Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 114


__ADS_3

Wahyudi duduk di sebelah sahabatnya sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Ia melihat betapa kacaunya sahabatnya saat ini.


“Gua yakin, Arumi pasti baik-baik saja. Dia gadis yang kuat.”


Habibi hanya diam. Ia tak mampu untuk berbicara. Sudah lebih 3 jam operasi berlangsung. Belum ada ciri-ciri lampu ruangan operasi tersebut berubah warna.


Wahyudi duduk di samping Sasa. Gadis yang sudah resmi menjadi pacarnya. Wajah gadis itu masih terlihat pucat. Wahyudi masih belum tahu apa yang terjadi. Ia mendengar bahwa Habibi diserang di sebuah restoran. Ia tahu Sasa ikut bersama Habibi. Membuat ia semakin cemas. Namun saat melihat sang kekasih baik-baik saja kelegahan terlihat di wajahnya.


“Kamu gak kenapa-kenapa yang?” Tanya Wahyudi


“Gak apa-apa mas. Sasa cuma shock mas. Begitu Arum tahu bahwa kami sudah di intai Arum nyuruh Rasid untuk ngantar Sasa ke dalam mobil pak Habibi. Arum meyakinkan Sasa, bahwa mobil pak Habibi pasti aman. Kaca mobilnya tidak akan tembus peluru. Mereka mendekati mobil memukul kaca mobil pakai besi. Sasa benar-benar takut mas.”


“Terus.”


“Sasa gak tau mas. Sasa gak berani lihatnya. Sasa baru ngeliat waktu teman Arum bunyiin klakson. Terus jalan. Rupanya kami masih diikuti. Sasa lihat mas, mereka nembak ke mobil yang di bawa teman Arum. Arum nembak ban mobil tersebut sampai terbalik-balik mas. Sasa udah gak berani ngikutin lagi. Sasa Berhenti di depan ruko. Mereka gak ngejar Sasa. Jadi Sasa aman. Sasa udah gak tau lagi apa-apa mas.”


Wahyudi mengusap kepala gadis tersebut. Ia hanya mendengar kan cerita yang di sampaikan persi Sasa. Udah membuat jantung nya berdetak sangat cepat.


“Katanya ada teman Arum, tapi mas gak lihat.”


“Ia lagi transfusi darah mas.”


“Golongan darah teman Arum B?”


“Iya mas. Sama Rasid.”


“Rasid juga B?”


“Iya.”


Wahyudi tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


********


Ardi duduk di tepi tempat tidur sambil meminum air kacang hijau di dalam kemasan kotak agar tidak pusing setelah transfusi darah. Dilihatnya Rasid yang berbaring dengan menutup mukanya dengan sebelah tangan. Terlihat jarum besar masih melekat di tangan pemuda tersebut.


“Golongan darah abang B juga?” Tanya Ardi.


Rasid mengangkat tangannya dari mukanya dan memandang ke ardi. “Iya” jawabnya.


“Gak usah takut bang.”


“Emang kelihatan kalau Abang takut,” tanya Rasid.

__ADS_1


“Kelihatan bang.”


“Sebenarnya Abang malu dek. Abang nih guru silat sabuk hitam. Tapi takut sama yang beginian.” sambil melihat jarum yang ada di tangannya.


Ardi senyum. “Itu namanya manusiawi bang.”


“Waktu kamu bawak mobil tadi, Abang lihat kamu tampak tenang dan santai. Apa kamu gak takut dek. Padahal abang sudah takut sekali.”


“Sebenarnya gak santai sih bang. Hanya saja berdo’a sambil berzikir bang. Kitakan nggak tahu apa kita masih hidup atau gak? Kita harus siap, kapan pun dipanggil. Saat kita dipanggil kita harus dalam keadaan bersih bang. Dengan berzikir itu pertanda kita mengingatnya.”


Rasid memandang kagum kepada pemuda tersebut. Saat peristiwa tersebut, Rasid tidak ingat untuk berzikir. Yang di pikirkannya kapan para penjahat tersebut tidak mengejar mereka.


“Teman kuliah Arum?”


“Senior bang.”


“Kenal Arum di kampus?”


“Kami sudah berteman sejak kecil bang.”


Mereka saling memberikan informasi diri mereka masing-masing.


“Bang aku mau ke ruang operasi Arum. Siapa tahu sudah ada kabar.”


Ardi kembali duduk di samping Siti. Ia melingkarkan tangannya di pundak wanita tersebut.


Air mata Siti tidak henti-hentinya menetes.


“Ibuk harus tenang. Arum pasti selamat. Arum tu cewek yang kuat.” Sambil mengusap punggung tangan ibu Arum.


“Makasih ya nak.” Siti masih terus menagis.


“Ibuk gak boleh gini. Nanti saat Arum bangun dilihatnya ibuk sakit. Arum pasti sedih.” Ardi berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.


Tangis Siti semakin pecah, bila iya ingat anak gadisnya tidak pernah menagis dihadapannya, saat anak gadisnya selalu tegar agar ibunya bisa tegar. Namun kondisi yang seperti ini apa mungkin ia bisa tenang.


Ardi memeluk Siti.


Setelah transfusi darah, Rasid duduk di sebelah Habibi.


3 jam dokter bekerja di dalam ruangan tersebut dan akhirnya lampu operasi berubah warna. Dokter keluar dari ruangan tersebut. Dengan cepat Habibi mendatangi dokter tersebut.


“Bagaimana dok?”

__ADS_1


“Operasi berhasil. Tidak ada yang membahayakan. Bersyukur peluru tidak menembus jantung. Selesai masa pemantauan. Pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan.”


Kalimat yang di keluarkan dokter tersebut merupakan kalimat yang sangat diharapkan oleh mereka. Habibi langsung memeluk dokter tersebut.


“Terimakasih dok.” Tampak senyum diwajah pria tersebut.


Dokter tersebut menyalami Anita dan Wahyudi. Mereka mengikuti dokter tersebut ke ruangnya.


************


Arum membuka matanya. Saat di lihatnya ia berada di sebuah ruangan yang berwarna putih. Suara tangis Siti menyadarkan Arum bahwa saat ini dia sedang berada di rumah sakit.


“Ibuk.”


“Nak, kamu sudah bangun?”


“Sudah Bu.” Arum melihat air mata di pipi sang ibu. Mata yang terlihat sembab.


Ia menghapus air mata tersebut dengan tangan yang di letakkannya di wajah sang ibu.


“Ibu kenapa nangis?”


“Ibu mencemaskan kamu nak.”


“Arum gak apa buk.” Gadis tersebut tersenyum dengan sangat manisnya.


Habibi yang duduk di sofa mendekati Arum. “Dah bangun dek.” Tampak dari penampilannya, yang masih acak-acakan.


“Udah mas. Arum haus.”


“Tunggu ya mas panggil perawat dulu.”


Arum mengangguk kan kepalanya. “Ardi mana mas?”


“Ardi tadi pulang ke kos nya. Mandi.”


“Mas gak apa-apa kan?”


Habibi menggelengkan Kepalanya.


“Mbak Sasa, mas Rasid?”


“Semuanya baik. Nanti mereka ke sini lagi setelah mandi. Mereka mau lihat langsung kalau kamu sudah bangun.”

__ADS_1


Siti menetes kan air matanya. Saat di lihatnya putrinya yang selalu mementingkan keselamatan orang lain.


__ADS_2