatnya susah, takut kenapa-kenapa?" ucapnya.
Arum diam memandang suaminya. "Nanti di pesawat Arum baring-baring aja. Arum juga gak bakal capek-capek di sana," ucapnya.
"Nanti kita cek kondisi dulu. Jalan-jalan ke sana bisa kapan-kapan," ucapnya.
Arum menganggukkan kepalanya.
Habibi membuka pintu ruangan istrinya dan melihat Rangga dan Vira yang asik menonton film kartun.
"Mas makan siang di sinikan?" ucapnya.
"Iya ucap Habibi yang mengusap kepala istrinya. "Iya, adek mau apa?" tanyanya.
"Arum mau ikan bakar," ucapnya.
"Ayam goreng madu," ucap Vira.
"Rangga?" sama dengan Vira aja pipi," ucap Rangga.
Habibi meminta pengawalnya untuk membelikan makanan siangnya bersama dengan istrinya.
***
"Mas balek ke kantor ya, baring-baring aja di kamar," ucapnya yang mencium kening istrinya.
Habibi sengaja membawa istrinya ke dalam kamar agar ia bisa mencium istrinya dan tidak terlihat oleh anak-anaknya.
Arum memeluk suaminya dan menganggukan kepalanya.
"Istri mas kalau hamil manjanya kebangetan," ucapnya mencium bibir istrinya dan mengusap perut istrinya.
"Arum senang mas, Arum gak nyangka kalau Arum hamil," ucapnya yang tersenyum menang suaminya ucapnya.
"Ya Allah, anak kita kembar sayang," ucapnya mencium bibir istrinya.
"Di kasih satu aja rasanya udah sangat bersyukur, apa lagi dikasih dua gini," ucapnya.
"Berkat sabar," ucap Habibi yang mencubit hidung istrinya.
"Sayang pipi berangkat kekantor dulu," ucapnya yang mengusap dan mencium perut istrinya tersebut.
"Iya pipi cari uang yang banyak. Ingat pipi punya janji sama Mimi," ucap Arum.
Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "kirimkan merek, warna Mobilnya. untuk cincin berlian, dan tasnya kita beli di toko langanan. Makan enaknya nanti malam," ucapnya.
"Iya," jawab Arum yang tersenyum lebar.
__ADS_1
"barang-barang aja ya di kamar," ucap Habibi.
Arum menganggukkan kepalanya. "Tapi Vira pasti protes kalau lihat Arum tidur-tidur terus," ucapnya.
"Nanti mas kasih tahu Vira biar dia jangan cerewet," ucapnya saat keluar dari kamar bersama dengan istrinya..
"Pilj ke kantor dulu ya,x ucapnya yang berpamitan dengan putrinya.
"Iya Pi," Jawab Vira yang mencium pipi kiri dan kanan pipinya.
"Nanti kalau Mimi istirahat di kamar nggak boleh gangguin ya," ucapnya.
"Memangnya Mimi mau tidur lagi?" tanya Vira.
"Iya, Vira mau punya adek, jadi miminya harus banyak tidur," ucap Habibi.
Vira menganggukkan kepalanya. "Adek Vira kembar ya Pi," pintanya.
Arum dan Habibi tersenyuman mendegar permintaan putrinya. "Apa Vira bisa jagain adek kembar?" ucapnya.
"Bisa Pi, jagain boneka yang lebih 100 aja Vira bisa, apa lagi cuma 2," ucapnya.
"Pipi jangan khawatir, nanti saya akan membantu menjaga satu," ucap Rangga.
Arum tersenyum memandang suaminya Dia benar-benar sangat senang saat mendengar ucapan kedua anaknya.
"Benar ya," ucapnya.
"Iya mi," jawab Rangga.
Iya jawab Habibie.
Rangga, pipi ke kantor dulu ya, Rangga jagain Mimi sama Vira," ucapnya yang memandang anak angkatnya dan mencium pipi bulat anak laki-laki tersebut.
"Pipi jangan mencemaskan hal itu, saya akan selalu menjaga dan melindungi mereka berdua," ucapnya yang membuat Arum dan Habibi tertawa.
Habibi mencium kening istrinya. "Mas pergi dulu ya," ucapnya.
"Iya," jawab Arum yang tersenyum memandang suaminya
"Pipi berangkat dulu ya nak," ucap Habibi yang mengusap perut istrinya. Ia begitu berat untuk meninggalkan istrinya.
***
Arum melihat kedua anaknya sudah tertidur di sofa sambil menonton tv. Arum memandang jam yang melingkar di tangannya yang masih jam 3 sore. Arum sudah tidak sabar ingin menghubungi sahabnya dan memberi tau tentang kabar kehamilannya. Arum kemudian menghasilkan Ara melalui panggilan telepon.
"Halo assalamu'alaikum," ucap Ara saat mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Waalaikum salam. Ara ke ruangan Arum," ucapnya.
"Saya lagi praktek dokter Arumi," jawab Ara bercanda.
"Tinggalin," ucap Arum.
"Nggak berani dokter Arumi, nanti saya dipecat sama pemilik Rumah Sakit," ucapnya.
"Ara jangan banyak gaya, cepat ke ruangan Arum. Pasiennya Ara oper ke dokter Dila," ucap Arum memerintahnya.
"Baiklah big Bos, Ara bakalan langsung ke sana," ucapnya.
Arum tersenyum dan menutup panggilan telepon tersebut.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya. 😊😊🙏🙏
__ADS_1