Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 351


__ADS_3


Habibi memandang pria yang memakai jas berwarna hitam. Pria yang saat ini duduk di ruang tunggu ditempat pendaftaran pasien.


Pria itu berdiri ketika melihat Habibi. Senyum merekah mengembang dari bibir pria tersebut. "Apa kabar Pak Habibi,” ucap David.


Habibi menganggukkan kepalanya, “Alhamdulillah saya sangat baik,” jawabnya.


“Saya sudah mempelajari masalah yang Pak Habibi alami. Sebenarnya tanpa memakai jasa saya masalah ini sudah sah secara hukum,” ucap David yang tersenyum memandangnya.


Habibi sedikit menganggukkan kepalanya. “Kami hanya ingin memastikan tidak ada masalah yang terjadi. Namun saya juga tidak berkeinginan agar Rangga tidak mengenal siapa wanita yang telah melahirkannya. Hanya saja mungkin waktunya tidak sekarang. Rangga itu masih sangat kecil, dia belum sanggup untuk mengetahui hal ini,” jelasnya.


David tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Habibi. David tahu bahwa Habibi sangat tulus menyayangi anak tersebut. “Saya selalu mendengar orang mengatakan Pak Habibi itu adalah pengusaha yang terkenal sangat baik, dan sekarang saya mendengarnya dengan telinga saya sendiri,” ucapnya.


Habibi hanya sedikit tersenyum saat mendengar pujian pria tersebut. “Sejak lahir Rangga sudah berada di sini dan kami yang membesarkannya secara bersama-sama. Selama ini Kami membawa Rangga tidur di rumah 2 hari, di rumah sakit 2 hari. Saya tidak membawa Rangga tinggal menetap di rumah saya, bukan karena saya tidak menyayanginya. Hanya saja, saya tidak ingin Putri kecil saya merasa tidak suka. Karena itu saya dan istri saya memutuskan untuk membawa Rangga secara perlahan-lahan, dan saat ini Rangga sudah tinggal di rumah kami,” jelas Habibi.


David tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Lagi pula, Rangga akan lebih terjamin bila dia berada bersama Pak Habibi. Apalagi riwayat keluarganya yang memang sangat tidak baik,” ucapnya.


“Apa surat-surat yang saya minta semalam sudah disiapkan?" Tanya Habibi.


“Sesuai yang bapak inginkan semuanya sudah saya siapkan, kita akan menemui wanita itu,” ucap David.


“Baiklah kita langsung menuju ke kamar pasien,” ucap Habibi. Kedua pria itu berjalan bersama menuju kamar rawat Yuli.


Habibi dan David masuk ke dalam kamar pasien, ia memandang Yuli yang duduk di atas tempat tidur.


Yuri memandang kearah pria yang masuk ke dalam ruangannya. Dadanya berdegup dengan sangat hebatnya ketika melihat Habibi yang datang bersama dengan seorang laki-laki yang dia tidak mengetahui orang itu siapa.


"Selamat pagi Ibu Yulia,” ucap David menyapanya.


Yuli menganggukkan kepalanya, “pagi,” jawabnya.


“Nama saya David, Saya pengacaranya Pak Habibi." David memperkenalkan diri kepada Yulia.


Yulia diam memandang pria yang memakai stelan jas lengkap dengan dasi tersebut. Yuli Menganggukkan kepalanya.


David menyampaikan tujuannya datang menemui Yulia.


Yuliana diam saat mendengarkan penjelasan pria itu. Yuli menganggukkan kepalanya setelah pria itu selesai menjelaskan tujuannya.

__ADS_1


"Segala aturan yang telah dibuat saya sangat setuju,” ucap Yuli tanpa ada penolakan.


“Apa ada yang ingin anda minta ditambah atau dikurangi,” tanya David.


Yuli menggelengkan kepalanya, “saya tidak meminta agar ditambah atau dikurangi, bagi saya poin-poin itu semua sudah cukup." Yuli menandatangani surat perjanjian ditangannya. “Saya tidak akan datang ke sini lagi. Saya hanya meminta agar Pak Habibi benar-benar menjaga Rangga,” ucapnya yang meneteskan air mata.



“Saya akan menjaganya. Selama ini kami selalu menjaga dan membesarkannya, kami tidak pernah membedakan antara Rangga dan anak saya." Habibi menjawab dengan sangat tegas.


“Saya tahu Pak Habibi, saya juga sangat bangga saat melihat dia ternyata begitu sangat cerdas. Sifatnya, sikapnya, seperti orang dewasa, begitu juga dari cara dia berbicara,” ucap Yuli yang selalu memperhatikan Rangga secara diam-diam.


“Saat Rangga belum menetap di rumah saya, Rangga berada di rumah sakit ini. Istri saya meletakkan kamarnya di depan meja piket perawat, agar perawat bisa memantaunya setiap saat. Kami akan membawa Rangga pulang ke rumah untuk beberapa hari, dan kemudian Rangga akan kembali disini, karena Rangga lahir di sini. Di sini Rangga begitu banyak memiliki keluarga. Semuanya mengenalinya, bahkan dia bergaul dengan orang-orang dewasa seperti dokter, perawat, bidan, dan seluruh karyawan rumah sakit. Karena alasan itu maka gaya bicaranya seperti orang besar. Begitu juga dengan sikapnya. Rangga terlihat begitu sangat dewasa, namun ketahuilah Rangga itu anak berusia 5 tahun yang begitu sangat rapuh. Rangga tidak akan sanggup menerima kenyataan ini di usianya yang begitu sangat kecil,” ucap Habibi yang berusaha memberikan pengertian kepada Yuli.


Yuli Menganggukkan kepalanya. Yuli hanya menangis saat mendengar ucapan Habibi.


“Permasalahan yang kamu alami sudah saya sampaikan seluruhnya kepada David. David nanti akan membantu menyelesaikan semuanya,” ucap Habibi.


Yuli sudah tidak mampu menahan tangisnya. Tangisnya pecah saat mendengar ucapan Habibi. “Terima kasih Pak Habibi, Terima kasih,” ucapnya yang menakupkan Kedua telapak tangannya didadanya.


“Saya tidak bisa memberikan kamu uang cash, berhubung kamu akan pergi keluar dari kota ini dengan menggunakan transportasi umum. Ini buku tabungan dan juga ATM. Buku tabungan ini saya buat atas nama kamu. Kode PIN ATM ini tanggal lahir Rangga. Saya berharap kamu bisa memakai uang ini untuk membuka usaha disaat kamu sudah berada di kampung kamu nanti,” ucapnya yang kemudian memberikan uang untuk ongkos transportasi.


"Kamu harus menerimanya, karena saya ingin kamu bisa memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang sekarang. Biaya pengobatan kamu di sini tidak usah kamu bayar, di sini saya yang menggratiskan,” jelasnya.


Yuli tidak mampu menahan tangisnya. Yuli memegang ATM dan buku tabungan di tangannya. Di bukanya lembar buku berukuran kecil tersebut. Ia melihat namanya yang tertulis di buku tabungan itu. nominal yang ada di dalam buku tabungannya. Mata Yuli terbuka lebar saat melihat berapa nominal yang diberikan oleh pria tersebut. Yuli memandang Habibi, tatapan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang diberikan oleh orang itu. Orang baik itu bukan hanya menyelamatkan anaknya, tapi juga begitu sangat peduli kepadanya. “Kenapa bapak berikan ini untuk saya,” ucapnya.


“Saya ingin kamu sukses sehingga bila nanti Rangga berjumpa dengan kamu, dia tidak malu dan tidak sedih melihat kondisi kamu,” ucap Habibi dengan sangat tulus.


Yuli hanya diam sambil menangis saat mendengar ucapan pria itu.


“Saya akan memanggil Rangga untuk datang ke sini,” ucap Habibi ketika Yuli sudah mampu meredam suara tangisnya.


Yuli menganggukkan kepalanya, dia sudah sangat tidak sabar untuk berjumpa dengan putranya.


Habibi meminta kepada perawat untuk memanggil istrinya di ruangannya, sedangkan dia duduk bersama pengacaranya sambil menunggu istrinya.


Arum masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan putra dan juga putrinya.


Rangka berjalan dengan gayanya yang begitu sangat berwibawa. Setiap orang yang melihatnya begitu sangat gemas melihat sikapnya.

__ADS_1


Air mata Yuli menetes ketika memandang Rangga yang berjalan ke arahnya.


Arum memegang tangan Rangga dan membawa Rangga dihadapan Yuli.


Rangga memandang Arum seakan anak itu ingin bertanya ini siapa. Namun Rangga tidak mengeluarkan kalimat apapun dia hanya diam.


"Hai Rangga,” ucap Yuli menyapanya.


Rangga memandang Yuli. Rangga menganggukkan kepalanya.


“Apa Tante boleh memeluk Rangga sebentar saja,” ucap Yuli yang langsung keinti topik utamanya. Yuli sudah tidak sabar ingin memeluk Rangga.


Rangga diam memandangnya. Rangga memandang Arum yang berdiri disebelahnya.


Arumi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Tante ini akan pulang ke kampungnya. Tante ini memiliki anak laki-laki dan dia begitu sangat merindukan anaknya itu. Melihat Rangga membuat Tante ini sangat merindukan anaknya, jadi tante ini berharap bisa lepas sedikit rasa rindunya bila bisa memeluk Rangga,” ucap Arumi yang sedikit berbisik di telinga Rangga.


Rangga tersenyum memandangnya. “Iya Mimi,” ucapnya.


“Boleh Tante,” jawab Rangga.


Yuli begitu sangat senang mendengar jawaban Rangga. Yuli menangis dan memeluknya. Suara tangisnya tidak mampu lagi diredamnya. Bisa memeluk Rangga seperti ini, bagaikan mimpi untuknya. Yuli tidak mengucapkan apa-apa, dia hanya menangis memeluk tubuh Rangga. Cukup lama Yuli memeluknya dan kemudian melepaskannya.


“Tante akan kembali ke kampung tante, terima kasih,” ucapnya.


“Iya Tante,” jawab Rangga. “Hati-hatilah jaga diri baik-baik,” pesannya.


Air mata Yuli tidak ada hentinya menangis. Ucapan Rangga begitu sangat membuat dia tidak mampu meredam suara tangisnya.


“Yuli kemudian berdiri. "Terima kasih ya Rangga,” ucapnya.


Rangga menganggukkan kepalanya.


"Dokter Arumi, pak Habibi, pak David. Saya permisi. Terimakasih," ucapnya.


"Iya, hati-hati mbak," ucap Arum yang tersenyum.


Yuli mengusap air matanya dan berjalan menuju pintu keluar dari kamarnya. Tidak ada barang yang dibawanya. Yuli keluar dari rumah sakit ini tanpa membawa barang apapun, karena dia masuk ke sini tanpa membawa apa-apa. Surat, buku tabungan dan ATM dimasukkannya ke dalam saku celana jeans yang dipakainya. Berulang kali Yuli memandang ke belakang. Memandang wajah Rangga.


Yuli melangkahkan kakinya meninggalkan kamar perawatannya. Yuli merasa begitu sangat sedih saat meninggalkan Rangga. Rasa sedih ini kembali mengingatkannya pada saat peristiwa 5 tahun yang lalu. Di mana dia menangis saat akan melangkahkan kaki untuk meninggalkan Rangga di rumah sakit ini. Saat ini, kepedihan itu kembali dirasakannya. Rasa ingin memiliki namun tidak bisa dimilikinya.

__ADS_1


***


__ADS_2