
Arum masuk ke dalam rumah, Siti duduk di ruang tv sambil menselonjorkan kakinya yang terasa sangat pegal setelah seharian sibuk mondar-mandir. Walaupun gak ada yang di kerjakannya namun tetap saja Siti mondar-mandir untuk memperhatikan segalanya.
Arum duduk sambil meletakkan tangannya di atas paha ibunya. Ia merebahkan kepalanya di atas paha tersebut.
“Ibu capek,” tanya Arum kepada sang ibu.
“Iya nak.”
“Bu.”
“Hem...”
“Tadi waktu rombongan mas Bibi minta waktu nikah 3 Minggu lagi. Kenapa ibu iyakan? Kenapa gak minta 3 bulan atau 6 bulan lagi.”
Siti tersenyum nyegir, “waktu ibu dengar uang hantaran kamu 5 milyar ibu langsung shock. Rasanya jantung ibu mau berhenti berdetak. Namun ibu berusaha untuk jangan panik dan menenangkan diri ibu. Ibu malu kalau orang tahu jantung ibu kumat karena uang hantaran 5 m. Saat mereka mengatakan acara pernikahan 3 Minggu lagi. Ibu langsung spontan menjawab iya.”
Arum memajukan bibirnya. “Tadi Arum tanya ke mas bibi. Uang sebanyak itu untuk apa. Katanya pikirkan besok. Arum tanya lagi harga rumah ini berapa. Katanya 3 m. Arum bilang, kalau Arum mau beli rumah ini. Katanya rumah ini emang udah punya Arum dan sertifikatnya sudah atas nama Arum.”
Mulut Siti terbuka saat mendengar apa yang di sampaikan putrinya. “Kehidupan kita sekarang, seperti membalikkan telapak tangan. Begitu mudah berubah dari hitam ke putih. Hidup seperti ini tidak pernah ibu mimpikan. Kamu bertemu dengan keluarga Habibi, mereka merubah segalanya.”
“Iya Bu. Bu, Arum ke kamar ya ganti baju.”
Siti menganggukkan kepalanya.
**********
Arum masuk ke dalam kamarnya, ia membersihkan wajahnya memakai pembersih wajah dari Wardah. Ia meneteskan cairan bening tersebut ke kapas dan menyapukannya kewajahnya. Ia memberikan bagian mata dan bibirnya mengunakan eye cleanser. Setelah seluruh riasan wajahnya bersih Arum memakai krim malam diwajahnya. Ia sudah memakai mini dres yang bermotif bunga-bunga.
Arum merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memandang langit-langit kamarnya. Ia memegang perhiasan dari Ardi. Dipakainya gelang tangan tersebut. Maaf Di, Arum hanya bisa untuk jadi sahabat kamu lirih Arum dalam hati.
Arum membuka ponselnya dengan sidik jarinya. Ia mulai membuka Ig nya. Gadis tersebut melihat video tutorial makeup yang di upload dihistorinya. Begitu banyak dapat komentar. Dalam video tersebut, membuat makeup dari awal hingga selesai. Mulai dari memberikan wajah, memakai pelembab wajah, Foundation, contour, cara membuat seding hidung. Arum memberi tips membentuk alis tanpa harus mencukurnya. Ia membuat makeup yang natural dan elegan tampa memakai bulu mata, namun bisa terlihat panjang dan tebal. Kemudian memakai kontak lensa yang berwarna biru Dongker.
Begitu banyak pujian yang masuk ke dalam kolam komentarnya. Para netizen memuji Arum cantik tanpa makeup dan apa lagi dimakeup.
Kamu itu oke banget sih.
Waktu hamil ibu kamu makan apa?
__ADS_1
Begitu banyak kolom komentar yang masuk di Ig nya.
Arum melihat unggah video yang di kirim Ari. Video ia nyanyi dengan Ardi. Video yang memiliki durasi waktu 15 menit tersebut mendapat 30.000 like. Arum memutar video tersebut sampai habis. Air mata nya menetes.
Arum melihat status Ardi. Ardi upload foto saat ia masih kecil. Arum melihat foto-foto tersebut. Ia tidak tau kapan foto itu di ambil. Foto saat ia bergandengan tangan dengan Ardi, Foto di mana Arum menangis dan Ardi tampak meniup kaki Arum. Foto Ardi yang mengobati kaki arum, Ardi yang mengendongnya dipunggung. Foto Ardi yang membonceng Arum pakai sepeda, foto saat mereka latihan taekwondo, foto Arum dan Ardi ikut turnamen taekwondo, foto Ardi dan Arum yang sedang mengikuti cerdas cermat. Foto saat Ardi ulang tahun yang ke 7 ia menyuapkan kue ke mulut Arum.
Foto yang begitu banyak momen-momen di dalam foto tersebut hingga foto mereka yang sekarang. Foto ia makan berdua dengan Ardi sambil tersenyum memandang kamera. Arum tidak pernah tahu kapan foto-foto tersebut diambil.
Handoko selalu memfoto Ardi, bahkan ia memerintahkan pekerjanya yang di kebun untuk mengikuti putra tunggalnya dan memfoto setiap momen yang di kerjakan Ardi.
Ardi menuliskan kalimat di atas foto tersebut.
Waktu berjalan begitu cepat, bahkan menurut ku sangat cepat. Dulu kamu yang selalu terjatuh dan menagis. Meminta aku mengendong kamu di punggung ku. Sekarang kita sudah sama-sama besar dan tumbuhan dewasa. Kita sudah tidak seperti anak kecil lagi yang selalu bergandengan tangan kemana-mana, naik sepeda berboncengan, latihan taekwondo bersama, mengikuti turnamen bersama. Ya bisa dibilang kita selalu bersama. Namun sekarang, seiring dengan waktu yang terus berlalu. Semuanya telah berubah. Namun hanya satu yang tidak pernah berubah. Aku tetap Sahabat kecil mu hingga sekarang.
Ardi juga memfoto hansaplas, betadin dan juga perban.
Aku selalu membawa benda ini kemana-mana. Karena kamu suka terjatuh saat berlari. Dan sekarang, kamu bukan gadis kecil yang ceroboh dan suka terjatuh. Kamu sudah menjadi gadis cantik, yang pintar dan kuat. Kamu sudah bisa melindungi diri kamu sendiri dan orang lain. Sudah saatnya benda ini aku tinggalkan di atas meja dan tidak perlu mengantonginya. Saat terakhir kali tangan kamu terluka dan pada saat itu, bukan aku yang mengobatinya dan bukan aku yang memperbanya dan mengapa bukan aku.
Semua unggahan yang di masukkannya di Ig nya tersebut terkirim jam 4 sore. Sebelum ia datang ke rumah Arum.
Air mata Arum menetes dengan sendirinya.
**********
“Ada apa anak mama nelfon?”
Ardi menghirup nafasnya dalam dan menghempaskannya. “Arum udah tunangan ma.”
Mira terkejut saat mendengar kata-kata Ardi. “Sama siapa?” Tanya wanita yang di seberang sana.
“Mas Habibi.”
“Yang belikan kamu mobil?”
“Iya ma.”
“Kan masih tunangan. Masih bisa di tikung.”
__ADS_1
“Gak bisa di tikung lagi ma. Tiga Minggu lagi udah nikah.”
“OOO.... Padahal dulu sewaktu ayah Arum masih hidup. Papa kamu dan mas Mardi itu sepakat menjodohkan anak-anak mereka.”
“Mama kenapa baru ngomong sekarang. Kalau ada perjodohan seperti ini. Mestinya Arum akan ikut amanah ayahnya.”
“Mama sama papa berencana mau ke Jakarta menemui Siti. Memberi Tahukan masalah ini. Tapi belum sempat-sempat. Tapi ayahnya gak ada bilang yang di jodohkannya Arumi. Kalau Arumi gak jadi jodoh kamu. Berarti kamu akan dijodohkan dengan Aisah.”
“Apa???? Mama yang benar aja. Ardi mau di jodohkan sama anak umur 11 tahun?”
“Itu masih mending. Dari pada kamu di jodohkan sama anak yang masih dalam perut.”
“Ma, jangan gini dong.”
“Ini amanah dari mas Mardi. Mama dan papa harus segera memberi tahukan hal ini kepada Siti. Biar gak kecolongan untuk yang kedua kalinya. Kalau sempat kecolongan yang ke dua kalinya. Gak mungkin kamu dijodohkan sama Azzam.”
“Ma, Aisah itu masih kecil ma. Gimana kalau dia nolak Ardi.”
“Ya kalau dia nolak. Gak jadi jodoh kamu. Lagi pula anak mama ganteng Kok. Pasti ramai yang mau.”
Ardi memijit pelepis keningnya. Niatnya menghubungi sang mama, agar mendapatkan ketenangan. Namun ternyata malah membuat kepalanya semakin pusing.
“Ma, dah ya Ardi ngantuk. Mau istirahat.”
“Iya sayang. Jaga kesehatan ya. Ingat kamu sudah di jodohkan dengan Aisah.”
“Hem... Assalamu’alaikum.” Kata Ardi langsung menghentikan pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam.”
*******
like komen dan vole nya ya reader.
biar semangat up lagi.
terimakasih atas dukungan nya.
__ADS_1
maaf kalau penulis author sedikit berantakan. karena author memang bukan ahli bahasa Indonesia. yang bisa menulis dengan ejaan yang benar. tapi semoga para reader tetap bisa memahami tulisan author.