Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 307


__ADS_3

May sarah berada di dalam kamarnya, sambil mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. May Sarah memejamkan matanya saat bayangan Iman muncul di dalam ingatannya. "Aku sudah tau bahwa kamu hanya bercanda. Hanya saja hati aku tetap menginginkan kamu," Ucapnya yang memegang dadanya. Selama ini tidak pernah terpikir olehnya akan menyukai pria yang berwajah serius dan kaku tersebut. May sarah duduk di lantai kamarnya. Bila bisa menolak sudah pasti perjodohan ini akan ditolaknya, atau mengundur waktu. Namun hal itu sudah tidak mungkin lagi dilakukannya, mengingat sudah sangat lama ia mengundur waktu. Begitu sangat berat untuknya menerima perjodohan ini, namun dia juga tidak memiliki pilihan lain. May sarah tidak mungkin memilih singgel sampai tua mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.


Di pandangnya foto pria yang ada di layar ponselnya. Pria itu bernama Hendra. Wajahnya tergolong manis. Senyumnya terlihat begitu sangat hangat. Hendra bekerja di salah satu bank swasta yang ada di solo. Pria itu begitu sangat sempurna, namun tidak membuat May sarah tertarik dengan pria berusia 31 tahun itu.


Sempat beberapa kali Hendra menghubunginya melalui panggilan video call, May Sarah selalu menolaknya. Begitu juga dengan panggilan telepon biasa, May Sarah tidak pernah mengangkatnya. Hendra juga mengirimkan beberapa kali pesan melalui WhatsApp yang menanyakan kabar dan meminta ingin berkenalan, May sarah juga tidak pernah membalasnya. Ia mengira bahwa pria itu akan mundur untuk melamarnya namun ternyata tidak.


May sarah masih memandang layar ponselnya. Berulang kali May membuka pesan whatsapp kemudian menutupnya kembali, saat Ia tidak melihat pesan chat yang masuk dari Imam. May juga mengecek panggilan masuk, tidak ada panggilan yang tidak terjawab. May menarik nafasnya dengan sangat keras kemudian menghempaskannya. Berulang kali May melakukan hal tersebut dan berhrap bisa menenangkan perasaannya. Ingin rasanya ia menangis mengingat Imam yang sudah berbohong dengannya. May menyadari bawa Imam tidak menjanjikan apa-apa untuknya. Mereka juga tidak terikat hubungan apapun.


Apa yang dikatakan pria itu hanya untuk menjadi bahan obrolan saat mereka di jalan.


May keluar dari dalam kamarnya dengan menenteng tas yang berukuran tidak besar. May hanya membawa sedikit pakaiannya berhubungan dia hanya beberapa hari saja di kampungnya nanti. Ia berjalan menuju kamar Vira. Gadis kecil yang sudah di lindungi nya sejak dalam kandungan. May sarah berdiri di depan pintu kamar Vira dan membuka pintu kamar tersebut setelah mengetuknya lebih dulu. May Sarah tersenyuman ketika melihat Vira yang bermain boneka dengan baby sitter nya.


"Aunty May," ucap Vira yang berlari mengejarnya. "Aunty ikut main sama Vira ya," ucap Vira yang menarik tangan May Sarah dan duduk di dekat boneka yang sudah susunya berjejer di lantai kamarnya.


"Vira lagi apa?" ucap May yang mengusap rambut hitam gadis kecil nan cantik tersebut.


"Vira lagi main boneka sama mbak Ella," ucapnya yang memegang satu bonekanya dan menganti baju boneka tersebut.


May Sarah tersenyuman Memandangnya.


"Aunty May mau kemana?" tanya Vira yang memandang tas yang ditangan May Sarah.


"Aunty mau pulang ke Solo sekarang," ucap May yang mengusap rambut Vira.


Mata Vira terbuka lebar saat mendengar ucapan May Sarah. "Apa aunty mau pergi pulang kampung?" ucap Vira.


"Iya ucap May sarah.


"Aunty kenapa gak kasih tau Vira," ucapnya yang terlihat sedih.


"Maafin Aunty, Sebenarnya aunty juga enggak ada rencana mau pulang ke Solo. Hanya saja orang tua aunty minta untuk aunty untuk pulang," ucapnya yang memegang pipi Vira.


"Aunty akan kembali lagi kesini?" ucap Vira.


May sarah tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aunty di sana cuman sebentar," ucapnya.


Vira tersenyum memandang nya. "Aunty hati-hati ya di jalannya," ucap Vira memandang May sarah.


May sarah tersenyum dan menganggukkan kepalanya. May sarah keluar dari kamar setelah berpamitan dengan gadis kecil tersebut.


May berjalan menuju bagasi mobil. Langkah kakinya terasa begitu sangat berat ketika melangkah kan kakinya meninggalkan rumah tersebut.


May sarah duduk di dalam mobil ar yang berwarna putih.


***


Arum tersenyum ketika melihat suaminya yang masuk ke dalam ruangannya untuk menjemputnya. "Mas datang Kenapa nggak kasih tahu," ucapnya.


"Malas kalau dibilangin mau ke sini pasti disuruh bawa Vira ucap Habibi yang tersenyum memandang istrinya.


"Vira kenapa enggak dibawa?" tanya Arum yang membesarkan matanya.


"Sengaja, soalnya Vira suka gangguin jadi ditinggalin," ucapnya.


"Ih mas jahat, sama anak sendiri kok gitu," ucap Arum memprotes suaminya.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Habibi memeluk istrinya dari belakang.


"Ini Rumah sakit," ucap Arum.


"Mas tahu," jawabnya.


"Terus kenapa peluk-peluk Arum gini, nanti ada yang lihat," ucapnya.


"Apa perlu mas kunci pintu?" tanya Habibi yang sengaja menggoda istrinya.


"Mas apaan sih," ucap Arum yang sedikit memutarkan kepalanya dan memandang suaminya yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Sepertinya coba di situ enak," ucapnya yang memandang kursi empuk milik istrinya.


"Mas!" ucap Arum yang mencubit pinggang suaminya.


"Di sofa juga boleh," ucap Habibi yang masih terus menggoda istrinya.


"Arum nggak mau," ucapnya yang membesarkan matanya.


Habibi tertawa mendengar ucapan istrinya. "Makan malam di luar ya sayang,"ucapnya yang berbisik ditelinga istrinya.


Arum tersenyum dan kemudian membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah suaminya.


Arum sudah sangat hafal sifat suaminya yang selalu mengajaknya makan malam berdua bilang Putri mereka tidak ada di rumah.


"Boleh tapi Mas gak ngabisin uang 3 m lagi kan ucapnya yang memandang suaminya.


Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "Maunya gimana?" tanyanya


"Dari pada 3 M nya dihabiskan untuk makan malam, mending di santunan untuk anak yatim," ucap Arum yang memandang suaminya.


"Sayang untuk di santunkan ke anak yatim, panti asuhan, panti jompo itu sudah ada anggarannya," ucap Habibi yang tersenyum memandang istrinya.


Arum diam saat mendengar ucapan suaminya. Suaminya selalu menyisihkan sebagian uang untuk disumbangkan nya ke berbagai tempat seperti panti asuhan, yayasan pendidikan, panti jompo dan membantu usaha-usaha pedagang kecil. Arum tersenyum memandang suaminya. "Iya hanya saja kita makan malam nya jangan seperti yang kemarin lagi. kita makan malam biasa aja ya mas," ucapnya.


"Habib tersenyum dan menganggukkan kepal.


"Makan malam kali ini, makan malam romantis dengan uang yang cukup praktis," ucapnya.


Arum tersenyuman dan menganggukan kepalanya. "Boleh," jawabnya.


"Nanti kita nginep di hotel ya," ucapnya.


Arum menganggukkan kepalanya.


****

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungannya.


😊😊🙏🙏


__ADS_2