
Selepas sholat subuh. Mereka langsung bersiap-siap. Arum yang sudah menyediakan 2 buah travel bag yang berukuran besar, sudah di isi baju-baju ibu serta adik-adiknya. Barang-barang yang sudah di kemas, di masukkan ke dalam mobil. Habibi sengaja membawa mobil pajero miliknya agar bisa membawa barang lebih banyak.
Setelah semuanya selesai, mereka langsung berangkat ke Jakarta. Lebih dari 6 jam di perjalanan. Habibi mengemudikan mobil dengan kecepatan normal.
Mobil memasuki perumahan mewah, yang di jaga 2 orang security. Tampak dua orang security tersebut sangat hormat dan sopan kepada Habibi. Mobil masuk ke dalam dan berhenti di depan rumah yang memiliki pagar yang tinggi. Dengan cepat security membuka pagar. Mobil berhenti di bagasi mobil.
“Ayo turun bu.” Kata Arumi.
“Ini rumah siap nak.”
“Rumah Arum bu,” balas Habibi.
“Apa?”
“Iya bu ini rumah Arum. Ayo kita turun.”
Serasa tidak percaya dengan apa yang di sampaikan anaknya. Namun ibu tetap turun.
“Ini rumah kak Arum?” Ica yang tampak kegirangan.
“Non, Arum sudah sampai.” 2 orang asisten rumah tangga Arum langsung menyambut kedatangan Arum.
“Iya mbak keke. Yang ini siapa mbak?”
“Saya Mirna non. Saya bekerja hanya pagi sampai sore. Tidak seperti mbak Keke yang memang tinggal di sini.”
“Oh gitu ya.” Arum melihat ke arah Habibi. Mana mungkin mbak Keke bisa kerja sendiri di rumah yang besar seperti ini. Kasihan mbak keke kalau harus kerja sendiri. Arum hanya mengangguk kan kepala.
“Mbak tolong, semua barang di bagasi di turunkan ya dan langsung di susun di lemari.” Kata Habibi.
“Baik den Habibi.”
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam. Berbagai pertanyaan berkumpul di benak kepala ibu Arumi.
“Bu, mami saya ngundang makan malam di rumah.”
“Ooo iya boleh-boleh. Jam berapa nak?”
“Jam 4 sore bu. Ibu istirahat saja dulu.”
“Iya nak.”
Arum mengantarkan ibunya kekamar.
“Nak, apa kamu ada hubungannya dengan Habibi?”
“Gak bu. Mas bibi mau melamar Arum. Tapi Arum belum siap bu.”
“Apa kamu pacaran?”
“Gak bu. Arum sudah bilang sama mas Bibi. Kalau Arum minta waktu. Dia mau menunggu.”
“Iya bu. Arum menyukai mas bibi. Keluarganya sangat baik bu. Mereka sangat kaya. Tapi tidak sombong.”
“Rumah ini?”
“Rumah ini, yang mempersiapkannya Ibuk Anita, maminya mas Bibi.”
Ibu mulai mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apa bila kamu sudah tidak mampu untuk mengendalikan hawa nafsu mu. Menikah adalah jalan terbaik.” Kata ibu Arumi.
“Tapi Arum masih ingat kuliah bu. Arum ingin masuk fakultas kedokteran. Mimpi Arum sejak kecil dan mimpi ayah juga bu.”
__ADS_1
“Iya nak, Ibu tahu. Apa semua karyawan di beri rumah?”
“Setahu Arum gak bu. Tapi setiap asisten pribadi di beri rumah.”
“Oh gitu ya nak. Ibu lihat, dia pria yang sangat baik dan sangat sopan. Semua ibu serahkan sama kamu nak.”
“Makasih bu. Arum tinggal ya bu.”
“Iya nak.” Ibunya masih fokus memperhatikan kamar yang ditempatinya kemudian membaringkan tubuhnya diatasi spring bed king size. Kamar bernuansa krem. Lemari yang besar dan meja hias.
*******
Aisah dan Azzam masih sibuk berkeliling melihat rumah tersebut.
“Bang, rumah kak Arum bagus sekali.”
“Iya dek. Gak nyangka rumah kak Arum sebagus ini.” Kedua anak tersebut masih fokus melihat kesekeliling rumah. Mereka melihat kolam renang.
“Enak ya bang kalau kak Arum nikah sama mas Habibi. Orangnya baik banget.”
“Kamu masih kecil. Udah mikir nikah.” Balas Azzam.
“Hehe... Aku mau berenang bang.”
“Jangan dek. Siapa tau kolam renang itu hanya sebagai hiasan yang tidak boleh dimasuki.
“Iya juga ya bang,” jawab adiknya sambil merinding.
*****
“Nona Arum, Den Habibi Makan siang sudah siap.”
__ADS_1
“Baik mbak. Mbak mirna, apa bisa panggilkan ibu?”
“Baik non.”