Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 320


__ADS_3

Baik Pak jawab Santi yang memutuskan sambungan telepon Tersebut. Namun tidak lama, sekretarisnya kembali menghubungi.


"Ada apa?" tanya Imam saat mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Mau pakai pohon uang gak pak untuk uang hantaran?" ucap Santi.


"Pohon uang," ucap Imam.


"Iya pak biar terlihat keren pakai pohon uang. Daun uangnya ada yang rupiah dan juga dolar," ucap Santi.


"Saya mau kasih antaran Rp.500.000.000 juta," ucapnya.


Imam tidak mengetahui bagaimana terkejutnya sekretarisnya itu saat mendengar uang hantaranya. "Nanti di luar dari kotak pohonnya akan ditulis 500.000.000 juta pak," ucapnya.


"Apa itu pohon uang nominalnya cukup 500.000.000 juta?


Bila kurang nanti saya bisa malu dengan keluarga calon istri saya," ucap Imam.


"Pohon uangnya cuman sebagai simbolis aja pak. Biar terlihat keren aja, dan uangnya juga uang mainan Semua," ucap Santi menjelaskan.


"Uang mainan?" ucap Imam yang membeo.


Santi tertawa kecil saat mendengar ucapannya. "Kalau uang asli bakalan dirampok orang pak," ucapnya.


"Oh iya juga ya," ucap Imam.


"Ya sudah, pohon uangnya juga," ucapnya.


"Mau yang uang dolar atau rupiah pak?" tanya Santy.


"Dolar," jawab Imam.


"Pak untuk ukuran baju ?" tanya Santi.


Imam semakin prustasi saat mendengar ucapan sekretarisnya itu. "Apa itu penting ucapnya yang sedikit mengeraskan suaranya. Imam terlihat begitu sangat frustasi hingga mengacak-acak rambutnya.


"Iya Pak untuk hantaran itu di bawa. Mulai dari pakaian harian, pakaian jalan dan pakaian tidur, size nya apa pak?" ucap santi.


"Badannya langsing, tinggi. M saja," ucap imam yang menebak-nebak.

__ADS_1


"Sepatu, dan sandal pak?"


"Saya tidak tau, kamu ambil saja size 39-40," ucapnya.


"Perlengkapan mandi?"


"Terserah kamu," ucap Imam.


"makeup nya?" Ambil prodak yang bagus jawab imam.


"skincare pak?"


"Kamu pilih yang bagus, dengan kualitas terbaik. Saya tidak mau wajah istrinya saya nanti rusak," ucap imam.


"Oke pak, untuk bed cover, kue dan cemilan, alat ibadah, tas, dan perhiasan, saya bisa handel sendiri," ucap Santi yang membuat imam lega.


"Tapi pak untuk underwear nya. ukuran nya pak," ucap Santi.


Mata Imam terbuka lebar saat mendengar ucapan sekretarisnya itu.


"Maksud kamu?" ucapnya.


"Apa itu juga ada?" tanya nya.


"iya pak," jawab Santy.


Imam benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan sekretarisnya. Mana mungkin dia tahu ukuran pakaian dalam May Sarah.


"Saya tidak tau, kamu atur saya," Ucapnya.


"baik pak. Tubuhnya langsing dan tinggi ya pak, dadanya besar, kecil atau sedang pak?" ucap Santy.


"Santi!!!! jangan buat saya emosi. Saya tidak pernah memperhatikan itu," Ucapnya yang sudah mulai kehilangan kesabaran.


"Iya pak, maaf kalau begitu saya ambil yang no 36 aja," ucapnya.


"Terserah kamu," Ucapnya dengan nada yang sangat lemah.


"Baik pak," jawab Santi.

__ADS_1


kamu langsung minta Robby untuk bersiap-siap ikut saya ke Solo Saya butuh Robby untuk menjadi juru bicara saya nanti ucapnya.


"Iya pak," jawab Santi.


Eka yang sejak tadi memperhatikan abangnya hanya senyum-senyum saat melihat kepanikan Abang kandungnya tersebut.


"Barang-barang kamu gimana dek tanya Imam memandang Eka.


"Eka sudah minta bik Surti untuk siapin," ucap Eka.


Imam mencoba menghubungi nomor May Sarah, namun tidak dapat dihubungi.


***


Setelah semuanya selesai, barang-barang untuk hantaran juga sudah siap saat akan berangkat ke solo, imam baru teringat bahwa dia belum membeli cincin. Imam membawa Eka untuk ke toko perhiasan membeli cincin tunangan nya. setelah semuanya siap mereka meninggalkan Jakarta.


Imam duduk di belakang kursi kemudi. Imam tidak bisa meminta sopir nya untuk mengemudi dengan kecepatan tinggi mengingat Rombongannya akan tinggal di


belakang. Pada akhirnya Imam pasra untuk jalan santai berhubung ia bersama keluarganya.


Imam yang duduk di belakang kursi kemudi begitu sangat risau ketika membayangkan Mey sarah akan dilamar oleh seorang


"Bagaimana bila May menerima lamaran orang itu," pikirnya.


Imam mencoba menghubungi mau Sarah, namun tidak ada satupun panggilan yang diangkat oleh May..


Mereka hanya berhenti sebentar untuk makan dan kemudian melanjutkan perjalanannya.


"Saat Imam Sampai di rumah may Sarah ia melihat rombongan yang melamar Mau sarah.


Namun rombongan itu pergi saat melihatmu datang.


iman tersenyuman lebar saat mengetahui May menolak pria tersebut.


***


jangan lupa like komen dan votenya ya. terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏


author usahakan up lagi ya.

__ADS_1


__ADS_2