
Setelah sampai di kantor, Arum pamit untuk ke kampus, acara perkenalan akademik kampus di mulai jam 8 pagi.
“Mas, Arum langsung ke kampus.”
“Ini,” Habibi memberikan kunci mobil.
“Arum pakai taksi aja mas.”
“Bawa mobil aja. Nanti kalau sudah selesai langsung ke kantor.”
“Mas.”
“Udah jangan protes.”
Arum mengambil kunci tersebut. “Mas Arum berangkat ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Arum melajukan mobilnya di jalanan padat. Akhirnya ia mampu sampai 20 menit sebelum acara di mulai. Suasana kampus Tampak ramai walaupun saat ini masih libur semester, tidak mengurangi kesibukan di kampus. Arum yang memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Keluar dari mobil. Tampak Ardi yang duduk di depan kampus yang tidak jauh dari parkiran.
“Buset dah, tuh cewek tunggangannya Alphard. Mana cantik banget lagi.” Kata Doni.
Ardi memandang kearah yang sedang disebut temannya.
“Don, tuh cewek senyum ke kita Don.” Kata Ari.
“Gua nampak kali RI, tu cewek dari tadi lihatin gue.” Doni mulai merapikan rambutnya yang tidak kusut dengan jarinya.
“Lihat ke gua kali.” Balas Ari. Ari memandang wajahnya dari pantulan hp di tangannya.
“Kalian ngapain? Siapa tau cewek itu lihat aku.” Kata Ardi.
“Mana mungkin Di, respon lu ke cewek gak asik. Ingat Di wanita itu ingin di mengerti.”
Ardi mengangkat bahunya. Arum berjalan semakin mendekat ke arah mereka. Dua teman Ardi sudah tampak dengan senyum lebarnya.
“Hai....” Arum melambaikan tangannya.
“Hai juga,” jawab Doni dan Ari dengan cepat merespon sapaan Arum. Doni menjulurkan tangannya, dengan sopan Arum menyatukan telap tangannya dan meletakkan ke dada.
“Arumi.”
Ari selanjutnya memperkenalkan dirinya. Ari dan Doni yang berada di kanan kiri Ardi menyikut sahabatnya yang tampak sangat cuek.
“Cepat sebut nama lu,” Ari mulai gerem saat melihat respon Ardi yang terlihat cuek dan sombong.
“Ngapain,” balas Ardi.
“Lo sombong amat ya.” Doni mulai berdecak.
Arum memajukan bibirnya menundukkan kepalanya. Kalau gak mikir-mikir ada teman Ardi, sudah pasti dia akan menendang kaki sahabatnya itu. Namun saat ini posisinya selaku mahasiswa baru. Harus sopan terhadap senior.
Melihat Arum yang terlihat merajuk, Ardi tertawa. “Udah masuk sana. Atau mau di antarin?”
“Gak usah,” Arum memajukan bibirnya dua centi ke depan.
Ardi senyum. “Beneran gak usah?”
Arum melihat Ardi dengan cemberut.
__ADS_1
“Udah yuk aku antar. Udah jangan cemberut. Entar di kirain, aku udah tindas mahasiswa baru. Ingat, panggil Abang. Di sini jangan sok gede kamu.” Terlihat senyum tipis di wajah ganteng Ardi.
“Iya bang.”
Ardi berjalan di depan Arum. Arum mengikutinya. Dua sahabat itu masih diam di tempatnya, dengan mulut masih terbuka. “Sejak kapan tuh anak bisa ngomong manis sama cewek?”
“Gak tau gue,” balas Ari yang kemudian mengikuti langkah sahabatnya.
Ardi terkenal cowok yang super cool dan bahkan sangking coolnya, mahasiswa kedokteran baik senior dan seangkatannya tidak mampu mencairkan pria tersebut.
“Pantas dia PD amat.” Doni yang masih mengomel sejak tadi. Ari menganggukkan kepalanya.
Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah ruangan yang besar. Ruang serbaguna yang di pakai untuk menyambut kehadiran mahasiswa baru.
“Udah masuk.”
“Iya Di.”
“Ingat, Abang.” Penekanan di kata Abang.
“Iya bang. Aku masuk dulu ya bang.”
Ardi menganggukkan kepala.
********
Arum yang memakai baju putih rok hitam, jilbab hitam mulai mencari tempat duduk. Ia melihat kursi kosong di samping gadis yang memiliki jilbab besar. Ia Duduk di sebelah gadis tersebut. Mereka mulai berkenalan dan ternyata mereka satu kelas.
“Nama kamu siapa,” tanya gadis tersebut.
“Arumi.”
“Kamu.”
Mereka bercerita ringan dan mengarah ke sebuah perkenalan. Tak lama acara di mulai. 3 hari pembekalan mahasiswa baru dengan berbagai agenda yang sudah di susun kampus.
Mereka istirahat jam 12 dan dilanjutkan lagi jam 1.30 hingga jam 5 sore.
********
Arum keluar dari ruangan ternyata sudah di tunggu Ardi. Ardi melambangkan tangan ketika Arum melihat kearahnya.
“Di, eh bang.”
“Masih ada satu setengah jam untuk istirahat dan makan. Kita makan di luar aja ya. Di dalam kampus pasti rame.”
“Iya boleh Arum juga dah lapar.” Sambil memegang perutnya.
“Tapi tunggu bang, Arum mau ngajak temen Arum.” Arum mengandeng tangan Naura untuk ikut dengannya.
“Kita mau ke mana Rum?”
“Makan. O...” mulut Naura tampak membulat.
Mereka jalan bertiga. Namun langkah kaki mereka terhenti saat mendengar ada yang memanggil Ardi. Ardi melihat ke belakang, dua sahabatnya berlari mengejar Ardi.
“Lu mau ke mana?” Tanya Doni.
“Makan.” Ardi menjawab dengan cetus.
__ADS_1
“Kita ikut ya,” balas Doni.
“Iya, lapar ini.” Ari ikut menimpali.
“Ayk bang, kita makan sama.” Balas Arum dengan senyum mengembang di wajah 2 pria tersebut.
“Bang, Arum sama Naura pakai mobil Arum.”
Ardi menganggukkan kepala. Mereka keluar dari areal kampus. Ardi memberikan tanda lampu sen, saat mereka berada di restoran Padang yang tidak jauh dari kampus mereka. Arum ikut berhenti. Mereka turun dari mobil.
“Kita makan enak bro. Di teraktir ini sepertinya.” Balas Doni.
Ardi memandang ke arah dua sahabatnya. Mereka berjalan ke dalam restoran dan mengambil meja yang muat untuk 5 orang.
“Di sini restoran tempat abang sering bungkuskan Kamu.” Kata Ardi.
Arum melebarkan matanya. Mengingat enaknya masakan di restoran ini. Melihat para pelayan mulai mengangkat menu. Mata Arum semakin melebar. Perutnya yang terasa langsung kosong dan mereka memesan minuman. Mereka mulai menikmati santap yang ada di depannya. Begitu juga Naura yang belum tahu dengan mereka dan tidak banyak bicara.
Pesan masuk di notifikasi wa Arum. Arum membuka pesan tersebut yang ternyata dari Habibi.
Habibi: Assalamu’alaikum dek.
Arumi: Wa’alaikumsalam mas.
Habibi: lagi ngapain?
Arumi: lagi makan. Mas lagi ngapain? Udah makan?
Habibi: lagi mikirin kamu dek. Ini sedang makan.
Arumi: mas, Arum selesai acara jam 5.
Habibi: iya gak apa, mas nanti di antar Rasid.
Arumi: mobilnya sama Arum🙁
Habibi: mobil kantor banyak. 😂😂😂 Banyak-banyak ya makanya. Biar cepat gedek.
😛
Arumi: gak ah nanti obesitas. Dah ya Arum masih selesaikan makan.
Habibi: Iya sayang love you. Muuuuuaaaaaa.
Arumi: 🤦🏃🏃🏃🏃🏃🏃😝
Ardi memperhatikan Arumi yang makan sambil chat dan senyum-senyum. “Cheat sama siapa?”
“Teman.”
Setelah selesai makan Ardi mau bayar namun Arumi melangkah.
“Arum yang bayar.”
“Gak usah, Abang yang bayar.”
“Arum dah janji teraktir.”
“Besok-besok aja kamu bayar. Sekarang aku yang akan bayar.”
__ADS_1
“Gak mau. Arum yang bayar.” Setelah negosiasi akhirnya Arum yang bayar.
“Gitu ya jadi orang kaya. Untuk bayar aja rebutan.” celetuk Doni. Ari menganggukkan kepalanya seakan dia berkata setuju.