
“Ada apa Di,” tanya Doni. Ia memang mengira bahwa mereka dipanggil kajur.
Ardi mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Ardi hanya diam saat teman akrabnya itu bertanya. Begitu sampai di pagar kamus, Ardi menyuruh Doni dan Ari turun.
“Ada apa Di?” Doni kembali bertanya.
“Kalian masuk ke dalam. Kajur nggak ada cari kita. Tunggu aku di kampus.”
Doni dan Ari Tampak masih bingung. Namun mengikuti perintah Ardi. Ardi kembali ke restoran tersebut.
*******
“Gimana dek,” tanya Habibi.
“Kalau kita di sini. Kita bisa dikepung mereka mas, kita harus lari dari sini. Kita sudah dijebak. Mbak Sasa mahir bawa mobil,” Tanya Arumi.
“Bisa Rum. Tapi ya gak mahir juga.”
“Mas, kasih kunci mobil dengan mbak Sasa. Mas Rasid pastikan mbak Sasa masuk ke dalam mobil. Mbak, kunci semua pintu, jangan di buka sebelum kami datang. Mobil pak Habibi sudah memiliki pengamanan tingkat tinggi. Kaca anti peluru dan tidak akan pecah bila di pukul benda keras sekali pun.”
“Baik rum.” Sasa dan Rasid berjalan menuju mobil. Setelah Sasa masuk ke dalam mobil Rasid kembali ke dalam.
“Arum sudah minta bantuan sama om Herman mas, hanya saja jarak kita terlalu jauh.”
“Jadi gimana dek?”
Rasid duduk di sebelah Habibi.
__ADS_1
“Kita harus keluar dari sini mas. Sebelum mereka menambah anggotanya saat ini yang ada di restoran ini, semuanya mereka. Termasuk pelayan yang ada.”
Habibi membesarkan matanya. Mendengarkan pernyataan yang disampaikan Arumi. Rasid yang baru menjadi asisten Habibi tidak menyangka akan menghadapi masalah seperti ini. Ia memang memiliki ilmu bela diri. Tapi bagaimana kalau mereka menggunakan senjata api.
“Jadi gimana,” tanya Rasid.
Arum melihat ke arah depan, beberapa orang sudah mulai mengawasi mobil yang di dalamnya Sasa.
“Kita keluar, mereka sudah bisa menebak, bahwa Kita sedah mengetahui keberadaan mereka.” Arum berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Rasid dan Habibi. Arum sudah menyediakan pistol dibalik tas yang di pegangnya.
Pelayan restoran tampak sedang mengamati mereka. Tatapan mereka tampak mengintai Habibi. Arum memperhatikan posisi mereka satu persatu. Saat mereka hampir mendekati pintu keluar mereka mulai berkumpul mendekati Arum, Habibi dan Rasid.
“Mau ke mana tuan. Pesan Anda belum kami antar.”
“Maaf kami gak jadi makan,” balas Rasid.
Walaupun Arum mampu menyerang mereka di bagian kepala dan perut namun tidak sedikit Arum mendapat pukulan balasan dari 4 orang tersebut. Cukup lama melawan, akhirnya pria itu tidak mampu berdiri saat tendangan kuat menghantam bagian rahang pria besar tersebut. Begitu juga dengan salah satu temannya. Ketika tendangan di rahang kiri membuat semburan darah keluar dari mulutnya hingga pria itu lunglai dan jatuh.
Arum masih menghadapi 2 orang lagi yang lebih kuat dari temannya. Demi mempersingkat waktu. Gak pakai basa basi Arum melompat dan melayangkan tendangannya kebagian kepala 2 orang tersebut. Tendangan yang amat keras. Membuat ke 2 orang itu jatuh ke lantai.
Rasid masih sibuk dengan lawan yang dihadapinya. Tampak beberapa orang yang pingsan jatuh ke lantai. Rasaid menguasai bela diri silat tampak lebih santai menghadapi musuhnya. Gerakannya yang langsung mematikan, seperti mematahkan leher lawan dengan mudah, mematikan tangan dan kaki lawan dengan tenang. Ia menghadapi beberapa orang lagi.
Habibi tampak ada perlawanan dengan orang yang mendekatinya. Sudah hampir satu tahun ia belajar bela diri dengan Arum. Ini merupakan kesempatannya menguji ilmu bela diri boxing kick yang didalamnya. Walaupun belum terlalu hebat namun lumayan untuk pertahanannya
Arum tetap di dekat Habibi. Salah seorang yang menyerang Habibi mengeluarkan pisau pemotong daging, sudah siap untuk menebas leher pria tersebut. Arum yang ada di samping Habibi, melawan orang tersebut. Kemampuan pria yang bertubuh langsing dan rendah itu sangat tangguh. Ia sangat mahir memainkan pisau di tangannya. Arum yang sudah lelah berusaha untuk tetap melawan. Sampai pisau tersebut menyobekkan tangan Arum. Pisau yang sangat tajam membuat tangan Arum mengeluarkan darah yang banyak. Suara pekikan Arum terdengar saat pisau itu kembali mengoyakkan lengannya.
“Arum,” Habibi Tampak mulai pucat.
__ADS_1
Rasid menendang pisau tersebut hingga terjatuh dengan sekali gerak. Ia berhasil mematahkan leher pria bertubuh kecil tersebut. Mereka berlari menuju mobil yang sudah di kepung. Beberapa orang memukul kaca mobil tersebut dengan sangat kerasnya. Sasa yang berada di dalam mobil tampak sangat ketakutan. Ia bahkan tidak menyalakan mesin mobil. Kaca tertutup rapat tanpa memakai AC. Sasa menundukkan kepalanya di atas setir mobil. Kakinya sangat gemetar bahkan ia tidak berani melihat ke sekelilingnya. Melihat mereka bertarung Sasa semakin takut. Orang-orang yang mengepung mobilnya membuat Sasa semakin menangis. Baju yang dipakainya sudah nyaris basah.
Dihadapan mereka sudah ada 10 orang lagi. Arum mengeluarkan pistol yang di simpannya di balik tas.
“Mundur.” Perintah gadis tersebut.
Namun orang tersebut tidak memundurkan langkahnya. Gadis tersebut menembakkan pistolnya ke kaki pria yang berjalan mendekatinya.
Sebuah mobil merah melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Melihat mobil yang semakin mendekat, membuat para penjahat tersebut lari. Ardi memberhentikan mobilnya tepat di depan Arum.
“Cepat masuk.” Teriak Ardi sambil membuka pintu mobil.
Saat pintu depan terbuka dengan cepat Habibi membuka pintu mobil bagian belakang dan masuk di susul Rasid. Arum duduk di depan.
“Di, bunyikan kelelson. Mbak Sasa di mobil satu lagi.”
Suara kelekson menyadarkan Sasa dan mengangkat kepalanya. Saat dilihatnya sudah tidak ada lagi yang didekat mobilnya. Rasid menghubungi Sasa dengan cepat di angkat gadis tersebut. “Cepat jalankan mobil Sa. Kami ada di mobil depan.”
Sasa menstater mobil tersebut dan mengikuti mobil merah di depannya.
Ardi melihat tangan Arum yang sudah bercucuran darah. Baju putihnya sudah basah dengan darah.
“Kita ke rumah sakit kampus pak.” Tanya Ardi Kepada Habibi yang membuat lamunan pria tersebut hilang. Dia baru ingat bahwa tangan gadis tersebut banyak mengeluarkan darah.
“Iya langsung.” Balas nya.
“Gak usah Di. Rumah sakit yang di luar. Klinik juga gak apa,” jawab Arum. “Ini hanya robek,cuman perlu di jahit.” Dilihatnya dari kaca spion Mobil Sasa di belakang dan beberapa mobil mengikuti mereka.
__ADS_1
“Kita belum aman.” Kalimat tersebut keluar dari mulut Arum.