Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 146


__ADS_3

Anita dan Jhoni terlihat sangat senang. Jhoni meminta Herman untuk mengatur makan malam bersama di sebuah restoran khusus untuk keluarga mereka saja. Anita meminta agar Herman mengirim orang untuk menjemput Siti serta Adek-adek Arumi dirumahnya.


***********


Mereka sudah Berada di sebuah restoran mewah. Sebelum mereka turun dari mobil pengawal Habibi bergerak cepat. Mengecek kondisi restoran tersebut. Setelah kondisi restoran tersebut di pastikan aman mereka turun dari mobil.


Arum duduk di kursi sebelah kemudi Habibi. Pria tersebut memegang tangannya seakan tidak ingin melepaskan genggaman tangan tersebut. Mata bening Arum melihat pria yang sebentar lagi jadi suaminya


“Ada apa mas?”


“Besok kita gak ketemu. Ini hari terakhir kita jumpa. Mas mau ngabisin malam ini sama adek.”


“Emangnya mau ke mana?” Tanya gadis tersebut.


“Kemana aja.” Jawab pria disampingnya. “Mas gak bisa bayangin kangennya gimana. Adek kangen gak sama mas kalau nanti kita gak ketemu beberapa hari.”


“Enggak,” jawab gadis tersebut.


“Apa adek gak kangen. Apa adek gak cinta sama mas?” Tanya nya lagi.


“Gak.”


“Ya Allah dek sakit banget.” Sambil memegang dadanya. “Gimana gak sakit. Orang yang mau dinikahi bilang gak sayang, gak cinta. Tega amat sih dek. 6 hari lagi kita ahkad nikah dek.”


Habibi tampak frustasi. Apa lagi dia memang gak pernah menanyakan tentang perasaan gadis tersebut dan saat ia tahu rasanya sakit amat. Wajahnya tampak sedih. Ia menundukkan kepalanya.


Satu ciuman mendarat di pipinya. Membuat ia mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk.


“Gak salah lagi. Cinta banget.” Ucap gadis tersebut dengan memamerkan senyumnya yang begitu imut dengan memamerkan deretan gigi putihnya.


“Ya Allah dek. Kejam banger ngerjainnya.” Ucap pria tersebut. Dan kemudian menarik tangan gadis tersebut agar mendekat dengannya yang mendapat dorongan kepala dari gadis di sebelahnya.


“Ada mami mas.”


Habibi memutar kepalanya kejendela yang berada disebelahnya. Dilihatnya Anita menundukkan kepalanya ke jendela.


“Nanti ya de. Jangan kabur.” Ucap pria itu kemudian membuka kaca mobilnya. Arum membuka pintu mobil dan turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


“Ada apa mi.”


“Udah cepatan turun.”


“Iya mi.” Sambil menaikkan kaca mobilnya.


Mereka menikmati makanan malam dengan penuh kebahagiaan. Restoran yang mewah menyajikan hidangan khas Sunda tersebut hanya di isi oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Canda tawa penuh kehangatan terlihat jelas di wajah mereka. Arum tidak ada henti-hentinya berbica dengan Tiar dan juga Rizaldi. Begitu banyak yang mereka bahas bertiga.


Setelah selesai makan. Mereka kembali pulang.


Arum duduk di sebelah Habibi. Ia meminta izin terlebih dahulu untuk jalan-jalan bersama Arum. Habibi mengendarai mobilnya memasuki wilayah wisata danau buatan. Mereka turun dari dalam mobil. Danau buatan tersebut cukup ramai saat malam. Di isi muda mudi dan juga Keluarga yang sedang membawa anak-anak mereka bermain.


Mereka duduk di kursi yang mengarah ke danau. Danau yang memiliki air yang tenang, lampu taman yang memberikan warna kekuningan serta bunga-bunga yang masih terlihat indah walaupun sudah malam.


“Dek.”


“Iya.” Arum masih memandang ke arah danau tersebut.


“Mau honeymoon ke mana?”


Arum melihat wajah calon suaminya. Ia menatap wajah tersebut cukup lama. Beberapa hari kedepan mereka tidak bertemu. Ia pasti sangat merindukan pria yang ada didepannya. Yang selalu membuat ia tersenyum. Habibi yang hanya mengenakan baju kemeja tanpa dasi terlihat lebih santai dan juga tampak sangat keren di mata Arum.


“Adek pengen ke mana? Tempat yang belum pernah adek datangi.”


Gadis tersebut tampak sedang berfikir. Banyak sekali tempat yang belum pernah di kunjunginya. Hampir semua tempat belum pernah Arum datangi.


“Yang buat paling penasaran?”


Di Indonesia yang terkenal dengan keindahan alamnya, Bali dan Sumatera barat. Arum sering lihat video youtube tentang dua daerah tersebut. Dan yang paling buat Arum penasaran sama Sumatra barat.


“Amerika? Kanada? Prancis? Ingris? Belanda? Jepang? Korea? Cina?” tanya Habibi seperti petasan tak putus-putus.


Arum menggelengkan kepalanya. “Besok-besok aja. Kita cari yang dekat.”


Habibi tersenyum dan kemudian mengusap puncak kepala gadis tersebut.


“Arum lihat di Ig Raffi Ahmad dan Nagita. Mereka berwisata ke Sumatra barat. Beneran indah banget. Tapi Arum kuliah. Jadi gak mungkin kita udah jauh-jauh kesana. Tapi cuma sebentar.”

__ADS_1


“Kita cari jadwal pas adek libur.”


Arum tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Mereka tidak banyak berbicara. Mereka saling memandang satu sama lain. Seakan waktu 5 hari itu begitu panjang untuk mereka.


“Jadi selama di pingit mas gak ke kantor?”


“Kekantorlah sayang. Lagian ngapain mas cuti lama-lama sebelum nikah. Mending mas selesaikan kerjaan. Biar gak ada gangguan saat nanti setelah ahkad nikah.” Ucapnya.


Dilihatnya sudah jam 10. Mereka memutuskan untuk pulang. Di dalam mobil Habibi selalu menggenggam tangan gadis disebelahnya. Ia mencium punggung tangan tersebut berkali-kali. Mobil yang di kendarai nya sudah masuk ke halaman rumah Arum. Lampu yang redup di dekat parkiran mobil tersebut dan kaca film yang tingkat kegelapannya mencapai 80 % sudah di jamin orang dari luar tidak akan melihat apa yang mereka lakukan.


Habibi menarik tangannya. Di saat mereka sudah semakin dekat. Ia ******* bibir mungil tersebut. ******* yang awalnya lembut, semakin lama semakin memanas. Ia seakan tidak ingin melepaskan pautan bibir mereka. Ia semakin menguasai ruang dalam mulut tersebut. Ia baru melepaskan nya setelah didengarnya, gadis tersebut semakin sulit untuk bernafas karena oksigen yang ada di dalam mulut gadis tersebut di kuasainya secara paksa. Ia melepaskan bibirnya dari bibir gadis tersebut. Tampak bibir Arum yang memerah dan sedikit membengkak karena lumatkan yang diberikannya.


Ia tersenyum penuh kepuasan saat di lihatnya wajah gadis tersebut yang tampak memerah.


“Dah masuk lagi. Mas gak turun ya.” Ucap nya.


Arum menganggukkan kepalanya. Tampak dadanya masih turun naik. Ia masih mengatur nafasnya. Habibi kembali menarik tangan nya dan mencium bibir tersebut dengan sangat buasnya. Terasa cubitan kecil dipinggangnya membuat ia menghentikan ciuman tersebut.


“Kenapa sayang?”


“Bibir Arum sakit.” Sambil memegang bibirnya.


Pria tersebut tersenyum. “Sengaja. Biar rasanya gak hilang sampai 5 hari kedelapan.” Ucap pria tersebut.


Arum mendekatkan bibir nya. Ia menempelkan bibirnya dibibir calon suaminya dan kemudian mengigit bibir tersebut. Membuat pria tersebut sedikit berteriak.


“Kenapa di gigit sih dek?” Ucap pria tersebutsambil memegang bibirnya.


“Sengaja biar rasanya gak hilang sampai 5 hari kedelapan.” Ucap gadis tersebut, yang bibirnya sudah tampak memerah dan bengkak.


Habibi ketawa mendengar ucapan gadis tersebut. “Dah berani ya dek. Kalau gitu, besok siap ya untuk malam pertama.” Ucapnya yang membuat wajah gadis tersebut semakin memerah.


Dengan cepat ia turun dari mobil. Habibi menurunkan kaca mobilnya. “I love you sayang.”


Gadis tersebut tampak tersenyum. “I love you to.” Jawabnya.

__ADS_1


Mobil Habibi meninggalkan rumah tersebut dan diikuti mobil pengawalnya dari belakang.


************


__ADS_2