Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 217


__ADS_3

Habibi berjalan keluar gedung hotel mewah tempat di mana ia bertemu dengan rekan bisnisnya. Yang di dampingi Rasid di sebelah nya, pengawal pribadi nya berada di posisi kiri dan kanan dan juga di belakang nya. para pengawal pribadinya begitu sangat waspada dan sangat memperhatikan kondisi.


Habibi sangat terkejut, saat Rio menutupi badannya. suara tembakan tersebut terdengar begitu keras. bukan hanya satu kali pria yang berada di atas motor dengan mengenakan helm yang menutupi seluruh wajahnya menbak Rio. pria itu menembak sebanyak tiga kali tembakan. setelah menembak Rio orang tersebut langsung melaju kan motor Kawasaki ninja berwarna hijau.


Heri menembak pelaku penembakan tersebut, tembakan tersebut pas mengenai punggung pelaku. namun motor tersebut tetap melaju dengan sangat kencang.


Habibi masih memegang Rio yang berdiri di depan nya. Mata pria itu masih terbuka dan sudah tampak begitu merah hingga tubuhnya jatuh ke belakang.


namun Hery dan rekannya yang lain dengan cepat menangkap tubuh kekar pria tersebut.


salah seorang dari pengawal tersebut dengan cepat mengemudikan mobilnya langsung di mana tempat Rio berada.


mereka dengan cepat menaikan tekanan nya ke dalam mobil.


" Apa Bapak mau ikut?" tanya Heri.


"Iya saya akan ikuti, ucap Habibi. Ia harus benar-benar meyakini bahwa pengawal nya selamat.


2 mobil hitam tersebut, melaju dengan kecepatan tinggi guna bisa sampai ke kerumah sakit terdekat. Namun Habibi meminta agar di bawah ke rumah sakit maminya.


****


2 orang perawat sudah menunggu di pintu depan, menunggu mobil Habibi Sampai ke rumah sakit. begitu mobil sampai. kedua perawat laki-laki tersebut memindahkan Rio ke atas tempat tidur. dan berlari ke dalam rumah sakit.


dokter sepesialis bedah yang langsung di tangani Wahyudi dan juga seorang sepesialis jantung dan beberapa rekan medis yang lain nya sudah menunggu di ruang operasi.


Habibi duduk di depan ruangan operasi.


" Heri," Ucapnya.


" Ia pak," jawab Heri.


" Tolong masalah ini jangan sampai di ketahui istri saya. istri saya baru melahirkan, saya tidak ingin ia banyak pikiran atau terkejut saat mendengar berita ini," Ucapnya


" Saya tau pak, saya pastikan ibu Arumi tidak mengetahui nya " ucap Heri.


" Kamu sudah memberi tau Maya?" tanya nya.


" Saya akan meminta Aldo untuk menjemput Maya pak," jawab Heri.


Habibi mengangukan Kepala. Ia kemudian memijat-mijat pelepis keningnya.


"do, jemput Maya di rumah nya. dan jangan katakan apa-apa. bawa saja langsung ke sini. ucap Heri memberi printah kepada rekannya.


" Baik mas," ucap Aldo. pria bertubuh besar dan tinggi tersebut langsung meninggalkan rumah sakit tersebut.

__ADS_1


Heri duduk di kursi tunggu di depan pintu ruangan operasi tersebut. Ia duduk dengan bersidekap dada, Ia terlihat sangat santai tanpa ada kecemasan sama sekali. namun siapa yang tau perasaan nya saat ini , mungkin ia lah orang yang sangat mencemaskan sahabat nya. Ia begitu ketakutan saat membayangkan hal terburuk yang mungkin bisa saja terjadi. namun Ia menepis pikiran buruk nya. " Lo tu he bat Yo kalau kucing punya 7 nyawa serap, lu punya 6 nyawa serap. gue yakin, nyawa serap lu masih ada sisa banyak," ucapnya dalam hati.


suara kaki seseorang terdegar di lorong rumah sakit tersebut. suara kaki yang berlari semakin dekat.


Maya berdiri pas di depan Pintu rumah sakit. Saat ia menanyakan keberadaan Rio, Aldo hanya menunjukkan nya arah keberadaan calon suami nya. Ia berlari secepat mungkin walaupun kaki nya terasa amat berat.suara kakinya terdegar di lorong rumah sakit tersebut. Namun tempat yang di tuju Maya jalan Buntuh dan tempat itu berakhir di depan ruang operasi.


Maya melihat orang-orang yang sedang duduk di ruangan tersebut, semua wajah yang ada di sana begitu di kenalnya. Namun Ia tidak menemukan wajah calon suami nya


" Mas Rio dimana?" tanya Maya kepada Heri.


Pria itu hanya diam. namun matanya tertuju pada sebuah pintu yang tertutup rapat.


" Mas , di mana mas Rio," Maya kembali mengulang pertanyaan nya. ia tau pintu ruang operasi itu tertutup rapat dan lampu sedang menyala. dan berarti ada orang di dalam sana. namun ia berharap orang itu bukanlah calon suaminya.


" Ada kita tunggu aja di sini," ucap Heri


" Tapi di mana mas," Maya tidak ingin memandang pintu yang tertutup rapat tersebut. Ia merasa dadanya sudah mulai sesak, Ia sudah mulai kesulitan untuk berbicara . air matanya sudah mulai berlinang. Heri menyuruh nya untuk duduk.


" Mas mohon agar kamu bisa kuat Rio sedang ditangani di dalam," ucap Heri.


Maya sudah tidak mampu mendengarkan apa-apa. ia merasa dunia nya sudah roboh.


namun Ia berusaha untuk tetap bertahan walau bagaimana pun Ia ingin mengetahui kondisi calon suami nya. Ia tidak ingin meninggalkan Rio sendiri di dalam ruang tersebut.


"Ada apa bi?" tanya Anita saat ia sudah berada di rumah sakit dan duduk di sebelah putranya.


" Rio di tembak mi," jawabnya.


" Bagaimana bisa?" tanya Anita.


"Sewaktu kami baru keluar dari hotel setelah bertemu klien mi, tiba-tiba saja ada seseorang yang memakai motor berhenti di depan kami. Ia menembak dengan jarak yang sangat dekat. " ucap Habibi


" Apa ada yang kamu curigai?"


tanya Anita.


" Gak ada mi, jawab nya.


sudah lebih 3 jam Rio di tangani di dalam


belum ada tanda-tanda operasi akan selesai.


Anita duduk di sebelah Maya. tangannya memeluk tubuh gadis yang terlihat begitu rapuh tersebut.


" Ibu yakin Rio akan baik-baik saja saat ini ia sudah di tangani Dokter-Dokter terbaik. ," ucap Anita yang berusaha untuk menenangkan Maya.

__ADS_1


Maya mengangukan kepalanya.


setelah 4 jam operasi baru selesai. Wahyudi dan Dokter Adit keluar dari ruangan tersebut.


" Bagaimana yud?" tanya Anita.


" Masih keritis, untuk sementara pasien akan kita pindahkan ke ruang ICU.


" Apa saya boleh melihatnya," tanya Maya.


" Pasien baru bisa di jenguk bila sudah di ruang ICU. ucap Wahyudi.


" Maya kembali duduk di tempat semula,"


cukup lama Maya duduk di depan ruang operasi tersebut.


Maya mengikuti perawat yang mendorong tepat tidur Rio, air matanya semakin deras mengalir, ia melihat wajah pucat pria yang di cintai nya. perawat tersebut berhenti di depan pintu kamar ICU. mereka melarang Maya untuk masuk. Maya hanya memandang Rio dari celah pintu kaca tersebut. Ia melihat begitu banyak alat yang di pasang di tubuh pria tersebut.


Maya hanya berdiri diam di depan pintu ruang ICU namun mata nya hanya tertuju ke arah sosok yang terbaring di atas tempat tidur.


Heri dan rekannya yang lain, tidak tega melihat calon istri sahabatnya.


Habibi hanya mampu menundukkan kepalanya tanpa mau memandang ke arah Maya. Ia tidak tega melihat nya.


***


" Apa informasi yang di dapat dari kantor polisi," ucap Habibi saat Ia menghubungi orang di sebelah sana.


" Masih belum ada petunjuk pak", Jawab Rasid.


" Saya ingin secepatnya kasus ini terungkap,"


ucapnya.


" Tidak ada yang di curigai pak,. polisi masih melakukan penyelidikan," Ucap Rasid.


" Saya tunggu informasi Like komen dan votenya nya kasihan nih si author dah capek mikir," ucap Habibi.


*****


author usahakan up malam untuk episode 218


terimakasih atas dukungan nya.


😊😊😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2